Oct 04, 2026
Bisnis

Rumah BUMN Dorong UMKM Tembus Pasar Global

Berdasarkan data BPS per kuartal IV tahun 2024, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dari total unit usaha yang tercatat, UMKM mencapai ...

Rumah BUMN Dorong UMKM Tembus Pasar Global

Berdasarkan data BPS per kuartal IV tahun 2024, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dari total unit usaha yang tercatat, UMKM mencapai 65,46 juta unit usaha dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 61,07%. Tidak hanya itu, sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 97,02% dari total angkatan kerja nasional. Angka ini menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada kekuatan usaha rakyat, khususnya dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan di tengah tren perlambatan ekonomi global.

Namun, di balik besarnya kontribusi tersebut, masih terdapat kesenjangan yang cukup lebar terkait akses pasar. Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2024, hanya sekitar 14,37% dari total nilai ekspor nasional yang berasal dari UMKM. Rasio ini terbilang rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, yang rata-rata telah mampu mendorong ekspor UMKM di atas 20% secara year-on-year. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan struktural yang perlu diatasi, guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya kuat dari sisi domestik, namun juga berorientasi pada perluasan pasar internasional.

Peran Pendampingan Dalam Meningkatkan Daya Saing

Dalam upaya memperlebar akses pasar global, ketersediaan pembiayaan dan pendampingan usaha menjadi faktor yang tidak terpisahkan. Di satu sisi, adanya program pendampingan terintegrasi dapat membantu pelaku usaha dalam memperbaiki berbagai aspek yang krusial bagi ekspansi, seperti standar kualitas produk, legalitas usaha, kemasan yang sesuai dengan permintaan luar negeri, hingga pemahaman terkait regulasi impor negara tujuan. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan valuasi (perkiraan nilai ekonomi) dari usaha tersebut, sehingga berpotensi untuk bersaing di pasar dengan tingkat persaingan yang jauh lebih ketat.

Di sisi lain, proses pendampingan ini tidak terlepas dari berbagai tantangan. Biaya untuk memenuhi standar ekspor, seperti sertifikasi halal, izin kesehatan, hingga biaya logistik internasional, masih tergolong tinggi bagi mayoritas pelaku UMKM. Berdasarkan proyeksi dari OJK tahun 2024, biaya adaptasi terhadap permintaan pasar ekspor dapat mengalami kenaikan hingga 15% khususnya bagi komoditas makanan olahan, akibat tren proteksionisme dan volatilitas harga bahan baku global. Selain itu, sentimen pasar (pandangan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi) yang masih berhati-hati akibat gejolak geopolitik turut mempengaruhi minat pembeli luar negeri untuk melakukan pemesanan dalam jumlah besar terhadap produk dari pelaku usaha baru.

Ekspansi Menuju Pasar Asia Timur

Salah satu tren yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM Indonesia adalah pergeseran pola konsumsi di kawasan Asia Timur. Berdasarkan data perdagangan Bank Indonesia tahun 2024, impor produk makanan olahan dan barang konsumsi sehari-hari di Malaysia mengalami kenaikan sebesar 6,8% secara year-on-year. Sementara itu, Hong Kong turut mencatatkan peningkatan indeks impor barang konsumsi segmen premium sebesar 5,9% pada periode yang sama. Peningkatan ini membuka ruang bagi produk khas Indonesia untuk dapat masuk ke dalam portofolio (kumpulan produk yang dijual) para importir di kedua negara tersebut.

Namun, untuk dapat memanfaatkan tren tersebut, dibutuhkan lebih dari sekedar permintaan pasar. Pelaku usaha perlu memperkuat likuiditas (kemampuan untuk memenuhi kewajiban keuangan dalam jangka pendek), mengingat siklus pembayaran ekspor umumnya berkisar antara 30 hingga 90 hari. Tidak hanya itu, diperlukan pula pengelolaan terhadap risiko nilai tukar, mengingat fluktuasi mata uang dapat memengaruhi margin keuntungan secara signifikan. Oleh karena itu, pendampingan yang tidak hanya berfokus pada pemasaran, namun juga terhadap manajemen keuangan, menjadi aspek fundamental yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan ekspansi usaha.

Dampak Makro Terhadap Perekonomian Nasional

Apabila ekspansi UMKM ke pasar global dapat terus ditingkatkan secara terukur, terdapat dampak positif yang dapat dirasakan secara makro. Di satu sisi, peningkatan ekspor UMKM berpotensi untuk menekan tekanan capital outflow (keluarnya dana asing dari dalam negeri) melalui perolehan devisa, serta memperkuat cadangan devisa nasional yang saat ini berada dalam tren stabil. Berdasarkan simulasi sederhana terhadap data BPS, kenaikan rasio ekspor UMKM dari 14,37% menuju 17% saja, dapat memberikan tambahan devisa non-migas yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, perlu diwaspadai adanya risiko jangka pendek. Peningkatan aktivitas ekspor dapat mendorong permintaan bahan baku domestik, sehingga berpotensi meningkatkan harga bahan baku lokal apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai. Selain itu, dalam kondisi sentimen pasar global yang masih volatile, tidak semua usaha baru akan mampu bertahan terhadap penurunan permintaan secara tiba-tiba. Oleh karena itu, proyeksi pertumbuhan ekspor UMKM perlu dilakukan secara bertahap dan berbasis data, agar tidak membebani stabilitas harga domestik maupun likuiditas pelaku usaha itu sendiri.

Secara keseluruhan, upaya untuk membawa produk UMKM Indonesia menembus pasar seperti Malaysia dan Hong Kong merupakan langkah yang selaras dengan kebutuhan struktural perekonomian nasional. Dengan memadukan perluasan pasar, penguatan fundamental usaha, serta mitigasi risiko yang terukur, potensi besar yang dimiliki oleh usaha rakyat dapat semakin terwujud tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi domestik. Hal ini menjadi sebuah harapan jangka panjang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User