Oct 05, 2026
Bisnis

Solidaritas di Tengah Tekanan Biaya Hidup

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Agustus 2025, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,12% secara year-on-year pada triwulan II 2025. Namun, di bali...

Solidaritas di Tengah Tekanan Biaya Hidup

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Agustus 2025, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,12% secara year-on-year pada triwulan II 2025. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, tekanan terhadap daya beli masyarakat masih terus berlangsung. Hal ini terlihat dari laju inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu) yang mencapai 2,37% year-on-year pada Juli 2025. Meskipun angka ini masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami kenaikan yang jauh lebih tinggi, yaitu 4,55% year-on-year. Kondisi ini menjadi latar belakang munculnya berbagai bentuk solidaritas masyarakat guna membantu kelompok yang paling terdampak oleh tekanan biaya hidup.

Tren Daya Beli dan Ketimpangan Tekanan Ekonomi

Di satu sisi, fundamental (kondisi dasar perekonomian yang berpengaruh jangka panjang) ekonomi Indonesia masih terjaga. Proyeksi pertumbuhan PDB oleh berbagai lembaga internasional masih berada pada kisaran 4,9% hingga 5,2% untuk tahun 2025. Selain itu, rasio (perbandingan antarangka ekonomi untuk mengukur kondisi tertentu) utang pemerintah terhadap PDB masih terjaga di bawah 40%, yang menunjukkan ruang fiskal (kemampuan keuangan pemerintah untuk membiayai kegiatan) yang relatif aman. Kondisi ini menjadi bantalan bagi stabilitas makroekonomi secara keseluruhan. Namun, stabilitas makro ini tidak serta merta dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di sisi lain, tren penurunan daya beli masih menjadi kenyataan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Berdasarkan data BPS, indeks (ukuran statistik untuk menggambarkan perubahan harga atau nilai) harga konsumen untuk kelompok berpendapatan terbawah mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan kelompok menengah atas. Hal ini disebabkan oleh porsi pengeluaran yang jauh lebih besar terhadap kebutuhan pokok, seperti beras, telur, cabai, dan minyak goreng. Ketika harga komoditas ini mengalami kenaikan, rumah tangga miskin harus mengurangi konsumsi barang lain atau mencari alternatif untuk bertahan. Dengan demikian, meski inflasi secara umum terkendali, distribusi tekanan harga justru tidak merata di seluruh masyarakat.

Sentimen Pasar, Likuiditas, dan Dampak Jangka Menengah

Dari perspektif pasar keuangan, sentimen pasar (persepsi dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi) terhadap Indonesia masih relatif stabil. Arus modal asing atau capital outflow (keluarnya dana asing dari pasar domestik) masih terbatas, dengan aliran masuk bersih ke pasar obligasi pemerintah yang masih tercatat positif hingga Agustus 2025. Selain itu, likuiditas (ketersediaan dana yang mudah digunakan di pasar) perbankan masih dalam kondisi memadai, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) industri perbankan yang berada di atas 26%, jauh melampaui ketentuan minimum OJK. Kondisi ini menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung kelancaran pembiayaan perekonomian.

Namun, stabilitas pasar keuangan ini perlu dibedakan dengan kondisi riil (kegiatan ekonomi nyata, seperti konsumsi, produksi, dan lapangan kerja) masyarakat. Ketika biaya hidup meningkat, konsumsi rumah tangga dapat mengalami penurunan, yang pada akhirnya berdampak terhadap pertumbuhan sektor riil. Penurunan konsumsi ini juga dapat memengaruhi valuasi (penilaian terhadap nilai suatu aset atau prospek usaha) sektor-sektor yang bergantung pada permintaan domestik. Oleh karena itu, proyeksi pertumbuhan konsumsi rumah tangga untuk tahun 2025 diperkirakan hanya akan mengalami kenaikan terbatas, meski didukung oleh berbagai program bantuan sosial yang telah digulirkan pemerintah.

Solidaritas Sebagai Refleksi Kebutuhan Kebijakan

Di satu sisi, munculnya inisiatif solidaritas dari masyarakat untuk membantu sesama merupakan bukti kuatnya nilai kebersamaan yang telah lama melekat di Indonesia. Tindakan ini mampu menjadi jaring pengaman informal (bantuan yang berasal dari masyarakat, bukan lembaga formal) yang berperan penting, terutama bagi kelompok yang belum sepenuhnya terjangkau oleh program bantuan pemerintah. Keberadaan jaring pengaman informal ini juga dapat membantu menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Di sisi lain, ketergantungan berlebihan terhadap solidaritas masyarakat tidak dapat menjadi solusi jangka panjang terhadap masalah biaya hidup. Jaring pengaman informal bersifat sukarela, tidak terstandarisasi, dan tidak memiliki cakupan yang luas untuk menjangkau seluruh kelompok rentan di Indonesia. Selain itu, beban untuk membantu sesama seharusnya tidak semata-mata berada di pundak masyarakat, melainkan juga menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan untuk menjaga daya beli, khususnya melalui pengendalian harga kebutuhan pokok, perluasan jaring pengaman sosial yang tepat sasaran, serta peningkatan produktivitas rumah tangga berpenghasilan rendah.

"Tekanan biaya hidup yang tidak merata merupakan sinyal bahwa stabilitas makro perlu diimbangi dengan kebijakan yang lebih fokus pada kesejahteraan riil masyarakat. Tanpa itu, pertumbuhan angka PDB bisa saja tidak terasa oleh mereka yang paling membutuhkan."

Secara keseluruhan, fenomena solidaritas yang muncul di tengah tekanan biaya hidup menjadi cerminan nyata dari dua realitas yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat dan pasar keuangan yang stabil. Di sisi lain, daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, masih terus mengalami tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan perlindungan terhadap daya beli, agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User