Produksi Tas Travel UMKM Meningkat Jelang Musim Umrah
Berdasarkan data Kementerian Agama dan Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, jumlah jemaah umrah asal Indonesia diperkirakan menembus 1,2 juta orang per tahun, naik dibandingkan rata-rata seki...
Berdasarkan data Kementerian Agama dan Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, jumlah jemaah umrah asal Indonesia diperkirakan menembus 1,2 juta orang per tahun, naik dibandingkan rata-rata sekitar 1 juta orang pada periode sebelum pandemi. Tren keberangkatan yang terus mengalami kenaikan ini berdampak langsung pada rantai pasok industri perlengkapan ibadah di dalam negeri. Sejumlah sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) produsen tas travel kini memproduksi 300 hingga 500 unit per hari, melonjak signifikan dibandingkan hari biasa yang hanya berkisar 100 unit.
Musim umrah yang berlangsung hampir sepanjang tahun, dengan puncak keberangkatan pada bulan-bulan tertentu, menciptakan pola permintaan yang berulang dan relatif dapat diprediksi. Bagi pelaku usaha, siklus ini menjadi semacam kalender produksi: pesanan biasanya mulai meningkat dua hingga tiga bulan sebelum puncak keberangkatan, baik dari biro perjalanan umrah maupun pasar ritel daring.
Permintaan Melonjak, Kapasitas Produksi Terdongkrak
Kenaikan pesanan menjelang musim keberangkatan mendorong pelaku UMKM menambah jam operasional dan menyerap tenaga kerja tambahan, terutama penjahit serta pekerja lepas. Di sejumlah sentra produksi, penambahan tenaga kerja musiman dilaporkan mencapai 20 hingga 30 persen dibandingkan periode normal. Fenomena ini sejalan dengan data Kementerian Koperasi dan UKM yang mencatat UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan berkontribusi lebih dari 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dari sisi harga, tas travel perlengkapan umrah di pasaran domestik dijual pada kisaran Rp150.000 hingga Rp350.000 per unit, tergantung bahan dan fitur. Dengan asumsi produksi ratusan unit per hari, perputaran uang di satu sentra produksi saja dapat mencapai puluhan juta rupiah setiap hari selama musim ramai. Angka ini belum termasuk produk turunan seperti koper, tas paspor, hingga perlengkapan ihram yang juga ikut kebanjiran pesanan.
Di Satu Sisi: Berkah Ekonomi bagi UMKM Lokal
Di satu sisi, lonjakan permintaan perlengkapan umrah menjadi katalis positif bagi ekonomi kerakyatan. Ekonomi syariah, yang menurut Bank Indonesia terus tumbuh di atas rata-rata ekonomi nasional, memberikan ruang pasar yang luas bagi produk lokal. Permintaan yang bersifat musiman namun berulang setiap tahun memberikan kepastian pendapatan yang relatif lebih stabil dibandingkan sektor fesyen umum yang sangat bergantung pada perubahan tren.
Selain itu, kanal penjualan digital memperluas jangkauan pasar. Data Kementerian Koperasi mencatat lebih dari 20 juta UMKM telah masuk ke ekosistem digital, memungkinkan produsen tas travel di daerah menjangkau konsumen hingga luar pulau tanpa biaya distribusi besar. Efek pengganda atau multiplier effect, yakni dampak berantai dari satu aktivitas ekonomi ke sektor lain, juga terasa pada industri pendukung mulai dari pemasok kain, produsen resleting, hingga jasa logistik.
Seorang pengamat ekonomi syariah menilai permintaan perlengkapan ibadah memiliki karakter inelastis terhadap siklus ekonomi. Selama niat beribadah masyarakat kuat dan daya beli terjaga, segmen ini cenderung tahan terhadap guncangan, sehingga fundamental pasarnya relatif kokoh dibandingkan segmen ritel lainnya.
Di Sisi Lain: Tekanan Biaya dan Gempuran Produk Impor
Di sisi lain, prospek cerah ini tidak lepas dari tantangan struktural. Sebagian bahan baku seperti kain sintetis, aksesori, dan resleting masih bergantung pada impor. Dengan kurs rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.000 per dolar AS, biaya produksi ikut terdongkrak. Depresiasi rupiah, yaitu melemahnya nilai tukar terhadap mata uang asing, membuat harga bahan baku impor lebih mahal dan menekan margin keuntungan produsen.
Persaingan dengan produk impor, terutama dari Tiongkok, juga menjadi persoalan serius. Produk sejenis kerap dijual 20 hingga 40 persen lebih murah di platform dagang elektronik, sehingga UMKM lokal harus beradu di sisi harga, bukan hanya kualitas. Tanpa diferensiasi produk dan efisiensi, pelaku usaha kecil berisiko kehilangan pangsa pasar justru di saat permintaan sedang tinggi.
Ketergantungan pada musim keberangkatan turut menimbulkan risiko pendapatan yang timpang antara musim ramai dan musim sepi. Pelaku usaha yang tidak mengelola arus kas dengan baik dapat menghadapi kesulitan likuiditas, yaitu kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, begitu pesanan menurun setelah puncak musim berlalu.
Proyeksi: Fundamental Kuat, Daya Saing Jadi Kunci
Ke depan, fundamental pasar perlengkapan umrah dinilai masih solid. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang berada di kisaran 5 persen year-on-year dan inflasi yang terkendali di sekitar 2,5 persen menjaga daya beli masyarakat. Ditambah antrean ibadah haji yang panjang, minat masyarakat untuk menunaikan umrah diprediksi terus meningkat, sehingga permintaan tas travel dan perlengkapan pendukung berpotensi tumbuh berkelanjutan.
Namun, keberlanjutan berkah musiman ini sangat bergantung pada kemampuan UMKM meningkatkan daya saing melalui efisiensi produksi, penguatan merek lokal, dan dukungan kebijakan seperti kurasi produk impor serta akses pembiayaan murah. Jika tantangan tersebut mampu dijawab, sentra produksi tas travel bukan sekadar menikmati musim ramai, melainkan tumbuh menjadi industri bernilai tambah tinggi yang berkelanjutan.
Comments (0)