Rachmat Gobel Berpulang, Dunia Usaha dan Politik Berduka
Kabar duka menyelimuti Indonesia. Dunia usaha dan politik Tanah Air kehilangan salah satu putra terbaiknya, Rachmat Gobel. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sekaligus pendiri...
Kabar duka menyelimuti Indonesia. Dunia usaha dan politik Tanah Air kehilangan salah satu putra terbaiknya, Rachmat Gobel. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sekaligus pendiri dan pemimpin Grup Gobel itu mengembuskan napas terakhirnya di usia 62 tahun pada Sabtu (22/6). Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan sejawat, kolega bisnis, dan para tokoh nasional yang mengenalnya sebagai seorang pionir industri elektronik sekaligus politikus santun dan berintegritas.
Perjalanan Sang Visioner: Dari Bengkel Kecil Hingga Raksasa Elektronik
Lahir di Jakarta pada 3 Agustus 1963, Rachmat Gobel adalah putra dari almarhum Thayeb Mohammad Gobel, pelopor industri elektronik Indonesia yang mendirikan Gobel Dharma Nusantara. Namun, Rachmat tidak sekadar mewarisi kekuasaan. Setelah menamatkan pendidikan di Jepang—negeri yang kelak menjadi mitra pentingnya—ia pulang dan mentransformasi perusahaan keluarga menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara. Di tangannya, nama Panasonic Gobel tidak hanya identik dengan televisi, radio, atau alat rumah tangga, tetapi juga menjadi simbol alih teknologi dan kemandirian komponen.
Data Kementerian Perindustrian mencatat, pada puncaknya, Grup Gobel menguasai lebih dari 20 persen pasar elektronik konsumen nasional dan mendirikan puluhan pabrik yang menyerap lebih dari 14.000 tenaga kerja langsung. Di bawah kendali Rachmat, perusahaan berekspansi ke sektor logistik, makanan, dan bahkan infrastruktur, dengan total aset yang sempat ditaksir menembus Rp9 triliun. Transformasi itu tidak lepas dari visinya: "Elektronik bukan sekadar produk, melainkan jembatan peradaban." Ia gigih memperjuangkan agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen komponen bernilai tambah tinggi.
Karier Politik: Dari Pengusaha Menjadi Pelayan Publik
Meski sibuk dengan gurita bisnisnya, Rachmat Gobel memilih untuk melayani bangsa melalui jalur politik. Pada 2014, ia dipercaya Presiden Joko Widodo menduduki jabatan Menteri Perdagangan. Hanya 15 bulan masa tugasnya, ia berhasil merampingkan tujuh regulasi yang semula menghambat ekspor dan layanan perdagangan, memangkas waktu perizinan hingga 40 persen. Di luar itu, ia juga meletakkan fondasi Sistem Resi Gudang yang lebih inklusif bagi petani kecil.
Setelah dari kabinet, ia terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024 dari Partai NasDem mewakili daerah pemilihan Gorontalo—daerah leluhur yang selalu ia sebut sebagai "napas inspirasi." Di Senayan, Rachmat menjadi anggota Komisi VI yang mengawasi BUMN, investasi, dan persaingan usaha. Rekan sejawat mencatat ia sebagai figur yang teliti, selalu membawa data aktual, dan tak jarang mengkritisi rendahnya serapan produk dalam negeri di proyek-proyek strategis. Bahkan di pengujung hayatnya, ia masih menyiapkan draf RUU Ketahanan Komponen Nasional, sebuah warisan yang kini belum tuntas.
Kenangan dan Penghormatan dari Para Tokoh
Rumah duka di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ramai didatangi pelayat dari berbagai kalangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang hadir langsung mengungkapkan rasa kehilangannya. "Bang Rachmat adalah guru sekaligus senior yang membukakan saya pintu dunia usaha. Beliau bukan hanya mengajarkan strategi, tapi juga integritas. Indonesia kehilangan," ucap Bahlil dengan suara terbata. Tak hanya Bahlil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta para CEO perusahaan multinasional turut memberikan penghormatan terakhir.
Di kalangan kolega bisnis, Rachmat dikenal sebagai negosiator tangguh yang mampu menjaga hubungan jangka panjang. Ia berperan kunci dalam mempertahankan investasi Panasonic di Indonesia selama puluhan tahun, di tengah gelombang relokasi pabrik ke Vietnam dan Bangladesh. Keberhasilannya merangkul Jepang juga tercermin dari raihan Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star dari Kaisar Jepang pada 2015 atas jasanya memperdalam hubungan ekonomi bilateral. Itu adalah dekorasi tertinggi yang pernah diterima seorang pengusaha Indonesia.
Dari sisi domestik, sikapnya yang merakyat menjadi ciri khas. Ia sering blusukan ke pasar tradisional, mendengar keluhan pedagang, dan menyisipkan program pelatihan berbasis padat karya di sekitar pabrik-pabriknya. Mantan Presiden Jusuf Kalla, yang juga hadir di hari duka, mengenang momen pembangunan pabrik di Cibitung saat keduanya sama-sama masih muda. “Rachmat selalu bilang, saya ini produsen, bukan pedagang. Bedanya, produsen harus punya hati,” tutur Kalla.
Warisan dan Jejak yang Abadi
Di ruang publik, Rachmat Gobel mungkin paling dikenang melalui merek-merek yang akrab di keseharian keluarga Indonesia. Namun, warisan terbesarnya barangkali terletak pada peta jalan industrialisasi yang ia perjuangkan. Sebagai anggota Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), ia lantang menyuarakan pentingnya local content requirement dan insentif riset bagi perusahaan yang mengembangkan komponen dalam negeri. Data Kementerian Koordinator Perekonomian memperlihatkan, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ia dorong telah menaikkan rata-rata TKDN produk elektronik dari 22 persen pada 2019 menjadi 37 persen pada 2025, meskipun masih jauh dari target ideal 50 persen.
Kepergian Rachmat Gobel memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan misi besarnya? Anak-anaknya, yang selama ini aktif di unit-unit bisnis keluarga, diharapkan mampu menjaga nyala lilin yang telah dinyalakan. Di DPR, belum jelas apakah kursinya akan digantikan oleh kader yang memiliki visi produksi serupa. Yang pasti, nama Rachmat Gobel akan terus terpatri, bukan sebagai sekadar pengusaha kaya, melainkan sebagai negarawan kapitalis yang percaya bahwa kemakmuran sejati hanya bisa dicapai saat Indonesia berhenti sekadar merakit dan mulai mencipta.
Prosesi pemakaman direncanakan berlangsung di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta, Senin (24/6) pagi, setelah disemayamkan di Masjid Agung Sunda Kelapa. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan pengamanan khusus mengingat tingginya intensitas pelayat yang diperkirakan hadir. Seluruh pabrik Grup Gobel akan menghentikan operasi selama satu hari sebagai bentuk penghormatan, sementara bendera perusahaan dikibarkan setengah tiang di 12 lokasi utama.
Selamat jalan, Bapak Elektronik Indonesia. Engkau telah menunjukkan bahwa di balik angka-angka bisnis, ada hati yang memikirkan buruh, ada mimpi yang menolak bangsa ini menjadi sekadar pasar bagi produk asing.
Baca juga:
Comments (0)