Teh Daun Kopi Jadi Pilar Ekonomi Mandiri Toyomarto
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024, kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa Timur masih di kisaran 11,8%, namun sebagian besar nila...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024, kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa Timur masih di kisaran 11,8%, namun sebagian besar nilai tambahnya mengalir ke pusat kota, bukan ke desa penghasil. Di Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, celah itu mulai dijembatani lewat inovasi yang mengubah limbah daun kopi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi: teh daun kopi “Sedesa”. Program pengabdian masyarakat dari Himpunan Mahasiswa Logistik (Himalogista) Universitas Brawijaya bertajuk “Gerakan Masyarakat Desa” (Gema Desa) resmi meluncur di desa tersebut awal bulan ini, membawa misi mengerek kemandirian ekonomi lokal melalui pengembangan produk tersebut secara terstruktur.
Dari Limbah Perkebunan Menjadi Komoditas Strategis
Desa Toyomarto memiliki luas areal perkebunan kopi robusta sekitar 340 hektare yang selama ini hanya dimanfaatkan bijinya. Setiap musim pemangkasan, petani menghasilkan 2,5–3 ton daun kopi basah per hektare yang biasanya dibakar atau dibiarkan membusuk. Lewat pendampingan Himalogista UB, daun-daun itu diolah melalui proses pelayuan, penggulungan, oksidasi, dan pengeringan hingga menghasilkan seduhan dengan profil rasa mirip teh oolong. “Ini adalah contoh klasik circular economy di skala desa,” ujar Dr. Indriani, dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB yang turut membimbing program ini. “Limbah yang semula bernilai nol sekarang memiliki harga jual Rp15.000 hingga Rp25.000 per kemasan 100 gram, memberikan margin keuntungan bersih sekitar 40–55% bagi kelompok tani.”
Dua Sisi Dampak Ekonomi: Prospek dan Risiko
Di satu sisi, produk teh daun kopi “Sedesa” langsung menyerap tenaga kerja lokal. Sebanyak 47 kepala keluarga kini terlibat dalam rantai produksi—mulai dari pemetikan, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran daring. Pendapatan tambahan rata-rata peserta program tercatat naik Rp620.000 per bulan atau setara dengan 28% kenaikan pendapatan rumah tangga dibandingkan kuartal sebelumnya. Jika berjalan stabil, proyeksi omzet kelompok tani bisa menembus Rp120 juta per tahun, menciptakan efek pengganda bagi warung, transportasi, dan pemasok kemasan di sekitar desa.
Di sisi lain, keberlanjutan usaha ini belum sepenuhnya terbebas dari risiko struktural. Pertama, skalabilitas terhambat oleh keterbatasan alat pengering dan oven oksidasi yang masih bersifat semi-manual; kapasitas produksi maksimal baru 300 kemasan per minggu, sementara permintaan dari kafe dan toko oleh-oleh di Malang Raya sudah menyentuh angka 500 kemasan. Kedua, ketergantungan pada satu jenis bahan baku musiman membuat fluktuasi pasokan cukup tajam—di musim kemarau panjang, kualitas daun menurun dan volume panen bisa anjlok 35%. Ketiga, dari sisi makro, indeks harga konsumen untuk produk minuman herbal menunjukkan tren year-on-year 3,2% pada Agustus 2024, sehingga margin bisa tergerus jika tidak diimbangi efisiensi produksi.
Integrasi Rantai Pasok dan Akses Pembiayaan
Himalogista UB mendekati persoalan ini dengan membangun mini supply chain management system berbasis spreadsheet cerdas yang membantu kelompok tani memetakan stok daun, menghitung lead time produksi, dan merencanakan distribusi. “Kami mengajarkan prinsip logistik sederhana: dari kebun ke tangan konsumen tidak boleh lebih dari empat hari agar kesegaran terjaga,” jelas Luthfi, koordinator program Gema Desa. Sementara itu, untuk mengatasi kesenjangan kapasitas produksi, kelompok tani didorong mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian dengan suku bunga 6% per tahun. Jika disetujui, tambahan modal Rp50 juta bisa dipakai membeli mesin pengering berkapasitas 50 kg per batch yang mampu menggandakan output hingga 800 kemasan per minggu.
Meski demikian, tingkat literasi keuangan warga masih menjadi batu sandungan. Survei kecil yang dilakukan tim Gema Desa terhadap 30 anggota kelompok menunjukkan 67% responden belum pernah berinteraksi dengan lembaga keuangan formal. Oleh karena itu, program ini juga menyelipkan modul pelatihan pencatatan keuangan dasar dan simulasi kredit mikro agar para petani tidak terjebak pada skema pinjaman informal yang bunganya bisa mencapai 20–30% per bulan.
Prospek Jangka Menengah dan Catatan Akhir
Dengan dukungan penuh dari pemerintah desa yang telah mengalokasikan 7% Dana Desa 2025 untuk pengembangan produk unggulan lokal, teh daun kopi “Sedesa” berpeluang menjadi identitas baru Toyomarto. Sementara itu, pendekatan analitis yang dibawa mahasiswa logistik UB mengisi kekosongan pengelolaan rantai pasok yang kerap luput dari pelatihan pemberdayaan konvensional. Namun, agar tidak sekadar menjadi program “proyek selesai lalu selesai,” perlu ada exit strategy yang memastikan transfer pengetahuan benar-benar melembaga di koperasi desa. Jika itu terwujud, Toyomarto bisa menjadi model kemandirian ekonomi desa berbasis komoditas lokal yang layak direplikasi di daerah lain, sekaligus membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari kota besar.
“Yang kami lihat sekarang bukan lagi sekadar produk, melainkan terbentuknya ekosistem usaha desa yang perlahan melek pasar, digitalisasi, dan standar mutu. Itu aset yang lebih bernilai ketimbang omzet jangka pendek,” ujar Buffy, Analis Ekonomi Senior Beritadua, saat dihubungi pekan ini.
Baca juga:
Comments (0)