Rekening Baru bagi 25 Juta Remaja Desil 1-4, Inklusi atau Beban Fiskal?

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari kementerian terkait dan otoritas jasa keuangan, pemerintah berencana membuka rekening bank bagi sekitar 25,1 juta penduduk usia 17 tahun ke atas yang tergol...

Oct 09, 2026 - 19:39
0 2
Rekening Baru bagi 25 Juta Remaja Desil 1-4, Inklusi atau Beban Fiskal?

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari kementerian terkait dan otoritas jasa keuangan, pemerintah berencana membuka rekening bank bagi sekitar 25,1 juta penduduk usia 17 tahun ke atas yang tergolong dalam desil 1 hingga 4. Kelompok ini merupakan rumah tangga dengan tingkat pengeluaran terendah dalam struktur distribusi kesejahteraan nasional. Langkah tersebut diklaim sebagai upaya memperluas akses keuangan sekaligus mempermudah penyaluran bantuan sosial agar lebih tepat sasaran dan efisien.

Desil sendiri merujuk pada pembagian populasi menjadi sepuluh kelompok setara berdasarkan tingkat pengeluaran. Desil 1 adalah kelompok paling bawah, sedangkan desil 4 berada di batas bawah menengah. Artinya, program ini menyasar lapisan bawah hingga menengah-bawah, sebuah segmen yang selama ini dikenal memiliki tingkat kepemilikan rekening formal yang relatif rendah dibanding kelompok atas.

Dorongan Inklusi Keuangan dan Efisiensi Bantuan

Di satu sisi, kebijakan ini dipandang sebagai terobosan dalam mendorong inklusi keuangan. Berdasarkan data otoritas moneter, indeks inklusi keuangan nasional memang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, namun masih terdapat disparitas antar wilayah dan antar kelompok pendapatan. Dengan membuka rekening bagi puluhan juta orang, penyaluran program perlindungan sosial dapat dilakukan secara langsung, mengurangi kebocoran, dan memangkas biaya administrasi di tingkat bawah.

Selain itu, kepemilikan rekening membuka akses terhadap layanan keuangan lain seperti tabungan, pinjaman mikro, dan asuransi dasar. Dalam jangka panjang, kebiasaan menabung dan mengelola arus kas secara formal diyakini mampu memperkuat ketahanan finansial rumah tangga. Pendekatan ini juga sejalan dengan tren digitalisasi pembayaran yang makin masif, di mana transaksi nontunai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sejumlah ekonom menilai langkah ini berpotensi mempercepat penurunan kemiskinan apabila diiringi literasi keuangan yang memadai.

“Rekening hanyalah pintu masuk. Yang menentukan hasil akhirnya adalah apakah masyarakat benar-benar menggunakan rekening itu untuk menabung, berusaha, dan mengakses layanan produktif,” ujar seorang pengamat ekonomi dalam sebuah forum diskusi daring.

Pro: Fondasi Data Tunggal dan Penyaluran Tepat Sasaran

Dari kacamata pro, integrasi rekening dengan data kependudukan dan data kesejahteraan berpotensi menciptakan basis data tunggal yang lebih akurat. Selama ini, ketidakpadanan data menjadi salah satu penyebab bantuan tidak sampai kepada penerima yang berhak. Dengan rekening yang terhubung pada identitas tunggal, verifikasi dapat dilakukan lebih cepat dan transparan. Pemerintah juga dapat mengurangi ketergantungan pada penyaluran tunai yang rawan penyimpangan.

Lebih jauh, kelompok desil 1-4 merupakan pasar potensial bagi produk keuangan mikro. Jika dikelola baik, pembukaan rekening massal ini dapat meningkatkan rasio kepemilikan rekening nasional secara signifikan dan memperkuat likuiditas perbankan dari sisi dana pihak ketiga, meski nilai per rekening tergolong kecil. Efek ganda terhadap perekonomian pun diharapkan muncul melalui peningkatan konsumsi dan aktivitas usaha mikro.

Kontra: Beban Fiskal, Risiko Idle Account, dan Literasi Rendah

Di sisi lain, sejumlah pihak menyoroti potensi beban fiskal yang tidak ringan. Pembukaan 25,1 juta rekening membutuhkan biaya administrasi, verifikasi identitas, hingga infrastruktur layanan di daerah terpencil. Tanpa perencanaan yang matang, program ini berisiko menjadi beban anggaran yang tidak sebanding dengan manfaat langsungnya.

Risiko lain adalah munculnya rekening menganggur atau idle account. Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pembukaan rekening massal tanpa disertai edukasi sering berakhir dengan rekening yang tidak pernah digunakan. Jika demikian, inklusi keuangan hanya bersifat formalitas di atas kertas, tanpa dampak nyata pada kesejahteraan. Tingkat literasi keuangan yang belum merata pun menjadi pekerjaan rumah tersendiri, terutama untuk mencegah jeratan pinjaman berbunga tinggi yang mengintai kelompok rentan.

Dari sisi sentimen pasar, kebijakan ini bisa memicu ekspektasi positif terhadap sektor perbankan dan lembaga keuangan mikro. Namun, para analis mengingatkan bahwa dampaknya terhadap valuasi saham perbankan akan bergantung pada eksekusi di lapangan. Jika penyaluran berjalan lambat atau data tidak akurat, proyeksi pertumbuhan portofolio segmen mikro bisa meleset dari target.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak ditentukan oleh jumlah rekening yang dibuka, melainkan oleh seberapa besar rekening tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup penerimanya. Pemerintah perlu memastikan pendampingan, literasi, dan pengawasan berjalan beriringan agar kebijakan ini tidak sekadar menjadi angka statistik semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User