Teh Daun Kopi Sedesa Pacu Kemandirian Ekonomi Desa Toyomarto

Desa Toyomarto di Kabupaten Malang kini memiliki produk unggulan baru yang berpotensi mengubah wajah perekonomian warganya. Melalui program pemberdayaan yang digagas oleh mahasiswa Universitas Brawija...

Jul 27, 2026 - 23:34
0 3
Teh Daun Kopi Sedesa Pacu Kemandirian Ekonomi Desa Toyomarto

Desa Toyomarto di Kabupaten Malang kini memiliki produk unggulan baru yang berpotensi mengubah wajah perekonomian warganya. Melalui program pemberdayaan yang digagas oleh mahasiswa Universitas Brawijaya, limbah daun kopi yang selama ini terbuang sia-sia berhasil diolah menjadi teh herbal bernama Sedesa. Produk ini bukan sekadar inovasi kuliner, melainkan langkah strategis menuju kemandirian ekonomi desa.

Latar Belakang dan Potensi Lokal

Mayoritas lahan pertanian di Toyomarto merupakan perkebunan kopi. Selama ini, petani hanya memanfaatkan biji kopi sebagai komoditas utama, sementara daunnya dibiarkan rontok atau dibakar. Padahal, daun kopi mengandung senyawa polifenol dan antioksidan yang tinggi, potensial untuk dikembangkan menjadi minuman fungsional. Kondisi inilah yang mendorong tim pengabdi dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, yang tergabung dalam wadah Himalogista, untuk meluncurkan Program Gema Desa.

Program yang berlangsung selama enam bulan ini secara intensif mendampingi kelompok tani dan ibu-ibu PKK dalam mengelola daun kopi menjadi teh seduh premium. Pendekatan partisipatif diterapkan agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan pelaku utama dalam seluruh rantai produksi.

Proses Produksi dan Kualitas Produk

Proses pengolahan Teh Sedesa dimulai dari pemetikan daun kopi tua yang sehat, lalu melalui tahapan pelayuan, penggulungan, fermentasi oksidatif, pengeringan, hingga pengemasan. Metode ini mirip dengan pengolahan teh hitam pada umumnya, namun diadaptasi sedemikian rupa sesuai karakteristik daun kopi lokal. Hasilnya, tercipta teh dengan cita rasa unik yang lembut, sedikit manis alami, dan tidak pahit. Dalam satu kali produksi, kelompok mampu mengolah sekitar 80 kilogram daun segar menjadi 20 kilogram teh kering per minggunya.

Standar mutu dijaga ketat mulai dari kebersihan alat, kadar air akhir di bawah 5 persen, hingga uji organoleptik. Kemasan produk pun didesain menarik dengan sentuhan visual khas pedesaan, lengkap dengan label izin edar P-IRT yang telah diurus melalui pendampingan tim. Saat ini, satu kemasan berisi 40 gram teh dijual seharga Rp25.000, baik melalui penjualan langsung, pameran UMKM, maupun platform digital.

Dampak Ekonomi Langsung

Kehadiran Teh Sedesa memberi dampak ekonomi yang langsung terasa. Sebelum program, pendapatan rumah tangga petani sepenuhnya bergantung pada harga jual kopi biji yang fluktuatif. Kini, daun kopi yang semula bernilai nol justru menjadi sumber pemasukan tambahan. Setiap bulan, omzet penjualan teh daun kopi mencapai rata-rata Rp15 juta, dengan margin keuntungan bersih sekitar 40 persen. Dana tersebut dikelola secara transparan oleh koperasi desa dan dialokasikan kembali untuk pengembangan usaha serta kebutuhan bersama.

Tidak hanya laki-laki, kaum perempuan di dusun pun kini memiliki akses penghasilan. Ibu-ibu yang sebelumnya hanya mengurus rumah tangga, kini aktif dalam proses produksi dan pengemasan dengan sistem upah harian. Rerata mereka memperoleh tambahan penghasilan Rp1,2 juta per bulan, angka yang signifikan untuk skala perdesaan. Dengan demikian, program ini turut memperkuat kesetaraan ekonomi antara gender.

Dukungan dan Keberlanjutan

Pemerintah Desa Toyomarto menyambut baik inisiatif ini dan menganggarkan dana desa untuk pembangunan rumah produksi sederhana serta pengadaan mesin pengering otomatis. BUMDes setempat kini berperan sebagai distributor resmi Teh Sedesa ke kota-kota sekitar Malang, Batu, hingga Surabaya. Kemitraan dengan kafe lokal dan kedai kopi juga mulai dijalin, membuka pasar yang lebih luas.

Dari sisi kelembagaan, kelompok usaha yang diberi nama Makmur Daun Mandiri telah memiliki badan hukum resmi, sehingga lebih mudah mengakses permodalan dan program pemerintah. Mereka pun rutin mengikuti pembinaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang untuk peningkatan kapasitas manajemen dan pemasaran digital.

Tantangan dan Proyeksi

Meski menunjukkan perkembangan positif, beberapa tantangan masih perlu diatasi. Konsistensi pasokan daun kopi sangat bergantung pada musim panen, sehingga produksi sempat menurun saat musim kemarau panjang. Selain itu, persaingan di pasar teh herbal yang semakin ramai menuntut diferensiasi produk yang lebih kuat. Tim pengabdi merekomendasikan diversifikasi varian rasa, seperti teh daun kopi dengan campuran rempah jahe atau kayu manis, untuk memperluas segmen konsumen.

Ke depan, proyeksi menunjukkan bahwa jika kapasitas produksi ditingkatkan menjadi dua kali lipat dan jaringan pemasaran diperluas, omzet bulanan berpotensi menembus Rp30 juta dalam waktu satu tahun. Hal ini akan semakin memperkokoh fondasi ekonomi desa dan mengurangi ketergantungan pada komoditas tunggal. Program Gema Desa juga berencana mereplikasi model serupa di desa tetangga yang memiliki potensi perkebunan kopi.

Dengan semangat gotong royong dan inovasi yang tepat guna, Desa Toyomarto membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bukanlah sekadar wacana. Teh daun kopi Sedesa telah menjadi simbol bahwa kekuatan lokal mampu bersaing di kancah yang lebih luas, memberdayakan masyarakat dari akar rumput.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User