Suku Bunga Tinggi Himpit Sektor Riil, Pelaku Usaha Meradang

JAKARTA — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang bertahan di level 6,25 persen sejak April 2024 terus memberikan tekanan signifikan terhadap sektor riil tanah air. Pelaku usaha dari berbag

Jul 23, 2026 - 06:38
0 0
Suku Bunga Tinggi Himpit Sektor Riil, Pelaku Usaha Meradang

JAKARTA — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang bertahan di level 6,25 persen sejak April 2024 terus memberikan tekanan signifikan terhadap sektor riil tanah air. Pelaku usaha dari berbagai lini, mulai dari industri manufaktur hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai merasakan dampak langsung berupa peningkatan biaya modal dan penurunan daya beli konsumen. Data terkini menunjukkan bahwa perlambatan aktivitas ekonomi di sektor riil menjadi kekhawatiran utama pemerintah dan kalangan pengusaha.

Tekanan Biaya Modal dan Likuiditas

Kebijakan moneter yang ketat, yang bertujuan untuk mengendalikan inflasi dan menstabilkan nilai tukar rupiah, secara langsung meningkatkan biaya pinjaman perbankan. Suku bunga kredit investasi dan modal kerja rata-rata naik menjadi sekitar 9-10 persen per tahun. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat bahwa peningkatan ini memaksa banyak perusahaan untuk menunda ekspansi usaha dan mengurangi kapasitas produksi. "Pelaku usaha kesulitan mendapatkan pembiayaan yang murah. Akibatnya, proyek investasi baru banyak yang ditunda, dan yang sudah berjalan terhambat," ujar Wakil Ketua Umum Kadin, Suryani Motik, dalam sebuah diskusi ekonomi pekan lalu. Hal ini diperparah dengan ketatnya likuiditas perbankan yang membuat proses pengajuan kredit semakin selektif.

Daya Beli Masyarakat Tergerus

Dampak berantai dari suku bunga tinggi juga terasa pada konsumsi rumah tangga. Kenaikan suku bunga kredit konsumsi, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB), memaksa masyarakat untuk menunda pembelian barang-barang tahan lama. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia pada September 2024 menunjukkan penurunan tipis ke level 123,5, mengindikasikan optimisme yang mulai meredup. Sektor properti dan otomotif menjadi dua sektor yang paling terpukul. Asosiasi Pengembang Perumahan (APERSI) melaporkan penurunan penjualan rumah sebesar 15 persen secara tahunan, sementara penjualan mobil nasional juga mengalami kontraksi. "Konsumen menahan diri untuk mengambil kredit karena cicilan yang membengkak," jelas Ketua APERSI, Junaidi Abdillah.

UMKM Paling Rentan Terdampak

Di level yang lebih rendah, sektor UMKM menjadi pihak yang paling rentan. Dengan margin keuntungan yang tipis, kenaikan suku bunga pinjaman langsung menggerus modal kerja mereka. Banyak pelaku UMKM yang memilih untuk tidak memperbarui pinjaman atau bahkan mengurangi jumlah tenaga kerja. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa pertumbuhan kredit UMKM melambat menjadi hanya 8 persen pada semester pertama 2024, turun dari 12 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. "Kami berharap ada kebijakan stimulus atau program kredit bersubsidi yang lebih masif untuk membantu UMKM bertahan," pinta Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia, Edy Misero.

Prospek ke Depan dan Harapan Pelaku Usaha

Meskipun Bank Indonesia memberi sinyal akan mulai melonggarkan kebijakan moneter pada akhir tahun 2024, pelaku usaha berharap penurunan suku bunga dapat dilakukan lebih cepat untuk meredam dampak negatif yang lebih dalam. Pemerintah diimbau untuk mengoptimalkan instrumen fiskal, seperti insentif pajak dan bantuan sosial, untuk menopang daya beli masyarakat. "Kami berharap ada sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal agar sektor riil bisa kembali bergairah," pungkas Suryani Motik. Para ekonom memprediksi bahwa jika suku bunga tidak segera diturunkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2024 berpotensi melambat di bawah 5 persen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User