RI dan UEA Bahas Optimalisasi IUAE-CEPA untuk Genjot Perdagangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan per awal Maret 2026, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) tercatat berada pada kisaran US$5,5 mil...

Aug 10, 2026 - 11:30
0 0
RI dan UEA Bahas Optimalisasi IUAE-CEPA untuk Genjot Perdagangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan per awal Maret 2026, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) tercatat berada pada kisaran US$5,5 miliar sepanjang 2025, mengalami kenaikan dibandingkan capaian sekitar US$5,1 miliar pada 2023. Di tengah tren perlambatan ekonomi global dan fragmentasi rantai pasok, Menteri Perdagangan Budi Santoso menggelar pembahasan dengan menteri UEA untuk mengoptimalkan pemanfaatan Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA), kesepakatan dagang komprehensif yang telah diratifikasi melalui Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2023.

IUAE-CEPA ditandatangani pada Juli 2022 di Abu Dhabi dan menjadi perjanjian perdagangan komprehensif pertama Indonesia dengan negara kawasan Teluk. Kesepakatan ini mencakup penghapusan tarif pada lebih dari 94 persen pos tarif, meliputi produk unggulan Indonesia seperti perhiasan, minyak kelapa sawit, kertas, makanan olahan, hingga komponen otomotif. Bagi pembaca awam, CEPA adalah perjanjian ekonomi menyeluruh yang tidak hanya mengatur bea masuk barang, tetapi juga perdagangan jasa, investasi, dan kerja sama ekonomi lainnya.

Di Satu Sisi: Peluang Ekspansi Pasar dan Diversifikasi Ekspor

Di satu sisi, optimalisasi IUAE-CEPA membuka ruang pertumbuhan ekspor yang signifikan. UEA merupakan mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan Timur Tengah sekaligus pintu masuk re-ekspor ke kawasan Teluk, Afrika, dan Asia Selatan melalui pelabuhan Jebel Ali di Dubai. Dengan fundamental konsumsi kelas menengah kawasan tersebut yang terus tumbuh, proyeksi kenaikan nilai perdagangan bilateral menuju US$10 miliar dalam lima tahun ke depan bukanlah angka yang mustahil dicapai.

Dari sisi investasi, relasi ekonomi kedua negara diperkuat komitmen UEA terhadap Indonesia Investment Authority (INA) senilai US$10 miliar yang diumumkan pada 2021. Aliran modal semacam ini berpotensi memperdalam likuiditas pasar domestik dan memperkuat sentimen pasar terhadap aset berdenominasi rupiah, terutama di tengah kekhawatiran capital outflow akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Di Sisi Lain: Defisit Neraca dan Rendahnya Utilisasi FTA

Di sisi lain, sejumlah tantangan struktural tidak dapat diabaikan. Neraca perdagangan Indonesia dengan UEA secara historis mencatat defisit, terutama akibat impor minyak mentah dan produk petrokimia yang nilainya melampaui ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut. Rasio ekspor terhadap impor bilateral masih berada di bawah 0,5, artinya setiap satu dolar impor dari UEA hanya diimbangi kurang dari setengah dolar ekspor Indonesia.

Pengalaman empiris juga menunjukkan tingkat utilisasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia pada berbagai kesepakatan lain kerap hanya berkisar 30-40 persen. Penyebabnya beragam: minimnya sosialisasi kepada pelaku usaha kecil menengah, kompleksitas aturan asal barang (rules of origin), hingga hambatan nontarif seperti sertifikasi halal dan standar teknis. Tanpa perbaikan pada aspek tersebut, penghapusan tarif di atas kertas berisiko tidak berbanding lurus dengan kenaikan volume perdagangan riil secara year-on-year.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Dari perspektif makroekonomi, keberhasilan optimalisasi IUAE-CEPA akan bergantung pada tiga variabel: stabilitas nilai tukar rupiah, daya saing produk manufaktur nasional, dan konsistensi kebijakan hilirisasi. Valuasi rupiah yang kompetitif memperkuat posisi tawar eksportir, sementara portofolio ekspor yang terdiversifikasi mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah yang volatil.

"Perjanjian dagang hanyalah infrastruktur kebijakan. Variabel penentunya tetap kapasitas produksi dan daya saing riil sektor ekspor nasional," ujar sejumlah pengamat perdagangan internasional dalam berbagai forum ekonomi di Jakarta.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati indeks kinerja ekspor nonmigas serta realisasi investasi UEA sebagai indikator konkret dari kesepakatan ini. Proyeksi pertumbuhan perdagangan bilateral yang optimistis perlu diimbangi langkah taktis berupa pendampingan eksportir, harmonisasi standar, dan diplomasi ekonomi berkelanjutan. Tanpa langkah tersebut, IUAE-CEPA berisiko bernasib sama seperti sejumlah perjanjian dagang lain, yakni komprehensif di atas kertas namun terbatas dalam implementasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User