Sep 09, 2026
Nasional

Puluhan Warga Bantaran Rel Gaplok Mulai Tempati Huntara Kramat Raya

Deru klakson lokomotif yang memekakkan telinga dan getaran tanah akibat laju kereta api perlahan berganti dengan kesunyian lorong-lorong Hunian Sementara (

Puluhan Warga Bantaran Rel Gaplok Mulai Tempati Huntara Kramat Raya

Deru klakson lokomotif yang memekakkan telinga dan getaran tanah akibat laju kereta api perlahan berganti dengan kesunyian lorong-lorong Hunian Sementara (Huntara) di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Bagi puluhan keluarga yang selama puluhan tahun bertaruh nyawa di bantaran rel kawasan Pasar Gaplok, Senen, kepindahan ini menandai babak baru penataan ruang hidup yang lebih manusiawi, meski dibayangi ketidakpastian masa depan.

Hingga pekan pertama September, data pengelolaan mencatat sebanyak 69 unit dari total 324 unit yang tersedia telah terisi oleh warga eks bantaran rel. Kompleks hunian modular bertingkat ini dirancang sebagai solusi transisi cepat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta guna mengamankan jalur perkeretaapian nasional sekaligus mereduksi kawasan kumuh padat di jantung ibu kota.

Jejak Relokasi dan Pergeseran Pola Hidup

Penelusuran di lapangan menunjukkan perubahan drastis dalam ritme harian warga. Di bantaran rel Pasar Gaplok, aktivitas ekonomi berlangsung 24 jam dengan sirkulasi perdagangan informal yang padat. Namun, di Huntara Kramat Raya, keteraturan dan protokol kebersihan menjadi aturan mutlak yang harus ditaati demi kenyamanan bersama.

"Tidur sekarang jauh lebih tenang tanpa rasa waswas tersambar kereta tengah malam. Namun, tantangan terberat kami sekarang adalah mencari nafkah kembali karena lapak jualan di pasar lama sudah dibongkar," ungkap salah seorang warga yang baru menempati unit lantai dua.

Fasilitas dasar di Huntara mencakup instalasi listrik mandiri, pasokan air bersih terpusat, serta toilet komunal yang terjaga kebersihannya. Kendati demikian, tingkat keterisian yang baru menyentuh angka 21,3 persen memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas proses verifikasi dan adaptasi warga terdampak relokasi lainnya.

Tantangan Integrasi dan Mata Pencaharian

Relokasi spasial kerap kali memutus urat nadi ekonomi kaum marjinal perkotaan. Warga Pasar Gaplok yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang asongan, buruh angkut pasar, dan pemulung kini dihadapkan pada jarak tempuh baru menuju pusat aktivitas ekonomi mereka.

Sejumlah catatan kritis terkait penataan warga eks bantaran rel ini meliputi:

  • Aksesibilitas Ekonomi: Belum adanya zonasi usaha mikro resmi di dalam area Huntara membuat sebagian warga kehilangan penghasilan harian.
  • Verifikasi Administrasi: Proses pencocokan data kependudukan (KTP dan KK) DKI Jakarta yang ketat memperlambat proses okupansi sisa 255 unit lainnya.
  • Jaminan Status Transisi: Kejelasan jangka waktu tinggal sebelum warga dialihkan ke Hunian Tetap (Huntap) atau Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa).

Menanti Kepastian Solusi Jangka Panjang

Huntara secara konseptual hanyalah jembatan sementara. Keberhasilan penataan kawasan relokasi Pasar Gaplok tidak hanya diukur dari seberapa cepat bantaran rel steril dari pemukiman liar, melainkan sejauh mana kebijakan publik ini mampu mengangkat taraf kesejahteraan warga tanpa meminggirkan mereka ke tepi jurang kemiskinan kota.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User