Aug 25, 2026
Bisnis

Remitansi, Juru Selamat Ekonomi yang Kerap Terlupakan

Di tengah guncangan ekonomi yang menerjang Indonesia, pandangan publik selalu tertuju pada istana presiden atau gedung Kementerian Keuangan. Namun, ada satu kekuatan yang selama ini bekerja dalam diam...

Remitansi, Juru Selamat Ekonomi yang Kerap Terlupakan

Di tengah guncangan ekonomi yang menerjang Indonesia, pandangan publik selalu tertuju pada istana presiden atau gedung Kementerian Keuangan. Namun, ada satu kekuatan yang selama ini bekerja dalam diam, menjadi bantalan saat krisis menghantam. Ia bukan berasal dari kebijakan fiskal moneter semata, melainkan dari jutaan tangan yang bekerja jauh dari rumah. Mereka adalah para pekerja migran Indonesia yang mengirimkan remitansi, menjadi penyelamat cadangan devisa saat arus modal asing hengkang.

Aliran Dana yang Konsisten di Tengah Volatilitas

Berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi tenaga kerja Indonesia (TKI) sepanjang 2023 mencapai lebih dari 14 miliar dolar AS, atau setara hampir Rp220 triliun. Angka ini menempatkan remitansi sebagai penyumbang devisa terbesar kedua setelah ekspor nonmigas, jauh melampaui investasi portofolio yang kerap tidak menentu. Saat pandemi Covid-19 melumpuhkan ekonomi global pada 2020, ketika ekspor turun 2,6% dan aliran modal asing keluar hingga Rp145 triliun, remitansi justru hanya terkoreksi tipis 7% menjadi sekitar 9,8 miliar dolar AS. Ketangguhan ini menjadi jaring pengaman yang memungkinkan sektor perbankan mempertahankan likuiditas valas dan pemerintah tetap bisa membayar kewajiban luar negeri.

Di satu sisi, stabilitas ini bisa dipandang sebagai bukti bahwa fondasi ekonomi Indonesia sesungguhnya bertumpu pada rakyat kecil, bukan sekadar manuver korporasi besar. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa ketergantungan pada remitansi mencerminkan kerentanan struktural: negara belum mampu menyediakan lapangan kerja bermartabat di dalam negeri sehingga harus mengekspor tenaga kerja. Keduanya benar. Namun, dalam narasi krisis, peran penyelamat ini sering tidak mendapat porsi pemberitaan yang layak.

Dari Meja Makan Hingga Neraca Pembayaran

Kontribusi remitansi tidak hanya terlihat di neraca pembayaran. Di tingkat mikro, ia menghidupi lebih dari 10 juta keluarga di pelosok desa. Survei Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan bahwa 76% remitansi digunakan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, mulai dari biaya sekolah anak hingga modal usaha kecil. Dengan demikian, aliran dana ini menjadi stimulus ekonomi langsung yang menyebar ke sektor riil tanpa birokrasi panjang, berbeda dengan program bantuan sosial pemerintah yang kerap tersendat.

Ketika suku bunga acuan Bank Indonesia dinaikkan untuk menahan pelemahan rupiah, sektor UMKM yang mengandalkan kredit perbankan tercekik. Di sinilah remitansi berperan sebagai sumber pembiayaan alternatif yang lebih elastis. Peneliti Lembaga Demografi UI mencatat, setiap kenaikan 10% remitansi berkorelasi dengan penurunan angka kemiskinan desa sebesar 1,2%. Efek pengganda ini menjadikan pekerja migran layaknya bank sentral mini yang mendistribusikan likuiditas langsung ke simpul-simpul ekonomi paling dasar.

Presiden dan Menkeu Tak Bisa Sendirian

Sejarah krisis 1998 dan 2008 menunjukkan bahwa tanpa bantalan devisa yang kuat, Indonesia mudah terjerembap. Mantan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pernah menekankan bahwa cadangan devisa nasional yang kini sekitar 140 miliar dolar AS tidak hanya berasal dari surplus perdagangan atau penerbitan surat utang global, melainkan juga dari setoran rutin para pekerja di luar negeri. Ketika harga komoditas anjlok dan pasar obligasi bergejolak, remitansi tetap mengucur. Ini menjadikannya komponen paling stabil dalam struktur neraca eksternal.

Namun, perlindungan terhadap para pahlawan devisa ini masih jauh dari ideal. Data BP2MI mencatat, sepanjang 2022 terdapat lebih dari 1.800 kasus penipuan dan kekerasan terhadap pekerja migran. Ironis: mereka yang menyelamatkan ekonomi justru bekerja dalam kerentanan tinggi. Jika pemerintah ingin benar-benar aman dari krisis, maka agenda perlindungan pekerja migran musti menjadi prioritas sekelas negosiasi utang atau insentif investasi. Karena tanpa mereka, juru selamat sejati itu, presiden dan menteri keuangan bakal kehilangan tameng paling efektif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User