Bahlil Targetkan Campuran Etanol 10% di Bensin Mulai Tahun Depan

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memasang target ambisius untuk merealisasikan program pencampuran bioetanol 10% ke dalam bahan bakar bensin pada tahun 2026. Menter...

Bahlil Targetkan Campuran Etanol 10% di Bensin Mulai Tahun Depan

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memasang target ambisius untuk merealisasikan program pencampuran bioetanol 10% ke dalam bahan bakar bensin pada tahun 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen tersebut sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.

Langkah Strategis di Tengah Tekanan Impor

Indonesia masih sangat bergantung pada bensin impor untuk memenuhi konsumsi domestik yang terus meningkat. Dengan mencampurkan etanol yang diproduksi dari bahan baku nabati, diharapkan volume impor dapat ditekan secara bertahap. Upaya substitusi 10% etanol dalam bensin setara dengan penghematan devisa miliaran dolar per tahun, sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani tebu, singkong, dan jagung.

Di sisi lain, tantangan infrastruktur dan konsistensi pasokan menjadi pekerjaan rumah besar. Produsen bioetanol dalam negeri saat ini masih didominasi oleh industri berbasis molase tetes tebu yang kapasitasnya terbatas. Pemerintah perlu memastikan bahwa pasokan etanol mencapai sedikitnya 2,5 juta kiloliter per tahun untuk memenuhi mandatori 10%, sebuah lonjakan signifikan dari produksi nasional yang masih di bawah satu juta kiloliter.

Dukungan Regulasi dan Insentif Fiskal

Bahlil menyebutkan bahwa regulasi turunan dari Peraturan Presiden tentang Percepatan Pengembangan Bahan Bakar Nabati akan segera diterbitkan. Beleid tersebut akan mengatur mekanisme insentif bagi produsen, termasuk kemungkinan subsidi selisih harga antara etanol dan bensin. Tanpa intervensi fiskal, harga etanol di tingkat konsumen bisa lebih mahal hingga 30-40% dibandingkan bensin nonsubsidi, sehingga program ini berisiko terbentur resistensi pasar.

Namun, para ekonom energi mengingatkan bahwa subsidi yang terlalu besar justru akan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Opsi lain yang dikaji adalah penerapan pungutan ekspor komoditas tertentu untuk mendanai selisih harga, mirip dengan skema yang berhasil pada program biodiesel 35% (B35).

Potensi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular

Penggunaan campuran etanol 10% (E10) dapat menurunkan emisi karbon monoksida hingga 30% dan mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Dari sisi ekonomi, pengembangan industri etanol berpotensi menciptakan efek pengganda di pedesaan, mulai dari perluasan lahan pertanian, penyerapan tenaga kerja, hingga tumbuhnya pabrik-pabrik pengolahan skala kecil-menengah.

Meski demikian, aktivis lingkungan menggarisbawahi risiko alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan tebu atau jagung yang justru kontraproduktif bagi target net zero emission. Pemerintah disebut perlu menerapkan kebijakan tata ruang ketat dan mendorong pemanfaatan lahan tidur agar produksi etanol tidak mengorbankan kawasan bernilai ekologis tinggi.

Pelajaran dari Brazil dan Thailand

Indonesia bukanlah negara pertama yang menerapkan mandatori bioetanol. Brazil sukses dengan program Proalcool sejak 1970-an yang menjadikan campuran etanol di bensin bisa mencapai 27%. Kunci keberhasilan mereka terletak pada integrasi vertikal industri tebu, insentif pajak kendaraan flex-fuel, dan investasi riset varietas unggul. Thailand juga telah menerapkan E10 dan E20 secara bertahap dengan memanfaatkan singkong sebagai bahan baku utama.

Kedua negara tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kemitraan erat antara pemerintah, produsen kendaraan, dan industri bahan bakar. Di Indonesia, diperlukan penyesuaian teknologi mesin dan standar bahan bakar agar seluruh kendaraan kompatibel dengan etanol yang bersifat korosif pada komponen tertentu.

Tantangan di Lapangan

Beberapa uji coba yang telah dilakukan di stasiun pengisian bahan bakar menunjukkan antusiasme publik masih terbatas, terutama karena kekhawatiran performa mesin. Sosialisasi massif dan jaminan mutu menjadi faktor penentu adopsi E10 di masyarakat. Pemerintah dijadwalkan melakukan uji kinerja pada ratusan kendaraan dinas dan angkutan umum sepanjang semester pertama 2026 sebelum meluncurkan penjualan ritel.

Dengan target yang dicanangkan Bahlil, tahun depan menjadi momentum krusial bagi Indonesia untuk membuktikan bahwa energi bersih dari sumber domestik bukan sekadar wacana, melainkan solusi nyata bagi ketahanan energi nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User