Rumah Konveksi Depok Catat Penurunan Pesanan Seragam Sekolah
Depok, Jawa Barat — Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, rumah konveksi Fia Busana di Sawangan, Depok, justru menghadapi kenyataan pahit. Rabu (08/07/202
Depok, Jawa Barat — Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, rumah konveksi Fia Busana di Sawangan, Depok, justru menghadapi kenyataan pahit. Rabu (08/07/2026), para pekerja masih menyelesaikan sisa produksi meski volume pesanan seragam sekolah dilaporkan menyusut secara signifikan. Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen sekaligus tekanan ekonomi yang kian terasa di level usaha mikro.
Sang pemilik, Fia, mengaku jumlah pesanan turun hingga 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dalam wawancara singkat di sela aktivitas produksi, ia menuturkan:
“Biasanya Juli ini kami sudah menerima pesanan dari tiga sekolah besar. Sekarang hanya satu sekolah, itupun kuantitasnya dipotong. Orang tua lebih memilih membeli seragam bekas atau memanfaatkan bantuan dari pemerintah.”
Dari perspektif konsumen, penurunan ini tak sepenuhnya negatif. Banyak wali murid menyambut baik kebijakan beberapa sekolah negeri yang melonggarkan aturan seragam, memperbolehkan pembelian dari mana saja—termasuk pasar loak. Ini mendorong penghematan rumah tangga di tengah harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik. Di sisi lain, inisiatif “seragam warisan” dari kakak kelas juga kian populer, mengurangi limbah sekaligus menekan biaya.
“Saya dulu harus keluar Rp 400 ribu untuk tiga stel seragam. Sekarang cukup Rp 150 ribu karena ambil dari tetangga yang anaknya sudah lulus,” ujar Rahma, orang tua siswa di Kecamatan Cimanggis.
Dampak Ganda pada Pekerja Konveksi
Namun, bagi pekerja seperti Hendra (42), penjahit di Fia Busana, penurunan pesanan berarti pengurangan jam kerja dan pendapatan harian. “Saya biasanya bisa bawa pulang Rp 2,5 juta per minggu di musim ramai. Sekarang paling Rp 1,3 juta. Mau tidak mau saya cari tambahan sebagai tukang ojek online,” ceritanya. Kondisi ini menggambarkan kontraksi sektor informal yang bergantung pada siklus akademik.
Di sisi lain, rumah konveksi mulai beradaptasi dengan memperluas lini produk ke pakaian dinas harian instansi swasta, seragam komunitas, bahkan merchandise acara. Diversifikasi ini membantu menstabilkan pendapatan, meskipun margin keuntungan dari produk non-seragam sekolah cenderung lebih tipis karena persaingan yang lebih ketat dan volume yang lebih rendah. Dukungan digitalisasi melalui pemasaran media sosial juga mulai dilirik, meski belum memberikan hasil signifikan.
Analisis dua sisi menunjukkan bahwa penurunan pesanan membawa berkah bagi anggaran rumah tangga dan lingkungan, tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi kelangsungan usaha rumahan yang menyerap banyak tenaga kerja lokal. Keseimbangan antara kebijakan sekolah yang fleksibel dan perlindungan industri kecil rumahan perlu menjadi perhatian pemerintah kota. Pelatihan keterampilan alternatif bagi para penjahit serta insentif bagi konveksi yang go green bisa menjadi jalan tengah.
Perbandingan Dampak
- Pro (Bagi Konsumen dan Lingkungan): Pengeluaran orang tua berkurang hingga 60%, munculnya budaya circular economy, pengurangan limbah tekstil, dan fleksibilitas pilihan seragam bagi siswa.
- Kontra (Bagi Usaha Mikro dan Pekerja): Pendapatan konveksi anjlok, ancaman PHK terselubung melalui pengurangan jam kerja, hilangnya mata pencaharian musiman, dan potensi matinya keterampilan menjahit tradisional jika tidak ada regenerasi.
Comments (0)