Rupiah Menguat ke Rp17.913 per Dolar AS, Proyeksi Masih Positif

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Januari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$155,7 miliar, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) melapor...

Aug 08, 2026 - 12:14
0 0
Rupiah Menguat ke Rp17.913 per Dolar AS, Proyeksi Masih Positif

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Januari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$155,7 miliar, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi year-on-year sebesar 0,76 persen pada Januari 2025, berada di bawah kisaran target. Dengan bantalan fundamental tersebut, rupiah mengalami penguatan ke level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, terapresiasi sekitar 0,3 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Penguatan mata uang Garuda ini sejalan dengan meredanya tekanan dari sisi harga komoditas energi. Minyak mentah acuan Brent bergerak turun ke kisaran US$75 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus level US$82 per barel. Penurunan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap beban impor energi Indonesia yang selama ini menjadi salah satu sumber permintaan dolar AS terbesar di pasar valuta asing domestik.

Katalis Penguatan: Minyak Turun, Sentimen Membaik

Penurunan harga minyak mentah dunia memberikan ruang bagi rupiah untuk berapresiasi. Secara sederhana, ketika harga minyak turun, kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor bahan bakar ikut berkurang, sehingga tekanan terhadap nilai tukar mereda. Kondisi ini diperkuat oleh indeks dolar AS (DXY) yang bergerak melemah ke level 104,2, mencerminkan berkurangnya daya tarik greenback di pasar global.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve, yang cenderung lebih longgar turut memperbaiki sentimen pasar terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Aliran modal asing tercatat mulai kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berada di kisaran 6,9 persen.

Di Satu Sisi: Fundamental Domestik Menopang

Di satu sisi, sejumlah indikator domestik memberikan dukungan bagi rupiah. Inflasi yang terkendali di bawah 1 persen secara year-on-year memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stance kebijakan yang akomodatif. Suku bunga acuan BI Rate yang bertahan di level 5,75 persen dinilai masih menarik bagi investor asing dari sisi imbal hasil riil, yakni selisih antara bunga nominal dan laju inflasi.

Neraca perdagangan yang konsisten mencatat surplus juga menjadi penopang. BPS mencatat surplus neraca perdagangan sepanjang 2024 mencapai sekitar US$31 miliar, yang berarti pasokan valuta asing dari sektor ekspor masih mengalir deras ke dalam negeri. Likuiditas valas yang memadai ini membantu menstabilkan pergerakan rupiah dari guncangan eksternal.

"Dengan harga minyak yang mulai melandai dan inflasi domestik yang rendah, rupiah memiliki ruang penguatan terbatas dalam jangka pendek. Namun, volatilitas global tetap menjadi variabel yang harus dicermati pelaku pasar," ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.

Di Sisi Lain: Risiko Masih Membayangi

Di sisi lain, penguatan rupiah tidak luput dari sejumlah risiko. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan masih berpotensi memicu kenaikan harga energi secara mendadak. Apabila harga minyak kembali menembus US$85 per barel, tekanan terhadap rupiah bisa muncul kembali mengingat Indonesia merupakan importir neto minyak mentah.

Selain itu, kebijakan tarif dagang dari pemerintahan AS yang proteksionis berpotensi memicu capital outflow, yakni keluarnya modal asing dari pasar domestik menuju aset yang dianggap lebih aman. Rasio kepemilikan asing di SBN yang berada di kisaran 14 persen membuat pasar obligasi Indonesia relatif rentan terhadap perubahan sentimen global secara tiba-tiba. Valuasi aset rupiah juga masih bergantung pada konsistensi arus portofolio yang masuk.

Proyeksi Pergerakan ke Depan

Sejumlah analis memproyeksikan rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, dengan kisaran pergerakan antara Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada kombinasi faktor teknikal dan fundamental, termasuk tren pelemahan indeks dolar serta harga komoditas yang lebih bersahabat.

Namun, pelaku pasar disarankan tetap mencermati rilis data ekonomi AS, khususnya inflasi dan ketenagakerjaan, yang dapat mengubah ekspektasi kebijakan The Fed. Dalam jangka menengah, arah rupiah akan sangat ditentukan oleh konsistensi surplus neraca dagang, stabilitas harga energi, serta kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter domestik. Bagi dunia usaha, periode penguatan rupiah dapat dimanfaatkan untuk menata ulang struktur utang valas dan mengamankan kebutuhan impor, tanpa berspekulasi berlebihan terhadap arah nilai tukar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User