Aug 24, 2026
Bisnis

Prinsip Nabi Nuh dan Kesuksesan Miliarder Teknologi David Steward

Berdasarkan estimasi Forbes Real-Time Billionaires pada data terbaru, harta kekayaan David Steward, pendiri sekaligus ketua World Wide Technology (WWT), diperkirakan mendekati US$11 miliar, setara leb...

Prinsip Nabi Nuh dan Kesuksesan Miliarder Teknologi David Steward

Berdasarkan estimasi Forbes Real-Time Billionaires pada data terbaru, harta kekayaan David Steward, pendiri sekaligus ketua World Wide Technology (WWT), diperkirakan mendekati US$11 miliar, setara lebih dari Rp165 triliun dengan kurs rupiah saat ini. Angka itu menempatkannya di jajaran atas indeks kekayaan orang terkaya Amerika Serikat sekaligus salah satu pengusaha kulit hitam paling sukses di negara tersebut. Di balik pencapaian itu, Steward kerap mengungkapkan sumber inspirasi yang jarang dibahas di ruang rapat korporat: kisah Nabi Nuh yang membangun bahtera jauh sebelum air bah datang. Prinsip "membangun sebelum dibutuhkan" inilah yang menurutnya menjadi fondasi pertumbuhan WWT dari perusahaan kecil di St. Louis menjadi raksasa teknologi dengan pendapatan tahunan yang belakangan dilaporkan mendekati US$20 miliar.

Membangun Bahtera Sebelum Hujan Turun

Dalam berbagai kesempatan, Steward menjelaskan bahwa ia membaca kisah Nabi Nuh sebagai pelajaran kepemimpinan dan manajemen risiko. Sang nabi membangun kapal besar selama bertahun-tahun, menanggung ejekan, tanpa kepastian kapan air bah benar-benar tiba. Ia tidak menunggu bukti di langit, melainkan menyiapkan kapasitas lebih awal. Steward menerjemahkan filosofi itu ke dalam strategi bisnis: membangun infrastruktur, kemitraan, dan tenaga ahli jauh sebelum permintaan pasar melonjak.

WWT berdiri pada 1990 dari kediaman Steward di St. Louis, Missouri, dengan modal awal yang sangat terbatas. Alih-alih mengejar keuntungan jangka pendek, perusahaan memilih memperkuat fundamental: menjalin hubungan dengan produsen perangkat keras seperti Cisco dan Dell, serta membangun fasilitas logistik dan pusat data sebelum era komputasi awan meledak. Ketika gelombang digitalisasi menyerbu korporasi Amerika, WWT sudah memiliki kapasitas siap pakai. Hasilnya, pendapatan perusahaan tumbuh konsisten year-on-year hingga menembus puluhan miliar dolar, dengan lebih dari 10.000 karyawan di berbagai negara.

Di Satu Sisi: Kesabaran sebagai Keunggulan Kompetitif

Bagi pendukung prinsip ini, kisah Steward adalah bukti bahwa kesabaran dan visi jangka panjang adalah aset nyata, bukan sekadar nilai moral. Di satu sisi, strategi "membangun bahtera" memberi WWT keunggulan saat tren komputasi awan dan keamanan siber mengalami kenaikan permintaan yang tajam. Perusahaan tidak perlu terburu-buru mengejar pasar karena kapasitasnya sudah dibangun bertahun-tahun sebelumnya. Steward juga dikenal konsisten mereinvestasikan laba ke kapasitas baru, pola yang memperkuat likuiditas — ketersediaan dana tunai — dan daya tahan perusahaan saat siklus bisnis memburuk.

Para analis yang mengamati jejak WWT mencatat bahwa diversifikasi portofolio pelanggan — dari pemerintah federal, operator telekomunikasi, hingga perusahaan Fortune 500 — membuat pendapatan tidak bergantung pada satu sektor. Ketika satu lini bisnis mengalami penurunan, lini lain menopangnya. Sentimen pasar terhadap saham teknologi memang kerap berfluktuasi, terlihat dari pergerakan indeks saham utama AS, tetapi bagi perusahaan swasta seperti WWT, stabilitas fundamental jangka panjang dinilai lebih penting daripada valuasi sesaat (nilai pasar perusahaan).

Di Sisi Lain: Perangkap Survivorship Bias

Namun, pengamat yang lebih kritis mengingatkan bahwa kisah sukses semacam ini tidak bisa langsung dijadikan resep universal. Di sisi lain, narasi "sabar dan yakin pasti menang" mengandung risiko survivorship bias — kecenderungan hanya melihat pengusaha yang berhasil, sementara jutaan yang gagal dengan sikap serupa tidak pernah menjadi berita. Berbagai studi yang sering dikutip menyebut rasio kegagalan usaha rintisan mencapai sekitar 90 persen pada beberapa tahun pertama, dan kegagalan itu sering kali bukan karena kurang sabar, melainkan karena keterbatasan likuiditas, perubahan teknologi, atau runtuhnya permintaan.

Artinya, kesabaran hanyalah satu variabel. Faktor seperti akses modal, jejaring, kontrak awal, dan keberuntungan waktu juga ikut menentukan. Dalam kasus WWT, kontrak-kontrak besar di awal perjalanan — termasuk kerja sama dengan operator telekomunikasi raksasa pada 1990-an — menjadi titik balik yang tidak bisa direplikasi hanya dengan mengandalkan prinsip. Jika semua pengusaha membangun "bahtera" secara bersamaan, keunggulan itu menjadi hilang dan persaingan justru meningkat.

Dari sisi makro, kisah ini juga layak dibaca sebagai cermin arus modal global. Sepanjang dekade terakhir, aliran dana internasional cenderung terkonsentrasi ke aset teknologi Amerika Serikat yang dinilai memiliki fundamental kuat. Di kawasan berkembang, fenomena ini kerap memicu capital outflow — arus keluar modal asing — ketika sentimen pasar memburuk. Pelajaran yang bisa diambil pelaku usaha di Indonesia bukan sekadar meniru pola pikir Steward, melainkan memahami bahwa pertumbuhan berkelanjutan membutuhkan kombinasi persiapan dini, eksekusi, dan pengelolaan risiko, bukan hanya keyakinan semata.

Proyeksi dan Refleksi

Ke depan, sektor teknologi diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi global. Berdasarkan proyeksi lembaga riset Gartner, belanja teknologi informasi dunia diprediksi terus naik menembus triliunan dolar, didorong adopsi kecerdasan buatan dan transformasi digital. WWT, dengan kapasitas yang dibangun jauh hari, berada di posisi yang menguntungkan untuk menangkap sebagian pertumbuhan itu. Namun, proyeksi optimistis juga menyimpan risiko: persaingan ketat, tekanan margin, dan konsentrasi pasar yang bisa mengubah peta persaingan sewaktu-waktu.

Pada akhirnya, kisah David Steward menawarkan dua bacaan sekaligus. Bagi yang percaya pada kekuatan fundamental, ini adalah bukti bahwa persiapan dini dan konsistensi mampu mengalahkan kecepatan sesaat. Bagi yang skeptis, ini pengingat bahwa setiap kisah sukses menyimpan banyak variabel yang tidak terlihat dari luar. Yang jelas, tidak ada satu formula tunggal untuk membangun bisnis besar — yang ada hanyalah keseimbangan antara keyakinan, kerja keras, dan kepekaan terhadap perubahan pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User