Oct 08, 2026
Bisnis

Sepuluh Pilar CT Way dan Realitas Mobilitas Ekonomi di Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka Indonesia tercatat 4,82 persen atau sekitar 7,2 juta orang dari total angkatan kerja 149,4 juta jiwa. Angka...

Sepuluh Pilar CT Way dan Realitas Mobilitas Ekonomi di Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka Indonesia tercatat 4,82 persen atau sekitar 7,2 juta orang dari total angkatan kerja 149,4 juta jiwa. Angka ini memang mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5,45 persen. Namun di sisi lain, data Sakernas menunjukkan bahwa sekitar 56 persen pekerja masih berada di sektor informal dengan produktivitas dan perlindungan sosial yang terbatas. Dalam konteks inilah gagasan mengenai kesuksesan sebagai hak semua orang perlu dibedah secara jernih: apakah benar kesuksesan dapat diakses siapa saja, ataukah ia tetap terkunci oleh struktur ekonomi yang timpang?

Sepuluh Poin CT Way: Antara Motivasi dan Realitas Struktural

Sekitar sepuluh butir prinsip yang dikenal sebagai CT Way belakangan ramai dibicarakan sebagai semacam panduan meraih kesuksesan. Prinsip-prinsip tersebut menekankan pentingnya kerja keras, disiplin, keberanian mengambil risiko, membangun jaringan, hingga kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Secara fundamental, pesan ini sejalan dengan teori human capital yang dikembangkan ekonom Gary Becker: investasi pada diri sendiri melalui pendidikan, keterampilan, dan pengalaman akan meningkatkan produktivitas individu, yang pada akhirnya berimplikasi pada peningkatan pendapatan.

Di satu sisi, narasi semacam ini memiliki daya tarik psikologis yang kuat. Survei literasi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023 mencatat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada di 75,02 persen. Artinya, masih ada ruang besar bagi edukasi mengenai pentingnya perencanaan, disiplin anggaran, dan pengelolaan portofolio sederhana. Prinsip-prinsip seperti CT Way dapat berfungsi sebagai katalis awal untuk mengubah pola pikir, terutama bagi generasi muda yang baru memasuki pasar kerja.

"Kesuksesan individu tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia adalah hasil interaksi antara kapabilitas personal dan struktur kesempatan yang tersedia," ujar seorang ekonom pembangunan yang meneliti mobilitas sosial di Asia Tenggara.

Di sisi lain, realitas ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa struktur kesempatan itu belum merata. Rasio gini per September 2023 berada di angka 0,381, masih jauh dari target pemerataan yang ideal. Akses terhadap pendidikan berkualitas, modal usaha, dan jaringan profesional masih sangat ditentukan oleh latar belakang keluarga. Data Bank Dunia mencatat bahwa hanya sekitar 20 persen anak dari keluarga berpendapatan rendah yang berhasil menembus jenjang pendidikan tinggi, dibandingkan lebih dari 70 persen anak dari keluarga mampu.

Mobilitas Ekonomi dan Jebakan Kelas Menengah Bawah

Konsep mobilitas ekonomi merujuk pada kemampuan seseorang berpindah dari satu lapisan pendapatan ke lapisan yang lebih tinggi. Di Indonesia, mobilitas ini cenderung melambat dalam satu dekade terakhir. Data menunjukkan bahwa sekitar 65 persen orang yang lahir di kuintil pendapatan terendah akan tetap berada di kuintil tersebut sepanjang hidupnya. Fenomena ini dikenal sebagai "sticky floor" atau lantai yang lengket, sebuah kondisi di mana mereka yang berada di bawah sulit sekali naik ke atas.

Sebaliknya, mereka yang lahir di kuintil teratas memiliki probabilitas lebih dari 40 persen untuk tetap bertahan di posisi puncak. Ini bukan berarti kerja keras tidak penting, melainkan menunjukkan bahwa faktor keberuntungan struktural, seperti warisan aset, akses kredit, dan koneksi sosial, memainkan peran besar dalam menentukan hasil akhir. Prinsip-prinsip seperti CT Way, tanpa disertai kebijakan afirmatif dan pemerataan akses, berisiko menjadi sekadar motivasi tanpa dampak nyata bagi kelompok bawah.

Antara Optimisme dan Kewaspadaan Data

Pro: narasi kesuksesan untuk semua dapat mendorong semangat kewirausahaan. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan rasio kewirausahaan Indonesia pada 2023 baru sekitar 3,47 persen dari total populasi, jauh di bawah standar ideal 4 persen. Peningkatan semangat wirausaha jelas dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Kontra: tanpa intervensi struktural, narasi ini bisa menyesatkan. Capital outflow dari sektor produktif ke instrumen spekulatif, misalnya, menunjukkan bahwa likuiditas tidak selalu mengalir ke tempat yang menciptakan nilai tambah riil. Sentimen pasar yang mudah berubah juga membuat proyeksi jangka panjang sulit diandalkan.

Kesimpulannya, sepuluh pilar CT Way layak diapresiasi sebagai upaya membangun mentalitas progresif. Namun, kesuksesan tetap bukan sekadar soal tekad. Ia memerlukan ekosistem yang adil, akses modal yang merata, dan kebijakan yang berpihak pada mobilitas sosial. Tanpa itu, kesuksesan akan tetap menjadi hak yang secara formal dijanjikan, tetapi secara praktis sulit digenggam oleh mereka yang berada di lapisan bawah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User