Sampah Plastik Jadi Paving Block, Ekonomi Sirkular di Kebayoran Lama

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Desember 2023, Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah per tahun, di mana sekitar 17 persen atau setara 11,6 juta ton...

Aug 10, 2026 - 00:30
0 0
Sampah Plastik Jadi Paving Block, Ekonomi Sirkular di Kebayoran Lama

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Desember 2023, Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah per tahun, di mana sekitar 17 persen atau setara 11,6 juta ton merupakan sampah plastik. Di tengah tantangan pengelolaan sampah tersebut, inisiatif ekonomi sirkular mulai bermunculan di tingkat komunitas. Salah satunya terlihat di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, di mana sampah plastik tertolak—jenis plastik yang tidak lagi bisa diproses melalui daur ulang konvensional—diolah menjadi bahan baku paving block bernilai jual.

Fenomena ini mencerminkan tren yang lebih luas: pergeseran paradigma dari ekonomi linear (ambil-buat-buang) menuju ekonomi sirkular, yakni model ekonomi yang memaksimalkan nilai material melalui daur ulang berkelanjutan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pengelolaan sampah dan daur ulang mengalami kenaikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), meskipun porsinya masih di bawah 1 persen dari total output ekonomi nasional.

Potensi Ekonomi dari Limbah Bernilai Rendah

Di satu sisi, nilai ekonomi dari pengolahan sampah plastik menjadi material konstruksi cukup menjanjikan. Harga paving block di pasaran berkisar antara Rp75.000 hingga Rp120.000 per meter persegi, tergantung mutu dan ketebalan. Dengan asumsi satu meter persegi paving block mampu menyerap sekitar 2 hingga 3 kilogram sampah plastik, produksi skala menengah berpotensi menyerap puluhan ton limbah per bulan.

Kajian Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi memperkirakan potensi ekonomi sirkular Indonesia mencapai Rp593 triliun hingga Rp638 triliun per tahun pada 2030, dengan tambahan lapangan kerja hingga 4,4 juta orang. Angka ini setara sekitar 3,5 persen dari PDB nasional. Sektor pengelolaan limbah padat menjadi salah satu dari lima fokus utama, bersanding dengan pangan, tekstil, elektronik, dan konstruksi.

"Ekonomi sirkular bukan sekadar isu lingkungan, melainkan strategi pertumbuhan baru. Material yang selama ini dianggap tidak bernilai justru dapat menjadi input produktif bagi industri konstruksi," ujar seorang pengamat ekonomi lingkungan dari Universitas Indonesia.

Dua Sisi: Peluang Pasar versus Tantangan Skala

Di satu sisi, fundamental pasar material konstruksi ramah lingkungan sedang menguat. Sentimen pasar terhadap produk berkelanjutan meningkat, tercermin dari tren permintaan green building yang tumbuh sekitar 8 hingga 10 persen year-on-year di kawasan urban. Proyek infrastruktur pemerintah yang mulai mensyaratkan penggunaan material daur ulang turut membuka peluang serapan produk seperti paving block berbasis plastik.

Di sisi lain, tantangan skala usaha tidak bisa diabaikan. Usaha daur ulang skala mikro dan kecil umumnya menghadapi kendala akses pembiayaan, dengan rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan yang masih berkisar 20 persen menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Biaya produksi paving block plastik juga cenderung lebih tinggi 15 hingga 25 persen dibanding paving konvensional berbasis beton, terutama karena proses pencacahan dan pencampuran material yang membutuhkan mesin khusus.

Selain itu, belum tersedia standar nasional yang baku mengenai mutu paving block berbahan campuran plastik. Tanpa sertifikasi SNI, daya saing produk di pasar proyek besar menjadi terbatas. Likuiditas usaha—kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek—pun rentan karena siklus permintaan konstruksi yang fluktuatif mengikuti musim dan anggaran proyek.

Proyeksi dan Catatan Kebijakan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor daur ulang plastik diperkirakan berada di kisaran 6 hingga 7 persen per tahun hingga 2028, seiring target pemerintah mengurangi 30 persen timbulan sampah dan menangani 70 persen sisanya pada 2025. Kebijakan extended producer responsibility (EPR)—kewajiban produsen mengelola limbah kemasan yang dihasilkannya—berpotensi memperbesar pasokan bahan baku sekaligus permintaan terhadap produk daur ulang.

Namun, keberhasilan inisiatif seperti di Kebayoran Lama sangat bergantung pada konsistensi kualitas, kepastian pasar, dan dukungan ekosistem pembiayaan. Tanpa ketiganya, ekonomi sirkular berisiko berhenti sebagai aktivitas komunitas tanpa dampak makro yang signifikan.

Bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan, segmen ini menawarkan valuasi jangka panjang yang menarik, namun tetap memerlukan analisis risiko yang matang. Fundamental permintaan material konstruksi hijau memang positif, tetapi volatilitas harga bahan baku plastik daur ulang dan persaingan dengan produk konvensional tetap menjadi variabel yang perlu dicermati secara berkala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User