Prabowo Usulkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Pasar Respons Positif

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$154,5 miliar, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tekanan harga yang sangat rendah, bahkan...

Aug 12, 2026 - 01:45
0 0
Prabowo Usulkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Pasar Respons Positif

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$154,5 miliar, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tekanan harga yang sangat rendah, bahkan sempat mencatat deflasi 0,48% year-on-year pada Februari 2025. Di tengah kondisi makroekonomi tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo yang masa jabatannya berakhir pada Mei 2025. Usulan ini selanjutnya akan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI sebelum disahkan.

Respons pasar keuangan terhadap pengusulan ini cenderung positif. Rupiah bergerak menguat tipis ke kisaran Rp16.300 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp16.500, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan hingga zona 6.100 mulai menunjukkan pemulihan. Pelaku pasar menilai pengusulan figur internal bank sentral memberikan sinyal kontinuitas kebijakan moneter, faktor yang selama ini menjadi jangkar kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik.

Rekam Jejak Panjang di Bank Sentral

Destry Damayanti bukan nama baru di lingkungan Bank Indonesia. Ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak Agustus 2019, posisi tertinggi kedua di bank sentral. Sebelumnya, ia berkiprah di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan aktif dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), forum koordinasi antara BI, Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Jika disahkan DPR, Destry akan mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia. Pengalamannya lebih dari tiga dekade di sektor keuangan dinilai menjadi modal penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter di mata investor global, terutama pada masa ketika arah kebijakan ekonomi dunia dipenuhi ketidakpastian.

Respons Pasar: Di Satu Sisi Optimis, di Sisi Lain Waspada

Di satu sisi, pasar menyambut baik karena Destry dipandang sebagai figur teknokrat yang memahami mekanisme transmisi kebijakan moneter, yaitu proses bagaimana keputusan suku bunga memengaruhi kredit, konsumsi, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi. Selama menjabat Deputi Gubernur Senior, ia terlibat dalam formulasi kebijakan yang menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% ± 1% dan mempertahankan BI Rate di level 5,75% sejak Januari 2025 demi stabilitas nilai tukar.

Pasar selalu menyukai kontinuitas. Pengusulan figur dari internal bank sentral mengurangi ketidakpastian arah kebijakan, dan itu tercermin dari menguatnya rupiah serta stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah, ujar seorang pengamat pasar modal di Jakarta.

Di sisi lain, sebagian analis mengingatkan bahwa respons positif ini masih bersifat sementara. Sentimen pasar global saat ini dibayangi kebijakan tarif Amerika Serikat dan arah suku bunga The Fed yang belum pasti, sehingga risiko capital outflow — keluarnya dana portofolio asing dari pasar domestik — tetap membayangi. Rupiah sendiri telah mengalami penurunan sekitar 2% sejak awal tahun, dan indeks acuan pasar saham masih terkoreksi lebih dari 10% dari level tertingginya.

Ujian Independensi Bank Sentral

Perspektif kedua yang tak kalah penting adalah soal independensi. Di satu sisi, rekam jejak Destry sebagai teknokrat memberi keyakinan bahwa kebijakan akan tetap berbasis data, terutama dengan inflasi terkendali dan ekonomi yang tumbuh 5,03% pada 2024. Likuiditas perbankan juga relatif memadai, dengan rasio kecukupan modal (CAR) industri di atas 26% menurut data OJK, menunjukkan bantalan sektor finansial yang solid.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai potensi tekanan fiskal terhadap moneter. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%, jauh di atas tren saat ini, yang dikhawatirkan menciptakan ekspektasi penurunan suku bunga lebih agresif dari yang seharusnya. Para ekonom menekankan pentingnya menjaga kredibilitas bank sentral, karena valuasi aset Indonesia sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap independensi BI dalam menentukan arah suku bunga.

Proyeksi Kebijakan Moneter ke Depan

Ke depan, arah kebijakan di bawah kepemimpinan baru akan ditentukan tiga faktor: pergerakan rupiah, laju inflasi, dan kondisi likuiditas global. Proyeksi sejumlah lembaga riset memperkirakan BI Rate berpotensi turun bertahap ke kisaran 5,25%–5,50% pada akhir 2025 apabila nilai tukar stabil dan inflasi tetap terkendali dalam sasaran.

Namun, proyeksi tersebut bukan tanpa risiko. Apabila tekanan eksternal meningkat, bank sentral kemungkinan menahan suku bunga lebih lama demi menjaga stabilitas rupiah. Bagi pelaku pasar, pesan utamanya jelas: kepemimpinan baru BI membawa harapan kontinuitas, tetapi ujian sesungguhnya baru dimulai setelah tongkat kekuasaan berpindah tangan pada Mei 2025.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User