Sahate dan Geliat UMKM Rumahan Menembus Pasar Global
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2024, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mencapai sekitar 64,2 juta unit dengan kontribusi terhadap pr...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2024, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mencapai sekitar 64,2 juta unit dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 61,07 persen atau setara Rp9.580 triliun. Sektor ini juga menyerap hampir 97 persen total tenaga kerja nasional. Meski demikian, kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas masih tertahan di kisaran 15 persen, tertinggal dari Thailand yang menembus 29 persen dan Vietnam di atas 30 persen. Kesenjangan inilah yang membuat setiap kisah pelaku usaha kecil yang berhasil menembus pasar internasional layak dicermati sebagai indikator membaiknya fundamental ekonomi rakyat.
Cerita terbaru datang dari Lince Sulastri, perempuan wirausaha yang mengembangkan Sahate, camilan sehat bebas gluten (gluten-free) berbahan dasar beras. Gluten merupakan protein yang lazim ditemukan pada gandum, dan sebagian konsumen harus menghindarinya karena alasan kesehatan seperti penyakit celiac maupun intoleransi. Sahate bermula dari produksi skala dapur rumah tangga dengan kapasitas terbatas, kemudian berkembang setelah Lince bergabung dengan LinkUMKM, ekosistem pembinaan usaha yang diinisiasi BRI. Melalui platform tersebut, ia memperoleh pelatihan pengelolaan bisnis, kurasi mutu produk, hingga pendampingan perluasan pasar sampai ke luar negeri.
Fundamental UMKM dan Peran Intermediasi Perbankan
Dari sisi makroekonomi, data Bank Indonesia mencatat kredit segmen UMKM tumbuh sekitar 6 persen year-on-year (yoy) per triwulan III 2024, relatif lebih tinggi dibandingkan kredit korporasi besar. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2024 juga menembus lebih dari Rp290 triliun kepada jutaan debitur. Angka tersebut menandakan likuiditas perbankan bagi sektor riil skala kecil masih terjaga. Kendati demikian, akses pembiayaan semata tidak cukup. Program pendampingan seperti LinkUMKM mengisi celah yang selama ini menjadi hambatan utama UMKM naik kelas, yakni tata kelola, pencatatan keuangan, dan standardisasi kualitas.
Di Satu Sisi: Peluang Pasar Camilan Sehat Global
Di satu sisi, tren gaya hidup sehat dunia membuka peluang besar bagi produk seperti Sahate. Sejumlah riset industri memproyeksikan pasar makanan bebas gluten global tumbuh dengan laju tahunan gabungan (CAGR) sekitar 8 hingga 9 persen dan berpotensi menembus USD13 miliar pada 2030, naik dari sekitar USD7 miliar pada 2023. Sentimen pasar terhadap produk berlabel "free-from"—bebas gluten, bebas pengawet, dan berbahan alami—mengalami kenaikan di Amerika Serikat, Eropa, serta Asia Timur. Bagi Indonesia, penggunaan beras lokal sebagai bahan baku menghadirkan dua keunggulan sekaligus: pasokan melimpah dan narasi produk autentik Nusantara yang bernilai jual tinggi di pasar ekspor.
Dukungan lembaga keuangan pelat merah dalam pendampingan turut memperkuat kredibilitas produk di mata pembeli internasional. Kurasi serta fasilitasi sertifikasi membantu pelaku usaha memenuhi standar negara tujuan, mulai dari registrasi pangan, label halal, hingga kemasan sesuai ketentuan impor. Bagi portofolio bisnis perbankan, keberhasilan nasabah binaan menembus ekspor juga berpotensi memperbaiki rasio kredit bermasalah dan memperdalam hubungan jangka panjang dengan segmen ritel.
Di Sisi Lain: Tantangan Skala, Biaya, dan Standardisasi
Di sisi lain, jalan UMKM pangan menuju pasar global tidaklah mulus. Biaya logistik ekspor dari Indonesia dapat mencapai 20 hingga 25 persen dari nilai produk, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN lain. Konsistensi mutu antar-batch produksi, umur simpan (shelf life) camilan, serta kepatuhan terhadap standar seperti HACCP dan registrasi BPOM menuntut investasi berkelanjutan yang tidak kecil. Risiko fluktuasi nilai tukar rupiah juga berpotensi menggerus margin pelaku usaha mikro yang memang tipis. Tanpa manajemen risiko yang memadai, ekspansi pasar justru dapat berbalik menjadi beban.
"Keberhasilan satu produk menembus pasar ekspor patut diapresiasi, tetapi tantangan sesungguhnya adalah replikasi. Dibutuhkan ekosistem yang menghubungkan pembinaan, pembiayaan, dan akses pasar secara berkesinambungan agar skala usaha naik tanpa mengorbankan kualitas," demikian benang merah analisis sejumlah ekonom terhadap fenomena UMKM go global.
Proyeksi: Replikasi Model Menjadi Kunci
Ke depan, proyeksi kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional sangat bergantung pada kemampuan mereplikasi model yang dijalani Sahate. Pemerintah menargetkan rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor naik menuju 17 persen dalam beberapa tahun mendatang. Apabila pembinaan berbasis platform digital dan dukungan perbankan terus diperluas, bukan hal mustahil semakin banyak produk dari dapur rumahan Indonesia yang tampil di rak toko dunia. Bagi pemangku kebijakan maupun pelaku pasar, tren ini menegaskan bahwa fundamental ekonomi kerakyatan tetap menjadi penopang penting pertumbuhan domestik di tengah ketidakpastian global.
Comments (0)