BUENOS AIRES — Industri peternakan dan pangan Argentina berada dalam guncangan hebat setelah produsen unggas terbesar di negara tersebut, Granja Tres Arroyos (Grupo GTA), resmi mengajukan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang atau concurso preventivo de acreedores ke Pengadilan Niaga Nasional. Langkah hukum darurat ini diambil di tengah krisis likuiditas akut, penutupan sejumlah fasilitas produksi, gelombang eksekusi piutang, serta pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menimpa ribuan pekerja.
Berdasarkan penelusuran sistem peradilan komersial Argentina, berkas perkara terdaftar dengan nomor COM 018558/2026 berjudul “Granja Tres Arroyos S.A.C.A.F.I. s/concurso preventivo” di Pengadilan Niaga No. 21, Sekretariat No. 42. Permohonan ini menandai kejatuhan lanjutan dari konglomerasi unggas tersebut, menjadikannya entitas bisnis kedua dalam payung Grupo GTA yang meminta perlindungan kebangkrutan setelah anak usahanya, Wade SA, menempuh jalur serupa beberapa waktu sebelumnya.
Kronologi dan Eskalasi Krisis Finansial Grupo GTA
Krisis yang menimpa Granja Tres Arroyos tidak terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari tekanan makroekonomi, lonjakan biaya operasional pakan ternak, dan utang perbankan yang menumpuk:
- Tahap Awal Tekanan Likuiditas: Sejumlah lini pabrik pengolahan ayam mulai mengalami perlambatan rantai pasok dan kegagalan pembayaran kepada para mitra peternak serta pemasok bahan baku pakan.
- Langkah Pertama Anak Usaha: Wade SA lebih dulu mendaftarkan permohonan pailit/restrukturisasi setelah digugat oleh puluhan kreditur swasta yang menuntut eksekusi aset.
- Eskalasi Gugatan dan Penutupan Pabrik: Sejumlah pabrik utama terpaksa menghentikan operasional pemotongan dan pemrosesan karkas ayam, memicu permohonan kepailitan paksa dari pihak ketiga.
- Pendaftaran Resmi ke Pengadilan: Manajemen Granja Tres Arroyos S.A.C.A.F.I. secara formal mendaftarkan berkas restrukturisasi ke Juzgado Comercial N°21 guna menahan sita eksekusi aset dan menyusun ulang skema pembayaran utang.
"Langkah hukum ini adalah upaya terakhir korporasi untuk melindungi kelangsungan operasional dan mencegah likuidasi aset secara paksa di tengah serbuan gugatan para kreditur," ungkap sumber internal yang mengetahui jalannya proses peradilan.
Dampak Sosial: Badai PHK dan Ancaman Rantai Pasok Pangan
Selain guncangan finansial terhadap para kreditur, krisis ini memicu bencana ketenagakerjaan berskala besar di sektor riil. Serikat pekerja industri perunggasan setempat melaporkan dampak yang sangat signifikan:
- Pemangkasan Tenaga Kerja: Sedikitnya 1.730 pekerja telah dirumahkan atau terkena PHK, merepresentasikan lebih dari 25% dari total keseluruhan tenaga kerja perusahaan.
- Lumpuhnya Fasilitas Produksi: Beberapa pabrik pemrosesan utama berhenti beroperasi penuh, mengancam ketersediaan pasokan daging ayam domestik maupun kuota ekspor negara tersebut.
- Dampak Sistemik Mitra Peternak: Ratusan peternak mandiri skala kecil dan menengah yang terikat kontrak kemitraan mengalami ketidakpastian pembayaran atas bibit dan pakan yang telah disalurkan.
Hingga pertengahan September, status berkas perkara Granja Tres Arroyos tercatat masih dalam tahap penelaahan majelis hakim (en despacho). Keputusan hakim atas pembukaan resmi restrukturisasi utang ini akan menjadi penentu apakah raksasa unggas Argentina tersebut mampu merestrukturisasi neraca keuangannya atau terancam jatuh ke jurang likuidasi penuh.
Comments (0)