Oct 01, 2026
Bisnis

Rupiah Tembus Level Rp18.000: Menimbang Ketahanan Fundamental dan Tekanan Eksternal

Berdasarkan data Bank Indonesia per Selasa (29/9), nilai tukar rupiah di pasar spot tertekan hingga menembus level Rp18.025 per dolar Amerika Serikat (AS), atau mengalami penurunan sebesar 0,85 persen...

Rupiah Tembus Level Rp18.000: Menimbang Ketahanan Fundamental dan Tekanan Eksternal

Berdasarkan data Bank Indonesia per Selasa (29/9), nilai tukar rupiah di pasar spot tertekan hingga menembus level Rp18.025 per dolar Amerika Serikat (AS), atau mengalami penurunan sebesar 0,85 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Pergerakan ini menandai tren pelemahan terdalam mata uang domestik dalam beberapa kuartal terakhir, seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang bertengger di kisaran 105,80. Menghadapi dinamika tersebut, otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk mengawal stabilitas nilai tukar melalui mekanisme intervensi pasar yang terukur guna meredam volatilitas berlebih.

Dinamika Pasar Valas dan Kebijakan Stabilisasi Bank Sentral

Gejolak pada pasar valuta asing tidak lepas dari fenomena capital outflow atau aliran modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang. Investor global cenderung melakukan reposisi portofolio menuju aset likuid berdenominasi dolar AS, terpicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang menyentuh level 4,65 persen. Selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang berada di level 7,12 persen dan obligasi acuan global kian menyempit, sehingga memicu aksi jual investor non-residen di pasar sekunder.

Guna menstabilkan nilai tukar, bank sentral mengoptimalkan strategi triple intervention, yakni intervensi terpadu pada pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder demi menyerap kelebihan pasokan obligasi. Otoritas juga memaksimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik likuiditas valas dan menahan penurunan cadangan devisa, yang per posisi terakhir tercatat sebesar US$140,2 miliar, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor.

“Stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama bauran kebijakan moneter saat ini. Kami senantiasa berada di pasar untuk memastikan pembentukan harga valuta asing mencerminkan kondisi riil likuiditas, didukung kecukupan cadangan devisa guna menangkal gejolak sentimen pasar jangka pendek,” sebut perwakilan otoritas moneter dalam keterangan resminya.

Analisis Dua Sisi: Risiko Inflasi Impor versus Daya Saing Ekspor

Pelemahan kurs rupiah yang menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS membawa dampak ganda bagi perekonomian domestik.

Di satu sisi, depresiasi mata uang meningkatkan risiko transmisi harga luar negeri ke domestik atau imported inflation. Sektor manufaktur nasional yang memiliki rasio ketergantungan bahan baku dan barang modal impor di atas 60 persen—seperti industri farmasi, petrokimia, dan perakitan elektronik—menghadapi lonjakan beban pokok penjualan. Apabila tekanan kurs berlangsung secara persisten, korporasi berpotensi meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen akhir, yang pada gilirannya dapat menekan daya beli masyarakat serta mendongkrak laju inflasi umum yang saat ini berada pada level 2,75 persen year-on-year. Selain itu, valuasi utang luar negeri swasta yang belum terlindung nilai (unhedged) akan membengkak dalam laporan keuangan domestik.

Di sisi lain, depresiasi rupiah memberikan stimulus berupa peningkatan daya saing harga komparatif bagi produk ekspor nonmigas Indonesia di pasar global. Sektor-sektor padat karya yang mengandalkan komponen lokal, seperti industri komoditas perkebunan, perikanan, dan tekstil, berpeluang mencatatkan kenaikan margin pendapatan dalam denominasi rupiah saat hasil devisa ekspor dikonversi. Tren ini dapat menjaga surplus neraca perdagangan, yang pada kuartal sebelumnya masih membukukan surplus sebesar US$1,2 miliar, selama kontraksi permintaan global tidak memburuk.

Ketahanan Fundamental Makroekonomi Menghadapi Tekanan Global

Kendati sentimen pasar jangka pendek dipengaruhi oleh pengetatan likuiditas global, indikator fundamental makroekonomi Indonesia dinilai masih memiliki bantalan yang memadai. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 39,2 persen, jauh di bawah batas aman statutori sebesar 60 persen. Dari sisi intermediasi perbankan, likuiditas sistem keuangan tetap terjaga dengan rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) yang stabil pada angka 115,2 persen.

Namun demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan pada kisaran 5,0 hingga 5,2 persen untuk tahun berjalan menghadapi tantangan dari jalur transmisi suku bunga. Apabila penyesuaian suku bunga acuan moneter perlu diperpanjang guna menahan laju capital outflow, biaya pinjaman bagi sektor korporasi dan konsumsi rumah tangga berpotensi mengalami kenaikan. Keseimbangan antara bauran kebijakan moneter terukur dan ketepatan stimulus fiskal menjadi penentu utama dalam menjaga stabilitas tanpa membebani momentum pertumbuhan ekonomi riil.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User