Purbaya Buka Suara soal Pencalonan Tunggal Destry Damayanti sebagai Gubernur BI
Berdasarkan data Bank Indonesia per Oktober 2025, BI-Rate berada di level 4,75 persen setelah serangkaian pemangkasan sepanjang tahun berjalan, sementara inflasi tahunan tetap terkendali di dalam kisa...
Berdasarkan data Bank Indonesia per Oktober 2025, BI-Rate berada di level 4,75 persen setelah serangkaian pemangkasan sepanjang tahun berjalan, sementara inflasi tahunan tetap terkendali di dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen dan cadangan devisa bertahan di sekitar US$150 miliar. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga itu, Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara mengenai keputusan tersebut dan menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap sosok yang kini menjabat Deputi Gubernur Senior BI itu.
Purbaya menilai pengalaman panjang Destry di bank sentral menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter. Pernyataan ini sekaligus meredam spekulasi yang berkembang di pasar keuangan sejak sejumlah nama kandidat beredar dalam beberapa pekan terakhir.
Rekam Jejak Panjang di Bank Sentral
Destry Damayanti bukan wajah baru di Bank Indonesia. Perempuan kelahiran Jakarta ini menjabat Deputi Gubernur Senior sejak Agustus 2019, posisi tertinggi kedua di bank sentral. Sebelumnya, ia menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2015 hingga 2019, setelah lama berkarier di Bank Indonesia sejak era 1980-an. Latar belakangnya sebagai ekonom lulusan Universitas Indonesia dengan gelar master dari Cornell University, Amerika Serikat, membuatnya dikenal sebagai teknokrat yang fasih membaca data.
Selama menjabat Deputi Gubernur Senior, Destry membidangi antara lain digitalisasi sistem pembayaran. Dalam periode kepemimpinannya, pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menembus lebih dari 50 juta pengguna, sementara transaksi pembayaran digital mengalami kenaikan dua digit year-on-year dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga terlibat dalam perumusan kebijakan stabilisasi nilai tukar ketika rupiah bergejolak hingga menembus Rp16.700 per dolar AS pada paruh pertama 2025.
Di Satu Sisi: Kepastian bagi Sentimen Pasar
Di satu sisi, pencalonan tunggal ini memberikan kepastian bagi pelaku pasar. Dengan hanya satu nama, proses transisi kepemimpinan di bank sentral diproyeksi berjalan mulus tanpa tarik-menarik politik yang berkepanjangan. Bagi investor portofolio asing yang memegang surat berharga negara (SBN) dengan porsi kepemilikan sekitar 14 persen dari total outstanding, kejelasan arah kebijakan moneter merupakan variabel penting sebelum menambah atau mengurangi posisi.
Kontinuitas juga menjadi nilai tambah. Destry terlibat langsung dalam perumusan bauran kebijakan BI saat ini, mulai dari pemangkasan suku bunga acuan hingga penguatan operasi moneter untuk menjaga likuiditas perbankan. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per Agustus 2025 tercatat di atas 25 persen, jauh melampaui batas minimum 8 persen, sehingga ruang pelonggaran likuiditas masih terbuka lebar.
Destry adalah sosok yang sangat berpengalaman dan memahami bank sentral luar dan dalam. Pemerintah menghormati keputusan Presiden dan yakin beliau mampu menjaga stabilitas moneter sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, ujar Purbaya.
Di Sisi Lain: Independensi dan Terbatasnya Pilihan DPR
Di sisi lain, skema calon tunggal menuai catatan kritis. Mekanisme ini praktis membuat DPR kehilangan ruang untuk membandingkan kandidat, sehingga uji kelayakan berisiko menjadi formalitas belaka. Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kredibilitas bank sentral sangat bergantung pada persepsi independensi, terutama ketika pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen, jauh di atas realisasi 5,12 persen year-on-year pada kuartal II 2025.
Kekhawatiran yang mengemuka adalah potensi dominasi fiskal, yakni kondisi ketika kebijakan moneter terseret kepentingan pembiayaan anggaran. Jika pasar menilai BI terlalu akomodatif, risiko capital outflow dari pasar obligasi dan saham bisa meningkat, menekan rupiah, dan pada gilirannya mengganggu tren disinflasi yang sudah terbentuk. Apalagi selisih imbal hasil SBN dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun yang berada di kisaran 4 persen kini semakin tipis, sehingga daya tarik aset domestik relatif menyempit.
Tantangan dan Proyeksi ke Depan
Siapa pun yang memimpin BI menghadapi daftar pekerjaan rumah yang tidak ringan: menjaga rupiah di tengah ketidakpastian arah kebijakan The Fed, memperdalam pasar keuangan domestik agar tidak bergantung pada dana asing, serta melanjutkan pengembangan rupiah digital. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak di kisaran 8.000 menunjukkan valuasi pasar yang sensitif terhadap setiap sinyal kebijakan dari bank sentral.
Proyeksi sejumlah ekonom, bila inflasi tetap berada di dalam sasaran, ruang pemangkasan BI-Rate menuju 4,50 persen pada 2026 masih terbuka, meski kecepatannya akan sangat bergantung pada data. Kini, perhatian pelaku pasar tertuju pada Komisi XI DPR yang akan menggelar fit and proper test. Hasilnya akan menentukan apakah estafet kepemimpinan bank sentral berjalan sehalus yang diharapkan pemerintah, atau justru membuka perdebatan baru mengenai masa depan independensi otoritas moneter di Tanah Air.
Comments (0)