SMEXPO Yogyakarta Dorong 47 UMKM Perluas Pasar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. A...

Oct 09, 2026 - 18:38
0 2
SMEXPO Yogyakarta Dorong 47 UMKM Perluas Pasar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Angka ini menjadikan UMKM sebagai fondasi utama perekonomian domestik, sekaligus menjelaskan mengapa berbagai program pemberdayaan terus digulirkan. Salah satu agenda terbaru hadir di Yogyakarta melalui sebuah pameran usaha mikro yang berlangsung di kawasan Pasar Ngasem pada 2 hingga 4 Oktober 2026, dengan melibatkan 47 pelaku UMKM lokal.

Pasar Ngasem sebagai Simpul Ekonomi Kerakyatan

Pemilihan Pasar Ngasem sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa pertimbangan. Kawasan ini merupakan pusat perdagangan tradisional yang telah lama menjadi denyut nadi ekonomi warga sekitar. Dalam kerangka ekonomi, keberadaan pasar rakyat berfungsi sebagai simpul distribusi yang menghubungkan produsen kecil dengan konsumen akhir tanpa rantai perantara yang panjang. Hal ini penting karena salah satu persoalan struktural UMKM adalah akses pasar yang terbatas.

Melalui kegiatan ini, ke-47 pelaku usaha mendapatkan ruang untuk memamerkan produk, membangun jejaring, serta menjajaki peluang kemitraan dengan pembeli institusional maupun ritel modern. Menurut sejumlah pelaku usaha, keikutsertaan dalam pameran semacam ini kerap menjadi titik balik perluasan skala bisnis, terutama bagi mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan daring terbatas.

Pro: Dorongan Nyata bagi Skala Usaha Mikro

Di satu sisi, keberadaan pameran yang menampung puluhan UMKM mencerminkan upaya konkret memperkuat sisi hilir dari rantai nilai usaha kecil. Ketika sebuah usaha mikro mampu bertemu langsung dengan calon mitra, biaya pencarian pasar atau search cost menurun signifikan. Dalam bahasa sederhana, pelaku usaha tidak perlu berkeliling mencari pembeli karena ruang temu telah disediakan.

Data historis menunjukkan pola positif. Sejumlah program serupa pada tahun-tahun sebelumnya mencatat peningkatan transaksi hingga dua digit selama periode pameran, dengan sebagian peserta melanjutkan kerja sama jangka panjang pasca-acara. Efek berganda atau multiplier effect pun muncul, mulai dari meningkatnya permintaan bahan baku lokal, terserapnya tenaga kerja harian, hingga naiknya perputaran uang di kawasan sekitar pasar.

"Pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya lewat pelatihan. Yang paling menentukan adalah akses pasar yang nyata dan berkelanjutan," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan di Yogyakarta.

Dari kacamata makro, penguatan UMKM berdampak pada ketahanan ekonomi daerah. Ketika usaha kecil tumbuh, konsumsi rumah tangga ikut terdorong, sehingga permintaan agregat terjaga meski sentimen pasar global sedang bergejolak. Inilah yang membuat sektor ini kerap disebut sebagai bantalan ekonomi domestik.

Kontra: Tantangan Keberlanjutan Pasca-Pameran

Di sisi lain, sejumlah kalangan mengingatkan bahwa euforia pameran kerap tidak berbanding lurus dengan keberlanjutan usaha. Persoalan mendasar seperti keterbatasan modal kerja, akses pembiayaan formal, serta literasi digital masih membayangi banyak pelaku usaha mikro. Tanpa pendampingan berkelanjutan, lonjakan transaksi selama tiga hari kegiatan berpotensi kembali normal begitu acara berakhir.

Tantangan lain adalah kesiapan kapasitas produksi. Ketika pesanan meningkat mendadak, tidak semua UMKM mampu memenuhi standar kuantitas dan kualitas yang diminta mitra besar. Risiko ini berkaitan erat dengan rasio produktivitas per tenaga kerja yang masih rendah di segmen mikro. Selain itu, persaingan dengan produk impor berharga murah turut menekan margin keuntungan, sehingga ruang untuk berekspansi menjadi sempit.

Dari perspektif likuiditas, banyak UMKM belum memiliki pencatatan keuangan yang rapi. Kondisi ini menyulitkan penilaian kelayakan kredit oleh perbankan, sehingga akses terhadap pinjaman berbunga rendah tetap terbatas. Akibatnya, pertumbuhan usaha sering bergantung pada modal sendiri yang pas-pasan.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Ke depan, keberhasilan agenda semacam ini akan sangat bergantung pada ekosistem pendukung. Jika pameran hanya menjadi ajang sesaat, dampaknya terhadap fundamental ekonomi daerah akan terbatas. Namun bila dirangkai dengan program pembiayaan, pendampingan digital, dan kemitraan rantai pasok yang berkelanjutan, efeknya bisa jauh lebih dalam.

Secara proyeksi, dengan pertumbuhan sektor UMKM yang stabil di kisaran 5 persen year-on-year, kontribusinya terhadap perekonomian daerah berpotensi terus menguat. Namun capaian itu menuntut konsistensi, bukan sekadar seremoni. Pada akhirnya, tolok ukur keberhasilan bukan pada jumlah peserta yang hadir, melainkan pada berapa banyak usaha mikro yang benar-benar naik kelas setelahnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User