Sep 13, 2026
Hukum

KTT BRICS — India, Tiongkok, dan Rusia Perkuat Aliansi Ekonomi Global

Di tengah kepungan krisis geopolitik dan disrupsi rantai pasok global, ruang konferensi puncak BRICS berubah menjadi panggung diplomasi tingkat tinggi yang

KTT BRICS — India, Tiongkok, dan Rusia Perkuat Aliansi Ekonomi Global

Di tengah kepungan krisis geopolitik dan disrupsi rantai pasok global, ruang konferensi puncak BRICS berubah menjadi panggung diplomasi tingkat tinggi yang menentukan arah tatanan dunia baru. Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin duduk bersama dalam rangkaian dialog intensif untuk memetakan ulang kekuatan ekonomi yang selama ini didominasi oleh blok Barat. Kehadiran Presiden Iran Masoud Pezeshkian kian menegaskan bahwa aliansi poros timur ini semakin solid menghadapi tekanan sanksi serta gejolak politik internasional.

Modi secara terbuka menyerukan penguatan kolaborasi antar-anggota untuk menghadapi ketidakpastian global. Menurutnya, kekuatan utama kelompok ini tidak terletak pada keseragaman sistem politik, melainkan pada kapasitas mereka untuk bergerak bersama di tengah perbedaan realitas domestik masing-masing negara.

Poros Raksasa: Bobot Ekonomi dan Demografi BRICS

Investigasi atas konstelasi ekonomi global menunjukkan bahwa ekspansi dan konsolidasi BRICS bukan lagi sekadar wacana diplomasial semata. Data agregat membuktikan bahwa aliansi negara-negara berkembang ini memegang kendali atas porsi vital sumber daya dunia, yang menjadikannya kekuatan tandingan utama terhadap dominasi lembaga-lembaga keuangan berbasis Barat.

Indikator Global Kontribusi Blok BRICS
Populasi Dunia 50 Persen
Produk Domestik Bruto (PDB) Global 40 Persen
Perdagangan Global Lebih dari 25 Persen
"Kekuatan BRICS terletak pada keberagaman dan kerja sama kita. Kita mungkin berakar pada realitas yang berbeda, namun bersama-sama kita bangkit melalui kolaborasi dan berkembang demi kemanusiaan," tegas Narendra Modi di hadapan para pemimpin negara anggota.

Navigasi Konflik Timur Tengah dan Senjata Diplomasi

Dinamika KTT sempat memanas pada hari pertama ketika isu ketegangan di Timur Tengah menyita perhatian penuh. Keretakan diplomatik sempat terjadi pada pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri di New Delhi sebelumnya, di mana perselisihan pandangan antara Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menghambat lahirnya konsensus terkait eskalasi militer yang dipicu serangan AS-Israel sejak akhir Februari.

Namun, lobi diplomatik intensif yang diprakarsai tuan rumah India berhasil menjembatani perbedaan tersebut. Konsensus akhirnya tercapai dalam bentuk resolusi bersama yang menyerukan penghentian aksi kekerasan.

"Kami menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dan West Asia. Negara-negara BRICS mendesak seluruh pihak untuk menahan diri secara maksimal," tulis Pernyataan Bersama KTT BRICS.

Pilihan sikap diplomasi New Delhi menjadi bahan analisis mendalam para pengamat internasional. Modi terbukti mampu memainkan peran ganda yang sangat rumit: menjaga hubungan hangat dengan Teheran sekaligus memelihara aliansi strategis dengan Washington dan Tel Aviv. Di sisi lain, untuk mengamankan ketahanan energi dalam negeri dari dampak perang AS-Iran, India tanpa ragu meningkatkan impor minyak dari Rusia, mengabaikan tekanan dan sanksi dari Washington.

Pencairan Hubungan Beijing-New Delhi dan Masa Depan Aliansi

Momen penting lain yang mewarnai puncak pertemuan ini adalah kehadiran Presiden Tiongkok Xi Jinping. Langkah ini mencatatkan sejarah sebagai kunjungan perdana Xi ke India sejak 2019, sekaligus menjadi sinyal paling kuat terjadinya pencairan hubungan bilateral setelah bertahun-tahun dilanda ketegangan perbatasan.

Guna mencapai pertumbuhan yang inklusif, BRICS menyepakati sejumlah prioritas strategi bersama:

  • Penguatan Ketahanan Energi: Membangun mekanisme perdagangan komoditas yang mandiri dari tekanan mata uang Barat.
  • Diversifikasi Rantai Pasok: Mengurangi ketergantungan pada jalur logistik tunggal yang rentan terhadap sanksi sepihak.
  • Reformasi Lembaga Multilateral: Mendorong peran lebih besar bagi negara berkembang dalam pengambilan keputusan ekonomi global.

Melalui konsensus ini, BRICS menegaskan posisinya bukan sekadar blok dialog, melainkan platform pragmatis untuk memulihkan stabilitas perdagangan dan menjaga kedaulatan ekonomi anggotanya di tengah lanskap geopolitik yang kian terfragmentasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User