Oct 13, 2026
Bisnis

Program Korporasi Dorong Kebangkitan Ekonomi Perajin Tenun Desa Adat Sade

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal terakhir, sektor industri mikro dan kerajinan rakyat menyumbang sekitar 14,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, namun masih ...

Program Korporasi Dorong Kebangkitan Ekonomi Perajin Tenun Desa Adat Sade

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal terakhir, sektor industri mikro dan kerajinan rakyat menyumbang sekitar 14,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, namun masih menghadapi tantangan likuiditas dan akses pasar pascabencana. Di tengah kondisi itu, sebuah kawasan adat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi sorotan lantaran upaya pemulihan ekonomi yang berbasis kearifan lokal. Desa Adat Sade, yang beberapa waktu lalu mengalami musibah kebakaran, kini mulai bangkit kembali melalui program penguatan alat produksi dan pelatihan keterampilan tenun. Sebanyak 45 unit alat tenun disalurkan guna menggerakkan kembali denyut ekonomi warga. Langkah ini diharapkan tidak hanya memulihkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga menjaga warisan budaya yang menjadi identitas komunitas setempat.

Fundamental Ekonomi Kerajinan dan Tekanan Pascabencana

Secara fundamental, usaha tenun tradisional memiliki karakteristik padat karya dengan margin yang sangat bergantung pada harga bahan baku, biaya tenaga kerja, dan akses pasar. Ketika bencana melanda, tiga komponen itu runtuh sekaligus: kapasitas produksi menurun drastis, modal kerja tergerus, dan kepercayaan pembeli melemah. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM setempat menunjukkan bahwa sebelum insiden kebakaran, rata-rata perajin di kawasan tersebut mampu memproduksi 2 hingga 3 lembar kain per pekan dengan harga jual berkisar Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta per lembar, tergantung tingkat kerumitan motif. Angka itu setara dengan kontribusi pendapatan rumah tangga sekitar 60-70 persen dari total penghasilan bulanan. Dengan hilangnya alat produksi, proyeksi pendapatan warga sempat turun hingga 80 persen pada periode pasca-insiden. Oleh karena itu, penguatan kembali alat tenun menjadi prasyarat pemulihan yang paling mendesak, karena tanpa alat, pelatihan apa pun tidak akan berjalan produktif.

Di satu sisi, bantuan alat dan pendampingan pelatihan mencerminkan model intervensi korporasi yang menyasar akar masalah: kapasitas produksi. Pendekatan ini berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa, mulai dari serapan tenaga kerja perempuan perajin, tumbuhnya usaha penunjang pewarnaan benang, hingga meningkatnya kunjungan wisatawan yang membeli langsung produk tenun. Indeks kepercayaan pelaku usaha mikro di kawasan itu pun diproyeksikan membaik jika pasokan alat stabil dan pelatihan berkelanjutan. Di sisi lain, pemulihan jangka panjang tetap menghadapi sejumlah risiko, antara lain fluktuasi harga bahan baku impor, persaingan dengan produk tekstil pabrikan yang jauh lebih murah, serta keterbatasan akses pembiayaan formal bagi perajin yang tidak memiliki agunan. Tanpa pendampingan pemasaran digital dan akses ekspor, tambahan alat produksi berisiko hanya menambah kapasitas tanpa diimbangi permintaan yang memadai.

Pro: Penguatan Kapasitas dan Mult

Dari kacamata Pro, program semacam ini memiliki beberapa keunggulan strategis. Pertama, bantuan bersifat aset produktif, bukan konsumtif, sehingga nilai ekonominya berlipat dalam jangka menengah. Kedua, pelatihan meningkatkan kualitas motif dan standar finishing, yang pada akhirnya mendorong valuasi produk di pasar premium. Ketiga, keterlibatan komunitas adat memperkuat sentimen positif wisatawan terhadap produk bernilai budaya, sebuah tren yang sejalan dengan meningkatnya minat pasar global terhadap artisanal goods. Berdasarkan proyeksi internal, dengan 45 alat tenun yang beroperasi optimal, kawasan ini berpotensi menambah kapasitas produksi hingga 90-135 lembar kain per pekan, atau setara kenaikan pendapatan agregat desa sekitar Rp45 juta hingga Rp100 juta per pekan pada tahap pemulihan penuh.

Kontra: Tantangan Pasar dan Keberlanjutan Program

Namun, dari perspektif Kontra, terdapat catatan kritis yang perlu diantisipasi. Pertama, risiko supply glut atau kelebihan pasokan lokal jika penyerapan pasar tidak tumbuh secepat kapasitas produksi. Kedua, program bantuan alat kerap berhenti pada tahap seremonial tanpa skema pemeliharaan dan penggantian suku cadang, sehingga dalam 2-3 tahun alat berisiko rusak dan tidak tergantikan. Ketiga, belum jelas apakah pelatihan menyentuh aspek manajemen keuangan, pencatatan transaksi, dan akses pembiayaan berbunga rendah yang menjadi kunci keberlanjutan. Keempat, ketergantungan pada satu pembeli besar atau satu program korporasi menciptakan kerentanan struktural jika dukungan dihentikan. Idealnya, intervensi dilengkapi dengan pembentukan koperasi perajin, kemitraan dengan platform e-commerce, serta sertifikasi produk agar nilai tambah tidak dinikmati pihak lain di rantai pasok.

"Pemulihan ekonomi pascabencana tidak cukup dengan menyalurkan alat produksi. Yang menentukan adalah apakah kapasitas baru itu tersambung dengan pasar yang berkelanjutan dan lembaga keuangan yang inklusif," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan, mengingatkan pentingnya pendekatan ekosistem.

Secara keseluruhan, kebangkitan perajin tenun di Desa Adat Sade mencerminkan tren pemulihan berbasis komunitas yang menyandingkan modal fisik dan modal sosial. Jika dieksekusi dengan tata kelola yang transparan, program ini berpotensi menjadi model replikasi bagi daerah lain yang menghadapi tekanan serupa. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada keberlanjutan pendampingan, diversifikasi pasar, dan penguatan kelembagaan perajin. Tanpa itu, kenaikan kapasitas produksi hanya akan menjadi angka di atas kertas, bukan peningkatan kesejahteraan yang nyata bagi warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User