Presiden Targetkan Indonesia Produksi Bensin dari Tanaman dalam Tiga Tahun

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan target ambisius bagi Indonesia untuk mulai memproduksi bensin berbahan dasar tanaman dalam kurun waktu tiga

Presiden Targetkan Indonesia Produksi Bensin dari Tanaman dalam Tiga Tahun

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan target ambisius bagi Indonesia untuk mulai memproduksi bensin berbahan dasar tanaman dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan. Dalam sebuah acara bertemu petani di Istana Negara, Presiden menegaskan bahwa swasembada energi berbasis nabati bukan lagi angan-angan, melainkan keniscayaan yang akan mengangkat kesejahteraan petani Indonesia.

Latar Belakang Kebijakan

Dorongan untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dari tanaman bukanlah isu baru di Indonesia. Negeri ini telah lama merintis program biodiesel berbasis kelapa sawit dengan mandatory B35 yang kini sudah berjalan. Namun, kali ini fokusnya bergeser ke bioetanol dan bio-gasoline yang bisa langsung menggantikan bensin konvensional. Menurut Presiden, ketergantungan pada impor minyak mentah yang kini mencapai sekitar 700.000 barel per hari harus dipangkas drastis.

“Saya sudah perintahkan Menteri Pertanian dan Menteri Energi untuk menyiapkan lahan dan teknologi. Dalam tiga sampai empat tahun, kita harus bisa menghasilkan bensin dari tanaman sendiri. Tanaman kita banyak, petani kita melimpah. Ini momentum kebangkitan ekonomi pedesaan,” ujar Presiden, Senin (4/10).

Teknologi Bioetanol dan Rantai Pasok

Pemerintah tengah mengkaji tiga jalur teknologi utama untuk mewujudkan bensin nabati: fermentasi bioetanol dari tebu, singkong, dan sorgum yang kemudian didehidrasi menjadi etanol murni (fuel-grade ethanol), pirolisis biomassa untuk menghasilkan bio-oil yang dapat ditingkatkan mutunya menjadi drop-in gasoline layaknya bensin fosil, serta rute sintetik Fischer-Tropsch dengan memanfaatkan gasifikasi limbah pertanian. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai offtaker utama.

Sumber daya tanaman yang melimpah menjadi kunci. Indonesia memiliki sekitar 400.000 hektare lahan tebu yang bisa diperluas, serta potensi singkong seluas 2,5 juta hektare. Di kawasan timur, sorgum yang tahan kering mulai dikembangkan di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.

Dampak Ekonomi bagi Petani

Presiden berulang kali menekankan bahwa proyek ini bukan hanya soal energi, melainkan transformasi ekonomi kerakyatan. Harga pokok produksi bioetanol dari tebu diperkirakan sekitar Rp 9.000–Rp 11.000 per liter, namun dengan skema subsidi silang dan harga keekonomian BBM saat ini, petani dijanjikan harga beli yang kompetitif.

“Saya dengar petani tebu di Lampung sekarang hanya dapat Rp 7.000 per kilogram gula. Kalau tebu dialihkan untuk etanol, pemerintah akan jamin harga beli minimal Rp 12.000 per liter etanol setara bensin. Ini akan membawa kemakmuran yang dulu hanya jadi impian,” tegas Presiden.

Menurut hitungan kasar Kementerian Pertanian, setiap 1 hektare tebu mampu menghasilkan sekitar 6.000 liter etanol per tahun. Jika dikonversi ke pendapatan petani dengan harga jaminan tadi, pendapatan bersih per hektare bisa melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan menanam tebu untuk gula.

Target Realisasi dan Tantangan Infrastruktur

Meski optimistis, sejumlah pengamat energi mengingatkan bahwa target tiga hingga empat tahun tergolong sangat ketat. Dibutuhkan setidaknya 10 pabrik bioetanol skala menengah dengan kapasitas masing-masing 50 juta liter per tahun untuk mengurangi konsumsi bensin nasional yang mencapai 35 miliar liter per tahun secara signifikan. Selain itu, infrastruktur blending dan distribusi masih terbatas. Saat ini baru ada enam terminal BBM Pertamina yang mampu menangani gasoline-ethanol blend (E5 atau E10).

Pemerintah menyiapkan skema pembiayaan campuran: APBN, investasi swasta, dan kerja sama internasional. Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) disebut-sebut tertarik mendanai pabrik percontohan di Sumatera Selatan.

Di sisi regulasi, Kementerian ESDM sedang merevisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga BBM nabati untuk memasukkan mandatory blending bioetanol minimal 10% (E10) mulai 2028.

Respons Petani dan Akademisi

Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menyambut baik rencana ini, namun meminta kejelasan rantai pasok. “Kami tidak ingin ini hanya jadi proyek mercusuar. Petani harus dilibatkan dari hulu hingga hilir, bukan sekadar jadi pemasok bahan baku,” ujar Ketua Umum SPKS, Mansuetus Darto, melalui sambungan telepon.

Sementara itu, Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Subagjo, M.Sc., menilai target tersebut mungkin dicapai asalkan pemerintah serius mendorong penelitian dan pengembangan. “Kuncinya di pretreatment biomassa. Kita belum punya teknologi enzimatis yang efisien untuk lignoselulosa. Tapi untuk etanol generasi pertama dari gula dan pati, kita sudah siap,” jelasnya.

Pemerintah menargetkan uji coba blending E5 di beberapa SPBU di Jawa dan Bali sudah dimulai pada kuartal ketiga 2026. Jika berhasil, dalam tiga tahun Indonesia bisa benar-benar menikmati bensin hijau dari tanaman sendiri—sebuah lompatan besar menuju kemandirian energi dan kesejahteraan petani.

[SOCIAL_TWEET]: Presiden targetkan Indonesia produksi bensin dari tanaman dalam 3–4 tahun. Petani tebu, singkong, dan sorgum jadi pahlawan energi hijau. Uji coba E5 mulai 2026! #EnergiHijau #Bioetanol #PetaniSejahtera[SOCIAL_TG]: 🚜⛽ Presiden siapkan peta jalan bensin nabati! Target 3-4 tahun, petani tebu-singkong dapat jaminan harga. Uji coba E5 di SPBU 2026. Swasembada energi di depan mata!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User