Program Grassroots Kunci Cetak Atlet Berprestasi
JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) semakin menggencarkan program pembinaan olahraga dari tingkat akar rumput atau grassroots sebagai strategi utama mencetak atlet
JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) semakin menggencarkan program pembinaan olahraga dari tingkat akar rumput atau grassroots sebagai strategi utama mencetak atlet berprestasi di masa depan. Langkah ini dinilai krusial mengingat minimnya regenerasi atlet di berbagai cabang olahraga nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Kemenpora mencatat baru sekitar 15 persen dari total 50 juta anak usia sekolah yang terlibat dalam program olahraga terstruktur, sehingga diperlukan akselerasi pembinaan sejak dini.
Fokus pada Pendidikan dan Komunitas
Program grassroots tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga komunitas olahraga di desa dan kelurahan. Kemenpora bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) telah meluncurkan inisiatif "Desa Olahraga" yang mencakup 500 desa di seluruh Indonesia pada tahun 2024. Setiap desa mendapatkan bantuan peralatan olahraga dan pelatih sukarelawan. Data dari Kemenpora menunjukkan bahwa partisipasi anak usia 6-12 tahun dalam kegiatan olahraga rutin meningkat 12 persen setelah program ini berjalan. Selain itu, KONI menargetkan penambahan 10.000 pelatih grassroots bersertifikat hingga 2025 untuk mendukung pembinaan di daerah terpencil.
Dukungan Anggaran dan Infrastruktur
Anggaran pengembangan olahraga grassroots pada APBN 2025 mencapai Rp 2,3 triliun, naik 20 persen dari tahun sebelumnya. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan lapangan olahraga multifungsi di 1.000 kecamatan, pengadaan alat olahraga untuk sekolah dasar, serta beasiswa bagi atlet muda berbakat. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, dalam sambutannya di acara Forum Nasional Olahraga, menyatakan bahwa pembinaan grassroots adalah investasi jangka panjang. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan atlet senior. Harus ada kaderisasi dari bawah agar prestasi berkelanjutan," ujarnya. Ia juga mencontohkan atlet bulu tangkis seperti Gregoria Mariska yang memulai dari klub kecil, membuktikan bahwa bakat bisa muncul dari mana saja.
Kolaborasi dengan Swasta dan Daerah
Untuk memperluas jangkauan, pemerintah menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Beberapa perusahaan telah mendukung pembinaan olahraga di 200 sekolah dasar di Jawa Barat dan Jawa Timur. Selain itu, pemerintah daerah juga diminta mengalokasikan minimal 10 persen dari anggaran olahraga daerah untuk program grassroots. Hingga akhir 2024, sebanyak 34 provinsi telah melaporkan realisasi program tersebut, dengan capaian tertinggi di Jawa Tengah yang berhasil menjaring 5.000 atlet muda potensial. Evaluasi berkala dilakukan setiap enam bulan untuk memastikan program berjalan sesuai target.
Dengan pendekatan yang sistematis dan kolaboratif, diharapkan Indonesia dapat melahirkan atlet-atlet berkelas dunia yang tidak hanya berprestasi di level nasional, tetapi juga internasional. Kemenpora optimistis bahwa dalam lima tahun ke depan, kontribusi atlet hasil pembinaan grassroots akan terlihat pada ajang SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
Comments (0)