Ribuan Penari Meriahkan Festival Remo Yosakoi di Surabaya
Surabaya, Beritadua.com – Minggu (12/7/2026), Taman Budaya Cak Durasim menjadi panggung spektakuler perpaduan budaya Indonesia dan Jepang. Ribuan penari da
Surabaya, Beritadua.com – Minggu (12/7/2026), Taman Budaya Cak Durasim menjadi panggung spektakuler perpaduan budaya Indonesia dan Jepang. Ribuan penari dari berbagai sanggar dan komunitas seni se-Jawa Timur berkumpul dalam Festival Remo Yosakoi 2026, menyuguhkan harmoni gerak yang memukau di bawah teriknya mentari Surabaya. Suara naruko—alat musik kayu khas Yosakoi—berpadu dengan irama gamelan pengiring tari Remo, menciptakan simfoni unik yang menggema hingga ke sudut kota.
Persiapan Sejak Subuh, Sajikan Harmoni Dua Budaya
Sejak pukul 05.00 WIB, area Taman Budaya Cak Durasim sudah dipadati peserta yang antusias melakukan pemanasan dan pengecekan kostum. Mereka mengenakan busana adat Jawa Timur berwarna cerah untuk tarian Remo, serta yukata dan happi coat khas Jepang dengan hiasan mencolok untuk segmen Yosakoi. Panitia mencatat, total 1.200 penari dari 45 kelompok mengikuti festival ini, menjadikannya acara budaya kolosal terbesar di Surabaya pada 2026.
Festival Remo Yosakoi digagas sebagai ruang pertukaran budaya yang memperkuat hubungan Indonesia-Jepang melalui seni tari. Tari Remo—tari tradisional ikonik Jawa Timur—biasanya ditampilkan sebagai pembuka pertunjukan ludruk, menggambarkan kegagahan dan semangat ksatria. Sementara Yosakoi adalah tarian modern Jepang yang lahir di Kochi pada 1954, dikenal dengan gerakan enerjik, kostum flamboyan, serta properti naruko yang dikepakkan serempak. Perpaduan keduanya menghadirkan koreografi hibrida yang segar dan memesona.
Kronologi Acara: Dari Pembukaan Hingga Grand Final
- Pukul 07.00 WIB – Ribuan peserta melakukan registrasi dan menempati area tunggu. Suasana penuh canda tawa, penari saling berbagi cerita tentang latihan yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
- Pukul 08.30 WIB – Pembukaan resmi oleh Wali Kota Surabaya dan perwakilan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa festival ini menjadi simbol diplomasi budaya yang mempererat persaudaraan antarbangsa.
- Pukul 09.00 WIB – Pawai budaya dimulai. Rombongan penari memulai arak-arakan dari Jembatan Merah menuju taman, diiringi tabuhan gendang dan sorakan ribuan penonton yang membludak di sepanjang rute.
- Pukul 10.15 WIB – Sesi utama dimulai: kelompok tari Remo membuka panggung dengan formasi kolosal bertema "Garuda Nusantara", dilanjutkan penampilan Yosakoi dengan koreografi energik bertajuk "Sakura di Bumi Majapahit".
- Pukul 13.00 WIB – Puncak acara: seluruh peserta menari bersama dalam flash mob raksasa yang memadukan gerakan Remo dan Yosakoi, dipimpin instruktur nasional. Rekor penari terbanyak dalam event serupa di Surabaya pun tercatat.
- Pukul 15.00 WIB – Pengumuman juara dan penutupan. Trofi bergilir diberikan kepada Sanggar Tari Sekar Jagad dari Malang yang menyajikan kolaborasi paling kreatif.
"Festival ini adalah bukti bahwa seni tidak mengenal batas negara. Anak-anak muda kita belajar bahwa tradisi bisa berdialog dengan budaya lain tanpa kehilangan jati diri," ujar Budi Santoso, Ketua Panitia Festival Remo Yosakoi 2026, saat ditemui di sela acara.
Antusiasme Penonton dan Dampak Ekonomi
Kerumunan penonton yang diperkirakan mencapai 8.000 orang memadati area taman sejak pagi. Banyak keluarga yang membawa tikar dan bekal untuk menyaksikan pertunjukan gratis ini. Pedagang kaki lima di sekitar lokasi mengaku omzet mereka naik hingga tiga kali lipat. "Alhamdulillah, dagangan saya habis sebelum acara selesai. Ini berkah buat kami," kata Sumiati, penjual es campur. Selain itu, hotel-hotel di sekitar Surabaya juga dilaporkan mengalami kenaikan okupansi mencapai 85% selama akhir pekan festival.
Keberhasilan festival ini tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Kebudayaan, serta sponsor dari perusahaan Jepang yang beroperasi di Jawa Timur. Mereka menilai investasi dalam seni budaya mampu memperkuat citra Surabaya sebagai kota multikultural yang ramah bagi wisatawan mancanegara.
Generasi Muda dan Pelestarian Budaya
Yang menarik, mayoritas peserta adalah generasi milenial dan Gen Z. Banyak di antara mereka yang awalnya hanya mengenal Yosakoi lewat media sosial, tetapi kini justru tertarik mendalami tari Remo. "Awalnya saya ikut sanggar Yosakoi karena suka cosplay, tapi setelah latihan bareng buat festival ini, saya jadi cinta sama tari Remo yang ternyata energinya luar biasa," cerita Naura (19), peserta dari Sidoarjo.
Para penari berharap festival ini bisa menjadi agenda tahunan yang lebih besar, bahkan menjaring peserta dari provinsi lain dan luar negeri. "Kami ingin Surabaya dikenal sebagai titik temu budaya Indonesia-Jepang melalui tarian. Ini bisa jadi ikon pariwisata baru," ungkap Dewi Anggraini, koreografer muda yang terlibat dalam penyusunan gerakan kolaboratif.
Dengan suksesnya penyelenggaraan tahun ini, panitia mengonfirmasi pihaknya telah membuka penjajakan kerja sama dengan kota kembar Surabaya di Jepang, seperti Kochi dan Shizuoka, untuk menghadirkan penari asli Yosakoi pada edisi mendatang. Rencananya, Festival Remo Yosakoi 2027 akan digelar berskala internasional dengan target 2.500 penari.
[SOCIAL_TWEET]: Ribuan penari pukau Surabaya dalam Festival Remo Yosakoi 2026! Paduan tari tradisional Remo & Yosakoi Jepang suguhkan harmoni budaya spektakuler. 🎭✨ Ada 1.200 penari dan 8.000 penonton! #FestivalRemoYosakoi #Surabaya #BudayaNusantara[SOCIAL_TG]: 🌟 *SURABAYA BERGEMURUH!* Ribuan penari memeriahkan Festival Remo Yosakoi 2026. Harmoni tari tradisional dan modern lintas negara ini catat rekor baru! Baca selengkapnya. 🎌✨
Comments (0)