Sinergi Bank dan Masyarakat Dongkrak Bisnis Madu Lampung

Usaha produksi madu alami di Bandar Lampung semakin menunjukkan taji setelah sejumlah pelaku lokal berhasil mengintegrasikan rantai pasok dari hulu hingga ke konsumen akhir. Salah satu inisiatif yang ...

Jul 28, 2026 - 00:17
0 0
Sinergi Bank dan Masyarakat Dongkrak Bisnis Madu Lampung

Usaha produksi madu alami di Bandar Lampung semakin menunjukkan taji setelah sejumlah pelaku lokal berhasil mengintegrasikan rantai pasok dari hulu hingga ke konsumen akhir. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah Suhita Lebah Indonesia, perusahaan yang mengusung model bisnis berbasis komunitas untuk mengoptimalkan potensi peternakan lebah di wilayah tersebut. Dengan melibatkan warga setempat sebagai mitra inti, perusahaan tidak hanya mengejar nilai ekonomi semata, tetapi juga mendorong praktik budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, produksi madu di daerah itu naik sekitar 12 persen dalam tiga tahun terakhir, didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan produk pangan sehat dan alami. Suhita Lebah memanfaatkan momentum tersebut dengan membina puluhan kelompok tani lebah di beberapa kabupaten, memberikan pelatihan teknis, bantuan bibit lebah unggul, serta pendampingan manajemen mutu. Hasilnya, para peternak yang sebelumnya menjual madu mentah secara terbatas kini mampu memasok produk setengah jadi dengan standar yang lebih terukur.

Model Bisnis Berbasis Komunitas

Pendekatan utama Suhita Lebah adalah menjadikan masyarakat bukan sekadar pemasok bahan baku, melainkan mitra strategis yang turut menentukan arah pengembangan usaha. Setiap peternak yang bergabung mendapatkan pelatihan intensif selama tiga bulan, meliputi teknik pembiakan lebah, identifikasi tanaman pakan berkualitas, hingga cara panen higienis. Perusahaan juga menerapkan sistem bagi hasil yang transparan, di mana peternak memperoleh 70 persen dari nilai jual madu saat disetor, sementara 30 persen sisanya digunakan untuk biaya pengolahan, pemasaran, dan pengembangan riset.

Saat ini, lebih dari 200 peternak di Kecamatan Tanjung Karang dan sekitarnya telah terdata sebagai anggota binaan. Mereka mengelola sekitar 1.800 koloni lebah jenis Apis mellifera yang dikenal memiliki produktivitas tinggi. Dalam setahun, rata-rata satu koloni mampu menghasilkan 15--20 kilogram madu, tergantung musim dan ketersediaan nektar. Ini berarti potensi panen kotor kelompok mitra bisa menembus 36 ton per tahun, sebuah volume yang cukup untuk menopang skala ekonomi.

Kontrol Mutu dari Sarang Hingga Kemasan

Keunggulan kompetitif Suhita Lebah terletak pada konsistensi penerapan standar mutu di sepanjang rantai produksi. Di hulu, peternak wajib mencatat lokasi penempatan kotak lebah, jenis vegetasi dominan, serta jadwal panen. Data ini digunakan untuk melacak keaslian dan karakteristik sensoris setiap lot madu. Setelah disetor, madu mentah melalui serangkaian uji laboratorium sederhana untuk mengukur kadar air, keasaman, dan cemaran logam berat. Hanya lot yang memenuhi ambang batas yang boleh diproses lebih lanjut.

Di fasilitas pengolahan milik perusahaan yang berlokasi di Kawasan Industri Lampung, madu disaring bertingkat, di-dehumidifikasi jika kadar air di atas 18 persen, lalu dikemas dalam botol kaca steril tanpa tambahan pengawet atau pemanis buatan. Pengemasan dilakukan dengan teknologi vakum untuk mempertahankan aroma dan enzim alami. Langkah tersebut membuat produk Suhita Lebah berhasil mengantongi sertifikasi Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dari BPOM dan tengah mengajukan sertifikasi organik internasional.

Dukungan Perbankan dan Akses Pasar

Ekspansi usaha ini tidak lepas dari dukungan lembaga keuangan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memberikan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp500 juta kepada Suhita Lebah pada 2023 untuk menambah kapasitas gudang penyimpanan serta membeli alat uji laboratorium portabel. Selain pembiayaan, BRI juga menghubungkan perusahaan dengan platform e-commerce binaannya, sehingga produk madu kemasan mampu menembus pasar nasional dan mulai dilirik oleh importir dari Singapura dan Malaysia.

“Tanpa akses kredit yang terjangkau, kami akan kesulitan meningkatkan skala produksi. Suku bunga KUR yang hanya 6 persen per tahun sangat membantu arus kas usaha kecil seperti kami,” ujar Dian Anggraini, pendiri Suhita Lebah. Kini omzet bulanan perusahaan telah mencapai Rp250 juta, naik hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelum pandemi.

Dampak Ekonomi dan Proyeksi Ke Depan

Kehadiran Suhita Lebah telah meningkatkan pendapatan rata-rata peternak mitra dari sebelumnya Rp800 ribu menjadi Rp2,5 juta per bulan. Selain itu, aktivitas pengolahan membuka lapangan kerja bagi 30 tenaga lokal, mayoritas ibu rumah tangga, yang menangani sortasi dan pengemasan. Dalam lingkup yang lebih luas, kawasan sekitar lokasi peternakan lebah mengalami perbaikan tutupan vegetasi karena petani terdorong menanam bunga-bungaan dan pohon buah sebagai sumber nektar.

Ke depan, Suhita Lebah berencana mengembangkan produk turunan seperti sabun madu, propolis, dan bee pollen yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Perusahaan juga sedang menjajaki kerjasama dengan koperasi tani di Kabupaten Pesawaran untuk memperluas jangkauan binaan. Jika tren positif ini berlanjut, bisnis madu Lampung berpotensi menjadi salah satu rantai pasok unggulan yang mendukung program ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User