Aug 26, 2026
Bisnis

Shana Fatina Bedah Peluang Karier Sustainability di Pertamina Talks

Berdasarkan data Kementerian ESDM hingga pertengahan 2026, bauran energi terbarukan nasional masih berkisar di angka 13 sampai 14 persen, tertinggal cukup jauh dari target 23 persen yang tercantum dal...

Shana Fatina Bedah Peluang Karier Sustainability di Pertamina Talks

Berdasarkan data Kementerian ESDM hingga pertengahan 2026, bauran energi terbarukan nasional masih berkisar di angka 13 sampai 14 persen, tertinggal cukup jauh dari target 23 persen yang tercantum dalam Kebijakan Energi Nasional. Dengan komitmen Net Zero Emission pada 2060, kebutuhan akan tenaga ahli di bidang keberlanjutan diproyeksikan mengalami kenaikan signifikan dalam satu dekade ke depan. Konteks makro inilah yang melatarbelakangi pentingnya diskusi publik soal prospek karier hijau di Tanah Air.

Dalam agenda edukatif Pertamina Talks, ahli energi berkelanjutan Shana Fatina tampil sebagai narasumber utama untuk membahas dinamika karier di bidang lingkungan dan keberlanjutan. Acara ini disasar tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga profesional mapan yang hendak beralih jalur karier. Pesan kunci yang diangkat cukup menohok: latar belakang pendidikan apa pun—teknik, ekonomi, komunikasi, hingga ilmu sosial—sejatinya memiliki pintu masuk menuju industri keberlanjutan yang tengah tumbuh pesat.

Latar Belakang Apa Pun Punya Ruang di Ekonomi Hijau

Sektor sustainability pada dasarnya bersifat multidisiplin. Lulusan ekonomi dapat berkontribusi melalui skema pembiayaan hijau maupun penilaian valuasi proyek ramah lingkungan; para insinyur dibutuhkan untuk pengembangan teknologi energi terbarukan; sementara lulusan komunikasi berperan membangun kesadaran publik. Bahkan profesi hukum ikut dibutuhkan untuk urusan kepatuhan regulasi dan pelaporan ESG kepada regulator maupun investor.

Fenomena ini selaras dengan tren global di mana perusahaan tidak lagi hanya mencari spesialis lingkungan semata. Fungsi keberlanjutan kini menembus divisi keuangan, operasional, hingga manajemen risiko, sehingga portofolio kompetensi lintas bidang menjadi nilai jual utama bagi pencari kerja generasi muda.

Di Satu Sisi Prospektif, Di Sisi Lain Penuh Tantangan

Di satu sisi, prospek karier hijau terlihat menjanjikan. International Labour Organization memproyeksikan terciptanya puluhan juta pekerjaan hijau baru secara global hingga 2030, didorong investasi transisi energi yang terus mengalami kenaikan year-on-year. Rapor tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar kerja hijau berpotensi besar di Asia Tenggara, apalagi tekanan investor terhadap fundamental keberlanjutan emiten semakin kuat sehingga permintaan profesional ESG ikut naik.

Di sisi lain, tantangannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Kesenjangan antara kurikulum kampus dan kebutuhan industri masih lebar; sertifikasi internasional yang menjadi syarat banyak posisi berbiaya tidak murah; serta persaingan ketat karena jumlah lowongan belum sepenuhnya menyerap lonjakan minat anak muda. Kecepatan transisi energi domestik yang berjalan bertahap juga membuat absorpsi tenaga kerja hijau lebih lambat dibanding ekspektasi publik.

Korporasi Energi Jadi Panggung Baru Talenta Muda

Bagi korporasi energi seperti Pertamina, momentum ini sejalan dengan strategi diversifikasi portofolio usaha menuju energi rendah karbon, mulai dari panas bumi, bioenergi, hingga proyek penangkapan dan penyimpanan karbon. Kehadiran forum dialog seperti Pertamina Talks dinilai sebagai jembatan pengetahuan yang membantu calon profesional memahami arah industri sebelum terjun langsung, termasuk memetakan posisi mana yang paling relevan dengan keahlian mereka.

Sejumlah kajian menunjukkan kebutuhan investasi transisi energi nasional dipatok pada kisaran ratusan triliun rupiah per tahun hingga akhir dekade, angka yang mustahil tercapai tanpa regenerasi sumber daya manusia berkualitas. Pada titik ini, kolaborasi antara pemerintah, korporasi, dan institusi pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan.

Proyeksi dan Pesan Praktis

Melihat tren saat ini, permintaan talenta keberlanjutan diproyeksikan tetap mengalami kenaikan konsisten, meski laju rekrutmen akan sangat bergantung pada progres regulasi serta sentimen pasar terhadap instrumen keuangan hijau. Bagi pembaca awam yang ingin masuk ke sektor ini, langkah realistis dimulai dari membangun literasi dasar keberlanjutan, mengambil sertifikasi yang relevan, dan aktif terlibat dalam forum industri agar jaringan profesional terbentuk lebih awal.

Pada akhirnya, inti dari sesi tersebut sederhana namun substansial: transisi energi bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan transformasi karier yang menyentuh semua latar belakang. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar ulang dan kesediaan melihat peluang justru di area yang sedang berubah paling cepat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User