Aug 25, 2026
Bisnis

Tarif 15 Persen Polisilikon ala Trump Bidik Dominasi China

Berdasarkan data US International Trade Commission (USITC) dan laporan industri per Agustus 2026, China menguasai sekitar 85 persen kapasitas produksi polisilikon dunia, yakni material silikon berkemu...

Tarif 15 Persen Polisilikon ala Trump Bidik Dominasi China

Berdasarkan data US International Trade Commission (USITC) dan laporan industri per Agustus 2026, China menguasai sekitar 85 persen kapasitas produksi polisilikon dunia, yakni material silikon berkemurnian tinggi yang menjadi bahan baku utama semikonduktor sekaligus panel surya. Kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang menetapkan tarif impor sebesar 15 persen terhadap komoditas tersebut menempatkan Beijing sebagai sasaran utama dan berpotensi mengubah peta rantai pasok energi terbarukan global.

Secara fundamental, polisilikon merupakan tulang punggung industri fotovoltaik, istilah teknis untuk teknologi yang mengubah cahaya matahari menjadi listrik. Harga komoditas ini sempat menembus US$30 per kilogram pada 2022 sebelum melandai ke kisaran US$6 hingga US$8 per kilogram pada 2024 akibat kelebihan pasokan dari pabrikan China. Tren penurunan harga tersebut memang menguntungkan konsumen, tetapi menekan margin produsen di luar China hingga sebagian terpaksa menghentikan operasi.

Dampak terhadap Rantai Pasok Global

Di satu sisi, tarif 15 persen memperbaiki posisi tawar produsen dalam negeri Amerika Serikat yang selama ini kesulitan bersaing secara harga. Sejumlah fasilitas produksi di negara bagian seperti Michigan dan Washington dilaporkan kembali beroperasi mendekati kapasitas penuh, ditopang insentif Inflation Reduction Act senilai US$369 miliar untuk manufaktur energi bersih. Kebijakan ini juga sejalan dengan strategi reshoring, yakni menarik kembali aktivitas produksi ke dalam negeri demi mengurangi ketergantungan impor.

Di sisi lain, kenaikan bea masuk berisiko membuat biaya produksi modul surya di AS mengalami kenaikan 8 hingga 12 persen dalam setahun ke depan. Padahal, asosiasi industri setempat mencatat instalasi pembangkit listrik tenaga surya tumbuh 21 persen year-on-year pada 2025. Kenaikan biaya bahan baku dikhawatirkan memperlambat tren tersebut, menunda sejumlah proyek berskala besar, dan pada akhirnya membebani target dekarbonisasi sektor kelistrikan.

Pro dan Kontra di Tengah Sentimen Pasar

Dari sisi pro, proteksi tarif memberi ruang bagi industri hulu dalam negeri untuk melakukan penambahan kapasitas tanpa harus berhadapan dengan praktik harga agresif dari luar negeri. Rasio utang terhadap ekuitas produsen domestik yang sempat memburuk juga berpeluang membaik seiring menguatnya valuasi perusahaan manufaktur energi bersih di bursa AS.

Adapun dari sisi kontra, ekonom menilai tarif pada hakikatnya adalah pajak yang sebagian besar ditanggung konsumen domestik. Risiko retaliasi dari China, misalnya pembatasan ekspor mineral kritis seperti galium dan germanium, dapat memicu guncangan baru di rantai pasok semikonduktor. Sentimen pasar pun cenderung berhati-hati; indeks saham sektor terbarukan global tercatat mengalami penurunan 2,3 persen dalam sepekan setelah pengumuman, disertai indikasi capital outflow dari sejumlah emiten energi hijau.

Proteksionisme di sektor energi hijau selalu menghadirkan trade-off: penguatan industri domestik dalam jangka pendek berhadapan dengan potensi perlambatan adopsi teknologi akibat kenaikan biaya. Efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan kapasitas pengganti terbentuk, demikian catatan analisis sejumlah ekonom perdagangan internasional.

Implikasi bagi Indonesia dan Proyeksi ke Depan

Bagi Indonesia, kebijakan ini membuka sekaligus menutup peluang. Di satu sisi, produsen global yang mencari alternatif di luar China dapat melirik Asia Tenggara sebagai basis produksi baru. Indonesia memiliki cadangan pasir kuarsa sebagai bahan baku silikon yang melimpah, sementara RUPTL PLN 2025 hingga 2034 menargetkan penambahan kapasitas PLTS hingga 17,1 gigawatt. Kombinasi keduanya berpotensi menarik investasi hulu industri surya ke dalam negeri.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 90 persen modul surya yang beredar di Indonesia masih berasal dari impor dengan China sebagai pemasok dominan. Tanpa instrumen perlindungan yang memadai, potensi banjir produk panel surya China yang kehilangan pasar AS dapat menghambat pengembangan industri modul domestik yang baru tumbuh, sekaligus menekan pencapaian target tingkat komponen dalam negeri sebesar 40 persen.

Ke depan, proyeksi pasar akan sangat bergantung pada dua variabel: respons kebijakan China dan kecepatan pembangunan kapasitas polisilikon di luar negeri. Jika eskalasi berlanjut, likuiditas di sektor terbarukan berpotensi mengetat dan investor cenderung menata ulang portofolio ke aset yang lebih defensif. Sebaliknya, bila rantai pasok berhasil terdiversifikasi, harga panel surya global diprediksi kembali stabil dalam dua hingga tiga tahun. Bagi pelaku pasar, fokus pada fundamental industri dan diversifikasi risiko tetap menjadi prinsip utama di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User