Risiko Mengintai Gen Z yang Makin Banyak Bekerja di Sektor Informal

Fenomena pergeseran preferensi kerja generasi muda Indonesia memasuki babak yang patut dicermati secara serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Agustus 2025, proporsi pekerja informal di ka...

Jul 28, 2026 - 06:56
0 0
Risiko Mengintai Gen Z yang Makin Banyak Bekerja di Sektor Informal

Fenomena pergeseran preferensi kerja generasi muda Indonesia memasuki babak yang patut dicermati secara serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Agustus 2025, proporsi pekerja informal di kalangan usia 15–29 tahun mengalami kenaikan signifikan menjadi 62,4 persen dari total pekerja muda, naik dari posisi 57,8 persen pada periode yang sama dua tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan realitas bahwa lebih dari separuh generasi Z yang telah memasuki dunia kerja justru terserap dalam ekosistem tanpa kontrak formal, tanpa jaminan sosial memadai, dan tanpa kepastian pendapatan jangka panjang. Di satu sisi, fleksibilitas yang ditawarkan sektor informal memang selaras dengan karakter generasi digital-native yang menginginkan otonomi dan keseimbangan hidup. Namun di sisi lain, gelombang besar informalitas ini menyimpan konsekuensi struktural yang dapat menggerogoti fundamental ekonomi nasional dalam satu hingga dua dekade mendatang.

Dorongan dan Tarikan yang Membentuk Tren

Setidaknya terdapat dua kekuatan utama yang mendorong generasi Z ke pelukan sektor informal. Pertama adalah tekanan dari sisi permintaan tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,0–5,2 persen year-on-year belum mampu menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah yang memadai. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa dari sekitar 3,5 juta pencari kerja baru setiap tahunnya, hanya kurang dari 40 persen yang terserap ke sektor formal dengan standar upah minimum dan perlindungan ketenagakerjaan yang layak. Kesenjangan ini menciptakan antrean panjang yang mendorong kaum muda untuk mencari alternatif penghasilan di luar jalur formal.

Kedua adalah daya tarik dari sisi penawaran. Platform ekonomi gig seperti layanan transportasi daring, pengantaran makanan, hingga pasar lepas digital menawarkan model kerja yang tidak terikat jam kantor konvensional. Fleksibilitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi yang tumbuh dalam budaya on-demand dan konektivitas tanpa batas. Kemudahan registrasi, pencairan penghasilan harian, serta ilusi kemandirian menjadi bungkus yang menggoda. Namun perlu dicatat bahwa angka pendapatan rata-rata pekerja gig muda hanya berkisar Rp2,8 juta hingga Rp3,5 juta per bulan, dengan variasi tinggi antarbulan dan tanpa tunjangan apa pun.

Antara Kemerdekaan dan Kerentanan: Analisis Dua Sisi

Pro: Pendukung model kerja informal berpendapat bahwa sektor ini menjadi katup pengaman sosial yang mencegah ledakan pengangguran terbuka di masa transisi ekonomi digital. Tanpa sektor informal, tingkat pengangguran muda yang saat ini berada di kisaran 16–18 persen dapat melonjak melewati ambang 25 persen. Sektor informal juga memungkinkan generasi Z mengakumulasi pengalaman kerja, membangun jejaring, dan mengembangkan keterampilan wirausaha yang tidak diperoleh di bangku pendidikan formal. Beberapa studi independen juga mencatat bahwa pekerja muda di sektor informal menunjukkan tingkat kepuasan hidup yang relatif tinggi karena persepsi otonomi yang lebih besar dibandingkan pekerja entry-level di korporasi.

Kontra: Namun para ekonom dan pengamat pasar tenaga kerja memperingatkan bahwa kenyamanan jangka pendek ini menutupi kerentanan struktural yang dalam. Pekerja informal tidak memiliki akses terhadap program Jaminan Hari Tua, Jaminan Kesehatan yang setara dengan pekerja formal, apalagi Jaminan Kehilangan Pekerjaan. Risiko pendapatan yang fluktuatif membuat mereka sulit mengakses kredit perumahan, pembiayaan pendidikan lanjutan, atau sekadar membangun dana darurat. Lebih mengkhawatirkan lagi, minimnya kontribusi terhadap dana pensiun dan sistem jaminan sosial nasional menciptakan bom waktu demografi. Ketika puluhan juta pekerja informal muda ini memasuki usia senja tanpa tabungan pensiun yang memadai, beban fiskal negara berpotensi membengkak secara eksponensial.

“Yang kita hadapi bukan sekadar masalah ketenagakerjaan, melainkan krisis akumulasi modal manusia. Ketika satu generasi besar bekerja tanpa membangun aset jangka panjang, yang terbentuk adalah lingkaran setan kerentanan ekonomi yang sulit diputus,” ujar Dr. Rizal Prasetyo, ekonom senior dari Lembaga Studi Ketenagakerjaan Nasional.

Risiko Makroekonomi yang Mengintai

Dari perspektif ekonomi makro, dominasi informalitas di kalangan pekerja muda membawa tiga risiko utama. Pertama, rendahnya produktivitas agregat. Sektor informal umumnya memiliki produktivitas tenaga kerja yang lebih rendah dibandingkan sektor formal karena keterbatasan akses terhadap teknologi, pelatihan, dan skala ekonomi. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja sektor informal di Indonesia hanya sekitar 40 persen dari produktivitas sektor formal pada industri serupa. Kedua, sempitnya basis pajak. Pekerja informal hampir seluruhnya berada di luar sistem perpajakan formal sehingga potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan orang pribadi tidak optimal. Ketiga, volatilitas konsumsi domestik. Pendapatan yang tidak stabil membuat pola konsumsi pekerja informal sulit diprediksi, yang pada gilirannya memengaruhi stabilitas permintaan agregat dan perencanaan investasi sektor riil.

Jalan Tengah dan Langkah Mitigasi

Mengandalkan pertumbuhan ekonomi semata untuk menyerap pekerja muda ke sektor formal bukanlah strategi yang memadai dalam jangka menengah. Dibutuhkan kebijakan afirmatif yang menjembatani kesenjangan antara fleksibilitas yang diinginkan generasi Z dan perlindungan yang mereka butuhkan. Beberapa langkah yang menjadi bahasan di kalangan pembuat kebijakan antara lain: pengembangan skema jaminan sosial portabel yang dapat diakses pekerja informal dengan iuran proporsional berdasarkan pendapatan aktual, pengaturan kemitraan antara platform digital dan pekerja agar tercipta standar minimum kompensasi, serta integrasi pelatihan keterampilan digital dalam kurikulum vokasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri formal. Tanpa intervensi yang terstruktur, risiko terjadinya lost generation—generasi yang kehilangan momentum membangun kesejahteraan karena terjebak dalam siklus informalitas—bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang semakin mendekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User