Sep 09, 2026
Nasional

Kotawaringin Timur — Tim Gabungan Evakuasi Induk dan Bayi Orangutan dari Karhutla

Kepulan asap pekat dan kobaran api yang melalap lahan gambut di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali menelan korban dari keanekaragaman hayati nu

Kotawaringin Timur — Tim Gabungan Evakuasi Induk dan Bayi Orangutan dari Karhutla

Kepulan asap pekat dan kobaran api yang melalap lahan gambut di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali menelan korban dari keanekaragaman hayati nusantara. Di tengah kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sepasang primata endemik Kalimantan—induk orangutan bernama Raya dan bayinya yang diberi nama Rayu—berhasil diselamatkan dari ambang maut melalui operasi penyelamatan darurat.

Penyelamatan dramatis tersebut dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, personel TNI, serta tim medis dan lapangan dari Orangutan Foundation International (OFI). Keduanya ditemukan dalam kondisi lemas dan mengalami dehidrasi berat saat terjebak di sisa pepohonan yang telah hangus terbakar.

Operasi Penyelamatan di Tengah Kepungan Api

Berdasarkan penelusuran di lapangan, keberadaan Raya dan Rayu pertama kali terdeteksi saat petugas pemadam gabungan menyisir titik api di kawasan konsesi yang berbatasan langsung dengan hutan lindung. Sang induk terlihat mendekap erat anaknya di atas dahan pohon setinggi 15 meter yang bagian bawahnya mulai dijilat api.

"Kondisi di lokasi sangat kritis. Jika evakuasi terlambat beberapa jam saja, keduanya berisiko tinggi mati lemas akibat menghirup gas karbon monoksida pekat atau terjatuh ke bara api," ungkap salah satu petugas medis OFI di lokasi evakuasi.

Tim medis terpaksa menggunakan senapan bius dosis terukur untuk melumpuhkan Raya demi keselamatan keduanya. Saat sang induk mulai kehilangan kesadaran, jaring pengaman segera dibentangkan oleh personel TNI dan relawan untuk menangkap keduanya dari ketinggian, memastikan bayi Rayu tidak terlepas dari dekapan sang induk.

Ancaman Nyata Deforestasi dan Krisis Habitat

Tragedi yang menimpa Raya dan Rayu menjadi potret nyata dari ancaman deforestasi serta pembukaan lahan gambut secara ilegal yang memicu karhutla tahunan. Fragmentasi habitat memaksa satwa liar keluar dari zona aman mereka dan masuk ke kawasan berbahaya.

Beberapa dampak serius dari eskalasi kebakaran hutan terhadap populasi orangutan antara lain:

  • Hilangnya Koridor Pakan: Kebakaran memusnahkan pohon buah hutan yang menjadi sumber nutrisi utama primata.
  • Kerentanan Penyakit Pernapasan: Asap pekat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada satwa liar.
  • Meningkatnya Konflik Satwa dan Manusia: Satwa yang kelaparan terpaksa memasuki perkebunan warga, meningkatkan risiko perburuan liar.

Proses Rehabilitasi Panjang Menanti Raya dan Rayu

Setelah berhasil dievakuasi, Raya dan Rayu langsung dilarikan ke Pusat Karantina dan Perawatan Satwa Liar di Pangkalan Bun. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa sang induk mengalami luka bakar ringan di telapak tangan dan malnutrisi, sementara bayinya mengalami trauma psikologis akibat kebakaran hebat tersebut.

Kini keduanya berada di bawah pengawasan intensif dokter hewan untuk pemulihan fisik sebelum diputuskan apakah dapat segera ditranslokasikan ke kawasan hutan yang lebih aman atau harus menjalani proses rehabilitasi jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User