RANS Catat Penurunan Pendapatan Tiga Tahun Berturut-turut, Ini Kata Nagita Slavina

Kinerja keuangan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) terus menyusut dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan yang bergerak di bidang hiburan dan manajemen artis ini mencatatkan penurunan pendapata...

RANS Catat Penurunan Pendapatan Tiga Tahun Berturut-turut, Ini Kata Nagita Slavina

Kinerja keuangan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) terus menyusut dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan yang bergerak di bidang hiburan dan manajemen artis ini mencatatkan penurunan pendapatan secara beruntun sejak 2023 hingga 2025. Tren negatif tersebut menjadi perhatian para pemegang saham dan pengamat industri, terutama karena RANS merupakan salah satu emiten baru yang melantai di bursa dengan nama besar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan bersih RANS pada tahun 2023 tercatat sebesar Rp248 miliar, namun angka itu turun signifikan menjadi Rp201 miliar di tahun 2024. Penurunan berlanjut pada tahun 2025 di mana pendapatan hanya mencapai Rp162 miliar. Dengan demikian, dalam dua tahun terakhir, pendapatan perusahaan anjlok hampir 35 persen. Kondisi ini juga diiringi oleh penyusutan laba bersih yang bahkan sempat berubah menjadi rugi pada kuartal-kuartal tertentu.

Penjelasan Nagita Slavina Soal Anomali Bisnis

Nagita Slavina, yang menjabat sebagai Chief Brand Officer RANS sekaligus figur sentral di balik citra perusahaan, akhirnya buka suara mengenai penyebab penurunan beruntun tersebut. Dalam sebuah kesempatan, ia mengungkapkan bahwa faktor utama yang membebani pendapatan RANS adalah perubahan drastis di lanskap hiburan digital dan pergeseran pola konsumsi masyarakat.

“Dulu konsep konten kita sangat kuat di televisi dan event offline. Tapi sejak pandemi, audiens pindah ke platform digital dengan ekspektasi berbeda. Revenue dari event dan iklan TV turun tajam, sementara monetisasi konten digital belum sepenuhnya menggantikan,” ujar Nagita. Ia juga menyoroti kenaikan biaya produksi konten yang tidak sebanding dengan pendapatan iklan digital yang dihasilkan.

Selain itu, Nagita mengakui bahwa RANS terlalu mengandalkan kekuatan nama besar Raffi Ahmad dan dirinya sendiri. Ketika jadwal keduanya mulai terbagi dengan proyek pribadi lain, output konten RANS menurun. “Kami belajar bahwa brand harus lebih besar dari talentanya. Sekarang kami restrukturisasi agar RANS tidak sekadar bergantung pada satu-dua figur,” tambahnya.

Tantangan Industri Hiburan Tanah Air

Penurunan yang dialami RANS sesungguhnya merupakan cerminan dari guncangan yang menerpa industri hiburan Indonesia pascapandemi. Banyak rumah produksi dan agensi artis menghadapi tekanan karena peralihan masif ke layanan streaming dan media sosial. Pendapatan dari iklan televisi nasional turun sekitar 12 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, sementara belanja iklan digital naik dua digit. Namun, lanskap digital juga sangat terfragmentasi dan kompetitif, sehingga tidak semua pelaku industri bisa langsung menikmati hasilnya.

Di sisi lain, biaya operasional untuk memproduksi konten berkualitas justru meningkat. RANS, yang semula banyak membuat program TV, harus beradaptasi dengan konten pendek di YouTube, TikTok, dan Instagram yang memerlukan frekuensi tinggi dan ide segar. Hal itu menuntut investasi baru pada sumber daya manusia dan peralatan, yang dalam jangka pendek justru menekan margin keuntungan.

Respon Pasar dan Strategi Perbaikan

Investor merespons kinerja RANS dengan cukup skeptis. Harga saham RANS yang sempat menyentuh level tertinggi Rp292 per saham pada awal 2023, terus merosot hingga menyentuh Rp130-an di akhir 2025. Kapitalisasi pasar menyusut, dan perdagangan saham menjadi lebih tipis. Meski demikian, manajemen optimistis bahwa langkah transformasi yang diambil akan membalikkan keadaan.

RANS saat ini tengah memperkuat lini bisnis digitalnya dengan meluncurkan platform konten berbayar dan memperluas jaringan kreator. Perusahaan juga mulai menggarap produksi film pendek dan serial mini untuk platform over-the-top (OTT). Di sektor lain, RANS berencana memasuki bisnis manajemen mikro-influencer yang dinilai lebih efisien secara biaya. Nagita Slavina menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi mengejar kuantitas konten, melainkan kualitas dan nilai tambah per unit konten.

Prospek ke Depan

Para analis memperkirakan tahun 2026 akan menjadi momen krusial bagi RANS untuk membuktikan bahwa pembalikan arah strategi berhasil. Jika pendapatan masih terkontraksi, kepercayaan publik dan investor akan sulit dipulihkan. Namun, jika efisiensi dan diversifikasi bisnis mulai menunjukkan hasil, bukan tidak mungkin RANS kembali mencatatkan pertumbuhan pada akhir tahun depan.

Yang pasti, perjalanan RANS menjadi pelajaran berharga bagi banyak perusahaan hiburan di Indonesia: kekuatan nama besar tidak selamanya menjamin kesuksesan finansial di era digital yang bergerak cepat. Adaptasi, inovasi, dan pengelolaan talenta secara kolektif menjadi kunci agar tetap relevan dan menguntungkan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User