Aug 27, 2026
Bisnis

Prabowo Perintahkan PLTS 100 GW demi Nol Impor Minyak

Berdasarkan data Kementerian ESDM per Agustus 2026, Indonesia masih mencatatkan volume impor bahan bakar minyak pada kisaran 300 ribu hingga 400 ribu barel per hari, dengan nilai tukar devisa tahunan ...

Prabowo Perintahkan PLTS 100 GW demi Nol Impor Minyak

Berdasarkan data Kementerian ESDM per Agustus 2026, Indonesia masih mencatatkan volume impor bahan bakar minyak pada kisaran 300 ribu hingga 400 ribu barel per hari, dengan nilai tukar devisa tahunan yang melampaui US$30 miliar. Data Bank Indonesia juga menunjukkan defisit migas tetap menjadi salah satu penyumbang terbesar defisit transaksi berjalan, sementara tren konsumsi BBM nasional yang naik year-on-year memperberat neraca perdagangan. Di tengah kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perintah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW), disertai pernyataan tegas bahwa negara tidak boleh lagi mengimpor sekalipun satu barel minyak.

Skala Ambisi yang Melampaui Kapasitas Nasional Saat Ini

Kapasitas 100 GW adalah angka yang perlu dicerna dengan konteks. Total kapasitas terpasang pembangkit listrik seluruh Indonesia—gabungan milik PLN dan independent power producer—baru berkisar 90 GW. Sementara itu, PLTS yang benar-benar terpasang hingga 2025 diperkirakan belum menyentuh 1 GW. Artinya, rencana ini setara dengan menambah hampir satu kali lipat seluruh kapasitas pembangkit nasional dari satu teknologi tunggal, sebuah lompatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah kelistriikan tanah air.

Fondasi potensinya sendiri kuat. Studi Kementerian ESDM menempatkan potensi energi surya Indonesia pada kisaran 3.294 GW, tertinggi dibandingkan sumber energi terbarukan lain seperti air, panas bumi, maupun biomassa. Posisi geografis di garis khatulistiwa memberi intensitas radiasi stabil sepanjang tahun, rata-rata 4,8 kWh per meter persegi per hari, sehingga produktivitas pembangkit surya di berbagai wilayah relatif kompetitif.

Di Satu Sisi: Devisa Terselamatkan dan Ketahanan Energi Menguat

Di satu sisi, proyeksi manfaat makroekonominya nyata. Setiap liter BBM impor yang digantikan listrik surya langsung menekan kebutuhan dolar AS, menstabilkan likuiditas rupiah, dan mengurangi risiko capital outflow yang dapat menekan indeks pasar obligasi serta nilai tukar. Jika substitusi berhasil memangkas impor BBM separuhnya, devisa yang terselamatkan dapat mencapai sekitar US$15 miliar per tahun—porsi signifikan dari cadangan devisa yang kini dijaga di level di atas US$140 miliar.

Faktor harga juga berpihak. Secara global, harga modul surya telah mengalami penurunan lebih dari 80 persen dibandingkan satu dekade lalu, sehingga valuasi proyek PLTS skala besar semakin kompetitif terhadap pembangkit fosil. Rasio biaya listrik atau levelized cost of electricity—indikator biaya rata-rata per kWh selama umur proyek—untuk PLTS di iklim tropis kini bersaing ketat dengan PLTU batu bara, bahkan pada beberapa tender sudah lebih murah.

Di Sisi Lain: Intermittensi, Lahan, dan Beban Pendanaan Masif

Di sisi lain, para ekonom energi menyoroti fundamental yang tidak bisa diabaikan. Pertama, intermittensi—istilah bagi pasokan listrik yang fluktuatif karena bergantung pada cuaca—menuntut investasi tambahan baterai penyimpanan dan penguatan jaringan transmisi. Tanpa sistem penyimpanan yang memadai, PLTS tak mampu memikul beban puncak malam hari ketika produksi surya turun ke nol.

Kedua, kebutuhan lahan menjadi persoalan serius. Kapasitas 100 GW diperkirakan memerlukan areal ratusan ribu hektare, memicu kekhawatiran alih fungsi lahan pertanian dan ruang terbuka hijau jika tata ruang tidak dikelola disiplin. Ketiga, kebutuhan pendanaannya masif; estimasi investasi berkisar US$100 miliar atau lebih—angka yang mustahil ditutup APBN semata tanpa keterlibatan swasta, pembiayaan multilateral, serta kepastian skema tarif jangka panjang oleh PLN sebagai pembeli tunggal listrik.

Mandiri Energi Butuh Portofolio Campuran, Bukan Satu Kartu

Pengalaman internasional menunjukkan negara-negara yang sukses mengurangi impor energi hampir selalu mengandalkan portofolio campuran: surya, angin, biofuel, gas domestik, efisiensi energi, sekaligus elektrifikasi transportasi. Brasil, misalnya, menekan ketergantungan minyak impor lewat program etanol dan biodiesel selama puluhan tahun, bukan melalui satu teknologi tunggal. Pola serupa kemungkinan besar juga berlaku bagi Indonesia.

Sentimen pasar kini menunggu detail regulasi turunannya: harga beli listrik, jaminan pengambilan oleh PLN, percepatan perizinan lahan, serta kesiapan industri komponen dalam negeri agar proyek ini tidak sekadar memindahkan ketergantungan dari minyak impor ke panel surya impor. Tanpa kandungan lokal yang kuat, efek multiplier terhadap lapangan kerja dan hilirisasi industri akan tergerus.

Yang pasti, arah kebijakan ini menegaskan prioritas pemerintah pada ketahanan energi dan disiplin fiskal jangka panjang. Kredibilitasnya akan diuji pada eksekusi: apakah target bertahap tercapai, anggaran transparan, dan dampak lingkungan terkendali. Jika tiga syarat itu terpenuhi, visi nol impor minyak dapat menjelma menjadi realitas struktural; jika tidak, ia berisiko berhenti sebagai retorika ambisius di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User