Peserta Lari Banteng San Fermin Terjatuh di Depan Banteng Aduan
Festival San Fermín di Pamplona, Spanyol, kembali menghadirkan momen menegangkan pada Kamis (09/07/2026) ketika seorang pengunjung terjatuh tepat di depan
Festival San Fermín di Pamplona, Spanyol, kembali menghadirkan momen menegangkan pada Kamis (09/07/2026) ketika seorang pengunjung terjatuh tepat di depan kawanan banteng aduan Victoriano del Río. Insiden terjadi pada sesi ketiga acara "encierro"—lari bersama banteng—yang mempertemukan ribuan pemberani dari seluruh dunia dengan enam banteng liar di jalur sempit kota tua Pamplona. Fotografer Miguel Oses dari Associated Press berhasil mengabadikan detik-detik kritis ketika pengunjung tersebut tersungkur dan banteng-banteng melompat menghindar di sekujur tubuhnya.
Foto yang tersebar cepat di media global memperlihatkan pria itu tergeletak di atas batu paving, sementara setidaknya dua banteng dengan tanduk tajam berlari kencang tepat melompatinya. Ekspresi panik dan keberuntungan bercampur menjadi satu dalam bingkai yang kini menjadi ikon dari edisi San Fermín tahun ini.
Detik-Detik Kejadian
Berdasarkan rekaman kamera pengawas kota dan keterangan saksi, kronologi insiden berlangsung hanya dalam hitungan detik:
- Pejalan kaki dan pelari memadati jalur. Setelah roket tanda dimulainya lari banteng meledak pukul 08.02 waktu setempat, ribuan peserta berpakaian putih dengan selendang merah mulai berlari di jalur sempit Calle de Santo Domingo menuju Plaza de Toros. Jalur sepanjang 875 meter itu hanya selebar tiga meter di beberapa titik, sehingga kerumunan sangat padat.
- Banteng dilepas dari kandang. Enam banteng aduan jenis toro bravo milik peternakan Victoriano del Río dilepaskan bersama beberapa banteng penuntun. Kawanan itu langsung berlari kencang mengejar massa yang berlari di depan. Kecepatan banteng mencapai 24 km/jam, lebih cepat dari rata-rata pelari manusia.
- Peserta tersandung di titik sempit. Di tikungan tajam menuju Calle de la Estafeta, seorang pria dewasa muda yang diidentifikasi sebagai turis asal Australia tiba-tiba tersandung akibat terhimpit kerumunan yang mendadak berdesakan saat banteng mendekat. Ia jatuh tersungkur dan sempat berusaha bangkit, namun langsung kembali roboh karena panik.
- Banteng melompat menghindar. Alih-alih menyeruduk, banteng pertama melompat melewati tubuh pria yang tergeletak. Banteng kedua melakukan manuver serupa, nyaris menyenggol wajah korban dengan kukunya. Beruntung, tanduk tidak mengenai bagian vital. Saksi mata berteriak histeris, dan dalam beberapa detik, seluruh kawanan telah melesat meninggalkan korban.
- Tim medis langsung bergerak. Begitu rombongan banteng berlalu, petugas Palang Merah yang bersiaga di sepanjang jalur langsung merangsek masuk dan mengevakuasi pria tersebut ke pos pertolongan pertama. Meski tergeletak di tanah selama momen kritis, ia hanya mengalami luka lecet di bagian punggung dan trauma ringan tanpa patah tulang.
Keberuntungan di Tengah Bahaya
Korban, yang belakangan diketahui bernama James (29 tahun, berasal dari Melbourne), mengaku sempat mengira nyawanya akan berakhir. "Saya hanya mendengar derap kaki yang kian keras, lalu tiba-tiba tubuh saya terinjak? Bukan, ternyata mereka melompat. Saya tidak percaya saya selamat," ujarnya dari pos medis sambil tertawa gugup.
Ahli perilaku hewan dari Universitas Navarra menjelaskan bahwa banteng aduan sebenarnya cenderung menghindari rintangan manusia yang jatuh jika tidak merasa terpojok. "Banteng menggunakan penglihatan dan insting spasial untuk melompat. Mereka melihat tubuh yang tiba-tiba jatuh sebagai objek statis, dan selama tidak ada ancaman gerakan tiba-tiba, mereka akan melompat," jelas Profesor Javier Aldaz. Meskipun demikian, insiden tahun ini mengingatkan bahwa risiko cedera serius atau bahkan kematian tetap tinggi.
Statistik dan Korban Lain
Panitia Festival San Fermín mencatat, hingga lari banteng ketiga ini, total 11 peserta telah dilarikan ke rumah sakit dengan berbagai cedera. Tiga di antaranya mengalami patah tulang akibat terinjak kerumunan, bukan karena serudukan banteng. Sejak penyelenggaraan modern dimulai, tercatat 16 orang tewas dalam encierro, terakhir pada tahun 2009.
Respons Penyelenggara
"Kami bersyukur insiden hari ini berakhir tanpa korban jiwa. Namun, kami terus mengingatkan bahwa lari banteng adalah aktivitas berbahaya yang memerlukan kondisi fisik prima dan pemahaman penuh akan risiko. Kami mengimbau wisatawan untuk tidak meremehkan kekuatan dan kecepatan banteng,"
— Walikota Pamplona, Enrique Maya, dalam pernyataan tertulis yang dirilis beberapa jam pasca insiden.
Sejarah dan Kontroversi
Festival San Fermín yang dipopulerkan novel Ernest Hemingway, "The Sun Also Rises", memang selalu diwarnai perdebatan antara tradisi budaya dan hak asasi hewan. Kelompok aktivis hewan seperti PETA dan AnimaNaturalis setiap tahun menggelar protes dengan tubuh setengah telanjang berlumur cat merah, menuntut penghentian penyiksaan banteng. Namun, bagi warga Pamplona, encierro adalah warisan turun-temurun yang tak terpisahkan dari identitas kota.
Langkah Keamanan Pasca Insiden
Menyusul insiden ini, panitia berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk menambah petugas pengaman di tikungan rawan dan memperpendek jarak antara pagar pengaman di beberapa titik. Selebaran dalam lima bahasa juga mulai dibagikan di titik registrasi peserta, berisi panduan jika terjatuh: "Tetap meringkuk, lindungi kepala, dan jangan bergerak."
Penyelenggaraan San Fermín akan berlangsung hingga 14 Juli 2026, dan jutaan mata dunia akan tetap terpaku pada jalur sempit berbatu itu—menyaksikan percampuran adrenalin, bahaya, dan tradisi yang tak lekang oleh waktu.
[SOCIAL_TWEET]: Detik-detik menegangkan di San Fermín: Seorang pelari jatuh tepat di depan kawanan banteng aduan! Beruntung, banteng melompat melewatinya dan ia selamat tanpa cedera serius. Foto dramatis ini viral dalam hitungan jam. #SanFermin2026 #RunningOfTheBulls #Pamplona[SOCIAL_TG]: 🐂 Detik menegangkan di San Fermín! Seorang pelari jatuh di depan kawanan banteng Victoriano del Río. Ajaibnya, banteng malah melompati tubuhnya. Ia hanya luka ringan. Foto AP langsung mendunia.
Comments (0)