Sep 09, 2026
Nasional

KAPUAS HULU — Kebakaran Hutan Meluas di Kalimantan Barat

Pantauan udara pada Jumat, 4 September 2026, memperlihatkan pemandangan mengkhawatirkan di atas langit Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kepulan asa

KAPUAS HULU — Kebakaran Hutan Meluas di Kalimantan Barat

Pantauan udara pada Jumat, 4 September 2026, memperlihatkan pemandangan mengkhawatirkan di atas langit Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kepulan asap tebal membumbung tinggi menyelimuti ribuan hektar lahan gambut serta kawasan penyangga hutan lindung. Hasil investigasi Beritadua.com mencatat bahwa lonjakan titik panas (hotspot) dalam sepekan terakhir telah menaikkan status kedaruratan di wilayah tersebut. Data satelit mengonfirmasi setidaknya 1.450 hektar lahan telah hangus terbakar hanya dalam kurun waktu empat hari pertama bulan September.

Esukalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini berlangsung cepat seiring meningkatnya intensitas angin kering di wilayah barat Kalimantan. Berdasarkan kronologi kejadian yang dihimpun tim penanggulangan bencana:

  1. 1 September 2026: Satelit Terra/Aqua mendeteksi kemunculan awal 12 titik panas di Kecamatan Badau dan Suhaid yang berbatasan langsung dengan area perkebunan.
  2. 2 September 2026: Tiupan angin kencang membuat kobaran api melompati parit penyekat dan membakar lapisan tanah gambut dalam hingga menembus batas kawasan penyangga Taman Nasional Betung Kerihun.
  3. 3 September 2026: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kapuas Hulu menembus angka 285 (Sangat Tidak Sehat), memicu gangguan penglihatan dan mobilitas warga.
  4. 4 September 2026: Tim Satgas Karhutla menerjunkan operasi pemadaman udara (water bombing) setelah gambar udara mengonfirmasi meluasnya kehancuran ekosistem gambut.

Analisis Investigatif: Unsur Kesengajaan dan Pelemahan Pengawasan Lapangan

Investigasi mendalam yang dilakukan Beritadua.com mengindikasikan bahwa bencana ekologis ini tidak semata-mata dipicu oleh kemarau panjang. Pola penyebaran titik api yang memanjang sejajar dengan batas wilayah konsesi perkebunan menguatkan dugaan adanya praktik pembakaran lahan (slash-and-burn) yang disengaja demi menekan biaya pembersihan lahan.

"Kami menemukan anomali berupa titik awal api yang muncul secara bersamaan di beberapa area konsesi swasta. Kombinasi penurunan muka air tanah gambut hingga -60 sentimeter dan minimnya pengawasan darat menciptakan kondisi yang sangat rentan terbakarnya ekosistem ini," ungkap Dr. Aris Munandar, peneliti ekologi lanskap dari Universitas Tanjungpura.

Data Perbandingan Dampak Karhutla di Kalimantan Barat (Januari–September 2026)

Berikut adalah perbandingan data dampak kebakaran lahan di beberapa kabupaten utama Kalimantan Barat sepanjang tahun 2026:

Kabupaten Jumlah Titik Panas Estimasi Luas Terbakar (Ha) Status Mutu Udara (ISPU)
Kapuas Hulu 312 1.450 Sangat Tidak Sehat (285)
Ketapang 425 2.100 Berbahaya (310)
Kubu Raya 198 890 Tidak Sehat (165)
Sintang 145 620 Sedang (85)

Dampak Ekologis dan Pertanggungjawaban Hukum

Kebakaran hutan yang terus mengganas di Kapuas Hulu membawa ancaman serius bagi koridor keanekaragaman hayati Heart of Borneo. Selain merusak habitat flora dan fauna langka, kebakaran di atas lahan gambut melepaskan estimasi 350.000 ton CO2 ekuivalen ke atmosfer, memperburuk laju emisi karbon nasional.

Di sektor kesehatan, fasilitas medis di lima kecamatan terdampak melaporkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 40 persen hanya dalam waktu 72 jam. Masyarakat mendesak penegak hukum untuk mengusut tuntas keterlibatan pihak korporasi. Saat ini, Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Polda Kalbar telah menyegel dua lokasi kebakaran dan menyita alat berat guna proses penyelidikan lebih lanjut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User