Airlangga Ungkap Duka Mendalam atas Berpulangnya Rachmat Gobel

Kabar meninggalnya Rachmat Gobel pada Kamis (10/7/2026) menimbulkan gelombang duka di kalangan pejabat tinggi negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tampak terhenyak saat m...

Airlangga Ungkap Duka Mendalam atas Berpulangnya Rachmat Gobel

Kabar meninggalnya Rachmat Gobel pada Kamis (10/7/2026) menimbulkan gelombang duka di kalangan pejabat tinggi negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tampak terhenyak saat menerima kabar itu. Ia langsung menyampaikan rasa kehilangan yang amat dalam atas berpulangnya politikus dan pengusaha senior yang selama ini menjadi mitra kerjanya.

Respons Spontan dari Airlangga Hartarto

Kabar duka itu sampai kepada Airlangga saat ia tengah memimpin rapat koordinasi di kantornya. Ekspresi wajahnya langsung berubah, dan ia pun menghentikan rapat sejenak untuk menyampaikan kabar tersebut kepada jajaran. “Saya sangat kehilangan. Beliau adalah figur langka yang menguasai seluk-beluk bisnis sekaligus memiliki kepekaan terhadap kebijakan publik,” ujar Airlangga. Ia menambahkan, Gobel sering menjadi tempat bertukar pikiran tatkala pemerintah membutuhkan masukan tentang dinamika sektor riil. Ketua Umum Partai Golkar itu menegaskan bahwa kepergian Gobel adalah pukulan berat bagi partai dan bagi Indonesia secara keseluruhan.

Siapa Rachmat Gobel: Jejak Panjang di Bisnis dan Politik

Rachmat Gobel adalah pemilik Gobel Group, perusahaan yang didirikan ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, pada 1954. Di bawah kendalinya, grup ini melebarkan sayap dari produk elektronik konsumen seperti radio dan televisi, ke sektor farmasi, otomotif, hingga perbankan syariah. Dengan latar belakang itu, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada 2014 hingga 2015, sebelum akhirnya terpilih menjadi anggota DPR dari dapil Gorontalo. Selama di Senayan, ia ditempatkan di Komisi VI yang mengawasi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN, dan UMKM—posisi yang sangat strategis dan sejalan dengan pengalamannya sebagai pengusaha.

Kiprah di Komisi VI dan Pembelaan Terhadap Industri Lokal

Selama bertugas, Gobel dikenal vokal mengkritisi kebijakan yang dinilai merugikan produk dalam negeri. Ia berkali-kali mendorong revisi aturan yang membuka keran impor secara longgar, terutama untuk barang elektronik dan tekstil. Komisi VI sering menjadi saksi perdebatan sengit antara Gobel dengan mitra pemerintah. Kolaborasi keduanya terlihat saat membahas revisi Undang-Undang Perindustrian. Gobel menyodorkan data bahwa lebih dari 60 persen produk elektronik di pasar nasional adalah barang impor yang mengancam pabrikan lokal. Angka-angka itu, kata Airlangga, menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan proteksi bertahap. “Justru karena dia mengerti detail lapangan, diskusi kami selalu produktif. Dia tak hanya mengkritik, tapi selalu menawarkan solusi konkret,” kenang Airlangga.

Kenangan Pribadi Airlangga: Lebih dari Sekadar Kolega

Airlangga mengaku memiliki ikatan emosional lebih dari sekadar hubungan kerja. Keduanya sering berdiskusi di sela-sela rapat kabinet atau acara partai. “Kami sering melepas lelah setelah rapat panjang. Beliau suka cerita soal awal mula merintis bisnis di era Orde Baru, sampai bagaimana ia bisa bertahan di tengah gempuran barang impor. Cerita-cerita itu selalu memotivasi saya,” kata Airlangga. Ia juga menyebut bahwa Gobel adalah salah satu kader Golkar yang paling setia dan tak pernah pamrih.

Duka dari Berbagai Pihak

Tak hanya Airlangga, sejumlah menteri dan pimpinan DPR juga menyampaikan belasungkawa. Ketua DPR mengeluarkan pernyataan resmi mengenang dedikasi Gobel. Para pelaku usaha yang sering berinteraksi dengannya di kamar dagang juga merasakan kehilangan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang juga menyampaikan duka melalui sambungan virtual menyebut Gobel sebagai "ksatria industri nasional". “Beliau adalah jembatan antara dunia usaha dan pemerintah. Tanpanya, suara pengusaha lokal akan semakin sulit didengar,” ujar salah satu pengusaha elektronik. Pujian serupa mengalir dari asosiasi UMKM yang merasa selalu mendapat advokasi dari Gobel.

Warisan Tak Ternilai

Airlangga menilai, warisan terbesar Rachmat Gobel bukanlah gedung-gedung pabrik atau portofolio bisnisnya, melainkan semangat pantang menyerah dan kecintaannya pada Indonesia. “Kita kehilangan pelita, tetapi semangatnya harus terus menyala. Saya pribadi akan meneruskan jejaknya memperjuangkan kemandirian ekonomi bangsa,” pungkas Airlangga. Pemerintah pun diharapkan dapat melanjutkan pekerjaan rumah yang ia tinggalkan, terutama rancangan undang-undang perlindungan industri strategis yang sedang dibahas di Komisi VI.

Rachmat Gobel meninggalkan istri dan tiga anak. Jenazahnya akan disemayamkan di kediaman di Jakarta sebelum dikebumikan di kampung halamannya di Gorontalo, sesuai wasiat almarhum. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, sekaligus motor penggerak industri nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User