Sep 13, 2026
Hukum

TEHERAN — Kelompok Hardliner Iran Gagalkan Peluang Damai dengan Trump

Di balik dinding benteng pertahanan Teheran yang dingin dan dijaga ketat oleh Pasukan Pengawal Kehormatan, sebuah pertarungan politik senyap sedang berkeca

TEHERAN — Kelompok Hardliner Iran Gagalkan Peluang Damai dengan Trump

Di balik dinding benteng pertahanan Teheran yang dingin dan dijaga ketat oleh Pasukan Pengawal Kehormatan, sebuah pertarungan politik senyap sedang berkecamuk. Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, melangkah ke panggung kekuasaan dengan janji pragmatis: memulihkan ekonomi negara yang hancur dan membuka kembali celah dialog yang tertutup dengan Barat. Namun, lorong-lorong kekuasaan di Republik Islam itu menyimpan rahasia kelam. Sebelum janji diplomasi itu sempat berembus menjadi kesepakatan nyata, faksi konservatif radikal—kelompok hard-liner—bergerak cepat meretas dan menghancurkan setiap peluang kesepakatan damai dengan pemerintahan Donald Trump.

Investigasi mendalam menunjukkan bahwa gagasan kompromi bukanlah hal yang populer di lingkaran dalam rezim Teheran. Ketika Pezeshkian mencoba menyusun narasi moderat untuk menggaet kembali investasi asing dan melonggarkan sanksi minyak, para komandan Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) dan loyalis garis keras justru meluncurkan serangkaian manuver politik dan militer yang provokatif. Langkah ini dirancang khusus untuk memastikan bahwa pintu dialog dengan Washington terkunci rapat dari dalam.

Celah Diplomasi yang Retak Sebelum Berkembang

Upaya awal untuk merintis jalur belakang (backchannel diplomacy) sebenarnya sempat menunjukkan sinyal positif. Beberapa pejabat Kementerian Luar Negeri Iran secara rahasia menjajaki kemungkinan pembicaraan mengenai pembatasan pengayaan uranium sebagai imbalan atas penghentian sanksi ekonomi. Lebih dari 60 persen rakyat Iran saat ini hidup di bawah garis kemiskinan akibat inflasi melipatganda yang dipicu oleh sanksi berat AS sejak Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA pada tahun 2018.

Namun, faksi garis keras memandang setiap bentuk kompromi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap ideologi revolusi 1979. Seorang mantan diplomat senior Iran yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan betapa cepatnya faksi radikal ini menjegal langkah sang presiden baru:

"Pezeshkian menginginkan stabilitas agar minyak kembali mengalir. Namun bagi kelompok garis keras, ketegangan konstan dengan Amerika Serikat adalah sumber kekuasaan dan bisnis utama mereka. Mereka tidak menginginkan perdamaian jika itu berarti kehilangan kendali atas narasi ketahanan nasional," ujar sumber tersebut.

Sabotase Berkedip Retorika dan Dokumen Rahasia

Strategi sabotase yang dilakukan faksi hard-liner tidak hanya terbatas pada retorika keras di media publik, tetapi juga mencakup tindakan langsung di lapangan. Hanya beberapa hari setelah sinyal positif dikirimkan ke tim transisi Trump, faksi radikal menginstruksikan peningkatan pengayaan uranium hingga level 60 persen murni di fasilitas bawah tanah Natanz dan Fordow. Sebuah ambang batas teknis yang sangat dekat dengan senjata nuklir tingkat militer (90 persen).

Berikut adalah peta dinamika kekuatan internal yang memicu kebuntuan diplomasi di Teheran:

Aspek Analisis Faksi Pragmatis (Pezeshkian) Faksi Hard-liner (IRGC & Loyalis)
Fokus Utama Pemulihan Ekonomi & Sanksi Kedaulatan Ideologi & Kekuatan Militer
Pendekatan Nuklir Pembatasan Transparan demi Akses Pasar Peningkatan Pengayaan sebagai Alat Penekan
Relasi dengan AS Negosiasi Pragmatis Pembatasan Senjata Penolakan Total & Konfrontasi Tidak Langsung

Selain peningkatan aktivitas nuklir, dokumen internal yang bocor menunjukkan bahwa faksi garis keras sengaja menyebarkan tuduhan kecurangan dan konspirasi terhadap tim diplomatik Pezeshkian. Mereka menggunakan media milik negara untuk melabeli para perunding moderat sebagai "agen kelemahan" yang siap menjual harga diri bangsa kepada Washington.

Dampak Panjang Bagi Masa Depan Kawasan

Akibat tindakan destruktif kelompok garis keras ini, prospek perundingan baru antara Iran dan AS kini berada di titik terendah. Donald Trump, yang kembali menegaskan posisi kerasnya melalui kebijakan penekanan maksimum (Maximum Pressure 2.0), merespons pengetatan posisinya dengan mengancam sanksi sekunder yang lebih intensif terhadap pembeli minyak Iran di Asia.

Bagi rakyat Iran, sabotase politik internal ini berarti penderitaan ekonomi yang berkepanjangan. Kesempatan emas untuk menghentikan isolasi internasional lenyap dilahap ambisi kekuasaan faksi radikal. Seperti yang diungkapkan oleh pengamat politik Timur Tengah dari Teheran, "Pezeshkian mungkin memegang stempel kepresidenan, tetapi kunci menuju perdamaian tetap dipegang erat oleh mereka yang memegang senjata."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User