Susunan Baru Direksi dan Komisaris BRI Hasil RUPSLB 17 Desember 2025

Proses penyegaran jajaran manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali bergulir. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 17 Desember 2025, perseroan ...

Susunan Baru Direksi dan Komisaris BRI Hasil RUPSLB 17 Desember 2025

Proses penyegaran jajaran manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali bergulir. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 17 Desember 2025, perseroan menetapkan susunan direksi dan komisaris terbaru. Keputusan ini menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat tata kelola dan daya saing bank pelat merah tersebut di tengah dinamika sektor perbankan nasional yang kian kompetitif.

Komposisi Kepengurusan Anyar

Berdasarkan hasil RUPSLB, posisi Direktur Utama tetap diamanatkan kepada Sunarso, yang telah memimpin BRI sejak 2019. Sementara itu, jabatan Wakil Direktur Utama kini diisi oleh Andrijanto, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Bisnis Menengah dan Korporasi. Perubahan signifikan terjadi pada jajaran direksi, di antaranya pengangkatan Direktur Digital dan Teknologi Informasi yang baru, seiring dengan fokus perseroan dalam mempercepat transformasi digital. Di sisi dewan komisaris, RUPSLB mengangkat dua komisaris independen baru serta memperpanjang masa jabatan beberapa komisaris lainnya. Dengan susunan ini, total anggota direksi berjumlah 12 orang dan dewan komisaris terdiri dari 8 anggota, termasuk Komisaris Utama dan Komisaris Independen.

Komposisi lengkap direksi terbaru: Direktur Utama Sunarso; Wakil Direktur Utama Andrijanto; Direktur Bisnis Mikro Supari; Direktur Bisnis Kecil dan Menengah Amam Sukriyanto; Direktur Bisnis Menengah dan Korporasi baru; Direktur Keuangan baru; Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko baru; Direktur Jaringan dan Layanan baru; Direktur Digital dan Teknologi Informasi baru; Direktur Human Capital baru; serta Direktur Treasury dan Internasional. Sementara untuk dewan komisaris, Ketua Dewan Komisaris tetap dijabat oleh Kartika Wirjoatmodjo, dengan sejumlah komisaris independen baru.

Dua Sisi Pandangan Analis

Di kalangan analis, penyegaran manajemen ini memunculkan dua perspektif. Di satu sisi, langkah ini dinilai positif karena membawa energi baru untuk mencapai target ambisius perseroan. Hingga kuartal III-2025, BRI membukukan laba bersih Rp48,2 triliun, tumbuh 12,3% secara year-on-year (yoy), dengan penyaluran kredit mencapai Rp1.250 triliun. Kredit segmen mikro dan ultra mikro tetap menjadi tulang punggung, dengan pertumbuhan di atas 10%. Dengan hadirnya direksi baru, terutama di bidang digital, BRI diharapkan mampu memacu pertumbuhan transaksi melalui BRImo yang sudah memiliki lebih dari 35 juta pengguna aktif. “Kami melihat komposisi baru ini cukup representatif untuk mengakselerasi digitalisasi dan memperkuat manajemen risiko di tengah tingginya dinamika suku bunga global,” ujar ekonom senior dari Beritadua.

Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pergantian direksi yang terlalu sering dapat mengganggu kesinambungan program jangka panjang. Sejumlah pengamat menilai, pada 2024–2025, BRI sudah dua kali melaksanakan RUPSLB untuk merombak jajaran direksi, yang berpotensi menimbulkan masa transisi dan adaptasi di internal. Indikator non-performing loan (NPL) gross BRI per September 2025 tercatat sebesar 3,15%, sedikit meningkat dari 2,98% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani manajemen baru agar tidak membebani pencadangan dan profitabilitas.

Respons Pasar dan Proyeksi

Pasar modal merespons beragam hasil RUPSLB tersebut. Sehari setelah pengumuman, saham BBRI ditutup menguat tipis 0,8% ke level Rp4.950 per lembar. Investor ritel tampak menyambut positif adanya direktur digital baru yang diharapkan memperkuat ekosistem digital BRI. Namun, investor institusi cenderung wait and see, mencermati kemampuan direksi anyar dalam mempertahankan pertumbuhan kredit berkualitas sekaligus menekan biaya dana (cost of fund) yang masih di kisaran 2,4%.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2025 menunjukkan, industri perbankan nasional mencatatkan pertumbuhan kredit 10,8% yoy, sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya 6,9%. Hal ini menuntut setiap bank, termasuk BRI, untuk cermat mengelola likuiditas. Dari sisi fundamental, BRI memiliki rasio kecukupan modal (CAR) yang solid, di level 25,4%, memberikan ruang ekspansi lebih luas. Dengan susunan manajemen yang baru, target penyaluran kredit tahun 2026 diproyeksikan tumbuh 11%–13%, didorong oleh segmen UMKM dan kredit konsumer melalui platform digital.

Secara keseluruhan, reshuffle ini adalah upaya BRI untuk merespons lanskap industri yang terus berubah. Meski ada risiko transisi, pasar memberikan kepercayaan bahwa dengan tata kelola yang baik dan strategi tepat, bank dengan aset terbesar di Indonesia ini mampu mempertahankan dominasinya. Dua sisi pandangan tersebut akan teruji dalam kinerja kuartal-kuartal mendatang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User