Profil Mochamad Nur Arifin, Bupati Trenggalek yang Bangun Ekonomi Kreatif

<h2>Profil Mochamad Nur Arifin, Bupati Trenggalek yang Bangun Ekonomi Kreatif</h2> <p>Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa Mas Ipin, resmi menj

Profil Mochamad Nur Arifin, Bupati Trenggalek yang Bangun Ekonomi Kreatif

Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa Mas Ipin, resmi menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 26 Februari 2021. Bersama wakilnya Syah Muhammad Natanegara, ia memenangkan Pilkada 2020 dengan dukungan PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional. Menariknya, ia sebelumnya merupakan Wakil Bupati Trenggalek mendampingi Emil Dardak pada periode 2016–2021, sebelum akhirnya naik ke kursi nomor satu di kabupaten yang terletak di pesisir selatan Jawa Timur tersebut.

Profil Singkat

Lahir di Surabaya pada 27 Juli 1990, Mochamad Nur Arifin menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya. Gelar Sarjana Ekonomi ia raih dari Universitas Airlangga pada 2012, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana di bidang Manajemen di universitas yang sama. Karier politiknya dimulai dari bawah sebagai kader PDI Perjuangan, aktif di kegiatan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Sebelum menjadi Wakil Bupati pada 2016, ia sempat bekerja di sektor swasta, namun panggilan politik membawanya pulang ke Trenggalek untuk mengabdi. Saat dilantik sebagai bupati, usianya baru 30 tahun, menjadikannya salah satu kepala daerah termuda di Indonesia.

Membangun Ekonomi Kreatif dan Digitalisasi Desa

Program unggulan yang paling menonjol dari kepemimpinan Arifin adalah percepatan pembangunan ekonomi kreatif berbasis digital, khususnya melalui program Trenggalek Digital Creative Hub. Program ini menyasar generasi muda dan pelaku UMKM agar mampu memanfaatkan teknologi untuk pemasaran, peningkatan kapasitas produksi, hingga ekspansi pasar secara daring. Data Dinas Koperasi dan UKM Trenggalek mencatat, jumlah UMKM yang terhubung dengan platform digital melonjak dari sekitar 1.200 pada 2020 menjadi lebih dari 8.000 unit usaha per akhir 2023. Selain itu, pendapatan rata-rata pelaku UMKM digital di Trenggalek meningkat sekitar 35 persen dalam dua tahun terakhir. Arifin juga meluncurkan aplikasi Trenggalek Online yang mengintegrasikan layanan publik, pariwisata, dan pasar produk lokal dalam satu genggaman. Upaya ini membawa Trenggalek meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak kategori Nindya dari Kementerian PPPA pada 2022 dan 2023, karena ekosistem ekonomi yang dibangun ikut mendorong penurunan angka pekerja anak dan peningkatan pendapatan keluarga.

Kontroversi dan Tantangan

Meski banyak prestasi, kepemimpinan Arifin tidak lepas dari kritik. Salah satu sorotan tajam datang dari lambatnya penyelesaian proyek Jalan Lintas Selatan (JLS) di wilayah Trenggalek yang sempat terhambat pembebasan lahan. Sejumlah pihak menilai pemerintah daerah kurang agresif dalam mempercepat koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat. Selain itu, alokasi anggaran untuk program digitalisasi desa sempat dipertanyakan oleh sebagian anggota DPRD karena dinilai terlalu besar dibanding sektor pertanian dan infrastruktur dasar yang masih menjadi urat nadi perekonomian warga. Arifin menanggapi dengan menjelaskan bahwa investasi teknologi justru dirancang untuk memperkuat sektor pertanian melalui aplikasi tani digital dan akses pasar langsung. Tantangan lain yang masih mengemuka adalah tingkat kemiskinan di Trenggalek yang masih berada di sekitar 11,2 persen pada 2023, menurun dari sebelumnya namun belum signifikan.

Penilaian Kinerja

Secara umum, Mochamad Nur Arifin dinilai berhasil membawa wajah baru Trenggalek sebagai kabupaten yang melek teknologi dan ramah investasi kreatif. Gaya kepemimpinan milenialnya terlihat dari pendekatan komunikasi yang terbuka melalui media sosial dan rutin turun langsung menemui warga dalam program Ngopi Pagi (Ngobrol Pintar Pagi). Meski demikian, pekerjaan rumah masih menanti, terutama pemerataan pembangunan antar wilayah utara dan selatan Trenggalek serta pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan. Prospek ke depan, jika program digitalisasi terus konsisten dijalankan tanpa meninggalkan sektor fundamental seperti pertanian dan infrastruktur, Arifin berpotensi menjadi figur bupati yang sukses menyandingkan modernisasi dengan kearifan lokal. Dukungan masyarakat terlihat dari tingkat kepuasan publik yang dalam survei internal mencapai 78 persen pada awal 2024, meski survei independen menempatkan angka sedikit lebih rendah di kisaran 70 persen. Akhir masa jabatannya pada 2026 menjadi waktu yang menentukan apakah fondasi ekonomi kreatif yang ia bangun benar-benar mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kesejahteraan warga Trenggalek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User