PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengumumkan rencana akuisisi strategis terhadap 14 perusahaan pemilik aset rumah sakit yang selama ini dioperasikan jaringan rumah sakit terbesar di Indonesia tersebut. Transaksi bernilai fantastis mencapai Rp 6,91 triliun ini menandai pergeseran besar dalam strategi kepemilikan aset Siloam dari model sewa menjadi kepemilikan penuh.
Transaksi Dua Tahap dengan Nilai Fantastis
Manajemen Siloam merinci bahwa transaksi akuisisi akan dilaksanakan dalam dua tahap berbeda. Tahap pertama mencakup pengambilalihan 100% saham delapan perusahaan dengan nilai transaksi mencapai Rp 4,08 triliun. Sementara itu, tahap kedua melibatkan enam perusahaan lainnya dengan total nilai Rp 2,83 triliun.
"Kedua tahap transaksi ini akan dilaksanakan apabila opsi jual yang diberikan SILO berdasarkan Perjanjian Opsi Jual tanggal 1 April 2026 dilaksanakan oleh pemegang opsi," ungkap manajemen SILO dalam keterbukaan informasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia.
Perjanjian jual-beli bersyarat dan opsi jual telah ditandatangani sejak 1 April 2026 bersama PT Megapratama Karya Bersama sebagai entitas anak. Seluruh properti rumah sakit yang menjadi objek transaksi saat ini merupakan aset yang sudah lama disewa Siloam dari entitas afiliasi First Real Estate Investment Trust (First REIT) asal Singapura.
Tujuan Strategis: Mengakhiri Ketergantungan Sewa
Keputusan akuisisi ini bukan tanpa dasar yang kuat. Laporan keuangan Siloam menunjukkan beban sewa yang terus membengkak dari tahun ke tahun. Sepanjang paruh pertama 2026, Siloam mencatat pembayaran kas untuk liabilitas sewa senilai Rp 307,1 miliar, naik dari Rp 277,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
- Liabilitas sewa per 30 Juni 2026 tercatat Rp 369,2 miliar
- Sebanyak Rp 365,6 miliar di antaranya terkait sewa gedung
- Beban sewa variabel selama enam bulan mencapai Rp 264,1 miliar
- Pendapatan Siloam H1 2026 mencapai Rp 6,76 triliun
- Laba bersih semester I 2026 sebesar Rp 609,5 miliar
Dengan mengakuisisi 14 perusahaan pemilik aset ini, Siloam berharap dapat mengeliminasi pengeluaran sewa yang berulang setiap tahun sekaligus mendapatkan kendali penuh atas infrastruktur rumah sakit yang menjadi tulang punggung operasional bisnisnya.
Pendanaan Melalui Fasilitas Sindikasi Rp 14,5 Triliun
Untuk membiayai transaksi raksasa ini, Siloam telah mengamankan fasilitas pinjaman sindikasi senilai hingga Rp 14,5 triliun dari konsorsium bank-bank besar. Konsorsium kreditur tersebut terdiri dari:
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk — sebagai agen fasilitas sekaligus agen jaminan
- PT Bank Central Asia Tbk
- PT Bank CIMB Niaga Tbk
- PT Bank DBS Indonesia
- MUFG Bank Ltd. Jakarta Branch
- The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Singapore Branch
Fasilitas yang diberikan terdiri atas pinjaman berjangka tujuh tahun, fasilitas revolving, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya. Dalam transaksi ini, aset Siloam dengan nilai lebih dari 50% dari aset bersih dijadikan jaminan kepada kreditur, termasuk properti-properti yang menjadi objek transaksi First REIT.
Transaksi Material yang Butuh Persetujuan Pemegang Saham
Nilai transaksi akuisisi ini tergolong sangat material bagi Siloam. Berdasarkan perhitungan, total transaksi senilai Rp 6,908 triliun setara dengan 67,57% dari ekuitas Siloam per 31 Maret 2026. Oleh karena itu, persetujuan dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) menjadi syarat mutlak.
RUPS LB dijadwalkan akan digelar pada 22 September 2026 untuk mengesahkan seluruh rangkaian transaksi ini. Proyeksi keuangan pro forma setelah akuisisi (dengan asumsi efektif 1 Januari 2026) menunjukkan perubahan signifikan pada struktur keuangan Perseroan.
"Total aset Siloam diproyeksikan naik sekitar Rp 8,60 triliun, total liabilitas naik sekitar Rp 8,62 triliun, dan ekuitas setelah transaksi diperkirakan mencapai Rp 10,18 triliun," demikian tercantum dalam dokumen keterbukaan informasi resmi.
Pendapat kewajaran transaksi telah dikeluarkan oleh penilai independen Budi Syafaat, ST, MM, MAPPI beserta KJPP Budi, Edy, Saptono & Rekan pada 13 Agustus 2026. Hasil penilaian menyatakan bahwa transaksi tersebut dilakukan dengan harga wajar dan tidak melibatkan hubungan afiliasi antara Siloam dengan First REIT.
Penguatan Posisi di Industri Kesehatan Indonesia
Akuisisi ini merupakan langkah strategis Siloam dalam memperkuat posisinya sebagai operator rumah sakit terbesar di Indonesia. Dengan total aset sekitar Rp 15,8 triliun per Juni 2026, Siloam kini bersiap melakukan lompatan kuantitatif yang signifikan melalui perolehan 14 properti rumah sakit sekaligus.
Transaksi ini juga mencerminkan tren konsolidasi di industri kesehatan global, di mana operator rumah sakit berupaya mengontrol rantai pasok infrastruktur untuk meningkatkan efisiensi operasional dan margin keuntungan jangka panjang.
Comments (0)