Brantas Abipraya Bangun Dua Bendungan Strategis untuk Ketahanan Pangan

Pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur sumber daya air sebagai fondasi kemandirian pangan nasional. Pada pekan ini, Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan serentak di berb...

Brantas Abipraya Bangun Dua Bendungan Strategis untuk Ketahanan Pangan

Pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur sumber daya air sebagai fondasi kemandirian pangan nasional. Pada pekan ini, Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan serentak di berbagai provinsi—tiga di antaranya merupakan karya anak bangsa, PT Brantas Abipraya (Persero). Peresmian ini menandai babak baru pengelolaan air yang tidak hanya mengendalikan banjir, tetapi juga memperluas areal tanam dan memperkuat cadangan pangan.

Dua bendungan yang langsung dikerjakan oleh Brantas Abipraya—Bendungan Sidan di Bali dan Bendungan Keureuto di Aceh—menjadi sorotan utama. Keduanya dirancang dengan kapasitas tampung total mencapai 68 juta meter kubik dan mampu mengairi sedikitnya 14.500 hektare lahan pertanian baru. Dengan selesainya proyek ini, Indeks Pertanaman (IP) di wilayah layanan diproyeksikan naik dari rata‑rata 130 menjadi 245, atau nyaris dua kali lipat, sehingga produksi padi dapat meningkat lebih dari 120.000 ton per tahun.

Teknologi Modern Hadapi Tantangan Geologi

Bendungan Sidan yang terletak di Kabupaten Badung memiliki tinggi 58 meter dan tipe urugan batu dengan inti tanah liat. Tantangan terbesar adalah kondisi geologi setempat yang banyak mengandung retakan sehingga rawan rembesan. Brantas Abipraya menerapkan sistem curtain grouting dua baris sedalam 45 meter dan memasang piezometer digital untuk memantau tekanan pori secara real‑time. Sementara itu, Bendungan Keureuto di Aceh Utara dibangun setinggi 64 meter dengan pendekatan roller‑compacted concrete (RCC) yang mempersingkat waktu pelaksanaan. Teknologi ini mengurangi kebutuhan pengangkutan material basah dan menekan emisi karbon hingga 18% dibanding metode konvensional.

Kedua bendungan juga dilengkapi sistem hidromekanikal otomatis yang mengontrol bukaan pintu sesuai tinggi muka air dan prediksi curah hujan dari satelit. Integrasi dengan sensor early warning memungkinkan pengelola waduk mengosongkan tampungan secara bertahap saat badai tropis terdeteksi, meminimalkan risiko banjir di hilir.

Dampak Langsung pada Ekonomi Masyarakat

Pembangunan bendungan bukan sekadar proyek sipil, melainkan penggerak ekonomi lokal. Selama masa konstruksi, Brantas Abipraya menyerap lebih dari 2.700 tenaga kerja dari desa sekitar. Setelah operasional, hidropower mini di Bendungan Sidan menghasilkan listrik 0,8 megawatt yang dialirkan ke jaringan PLN, sementara area genangan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata terintegrasi dengan budidaya ikan keramba jaring apung. Data sementara dari Kementerian PU menunjukkan bahwa pendapatan rata‑rata rumah tangga petani di lingkar bendungan naik 35% dalam dua musim tanam pertama pascapengisian waduk.

Di Aceh, Bendungan Keureuto menyediakan air baku 0,7 meter kubik per detik untuk PDAM setempat. Ini mengurangi biaya operasional perusahaan air daerah hingga Rp4,2 miliar per tahun, yang kemudian dikonversi menjadi subsidi tarif bagi 42.000 sambungan rumah. “Sebelum ada bendungan, kami mengandalkan pompa sungai yang boros listrik. Sekarang air mengalir gravitasi dan mutunya lebih jernih,” ujar Hasanuddin, Kepala Desa Cot Girek yang warganya menjadi penerima manfaat langsung.

Menjaga Lingkungan dan Keberlanjutan

Komitmen Brantas Abipraya pada infrastruktur berkelanjutan tampak dari langkah konservasi yang melebihi ketentuan. Di kedua bendungan, perusahaan menanam lebih dari 200.000 bibit pohon produktif—durian, mangga, dan alpukat—bersama kelompok tani setempat. Tumbuhan ini sekaligus berfungsi menahan laju sedimentasi waduk. Peneliti IPB yang memantau tutupan lahan mencatat indeks vegetasi di catchment area naik dari 0,32 menjadi 0,57 dalam kurun tiga tahun. Selain itu, Brantas Abipraya membangun dua instalasi pengolahan air limbah komunal di sekitar tapak agar limbah domestik tidak langsung masuk ke waduk.

Dari sisi tata kelola, bendungan menerapkan skema water‑energy‑food nexus yang memastikan alokasi air untuk irigasi, pembangkit listrik, dan kebutuhan domestik berjalan seimbang. Musyawarah tahunan antara pemerintah daerah, Perum Jasa Tirta, dan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) menjadi forum menetapkan pola tanam dan jadwal tanam yang adaptif terhadap proyeksi iklim dari BMKG. Skema ini terbukti meminimalkan konflik air yang dulu kerap terjadi saat musim kemarau panjang.

Dengan rampungnya Bendungan Sidan dan Keureuto, Indonesia kini memiliki 27 bendungan strategis yang dibangun sejak 2015. Brantas Abipraya menegaskan akan terus berinvestasi pada riset material lokal—seperti fly ash dan bottom ash sebagai pengganti semen—agar bendungan berikutnya semakin rendah karbon. “Kami melihat air bukan hanya sumber kehidupan, tetapi pilar utama kedaulatan pangan nasional,” demikian pernyataan resmi manajemen. Peresmian kelima bendungan oleh Presiden menjadi sinyal kuat bahwa modernisasi irigasi adalah jalan utama mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User