Prabowo Adakan Dialog dengan Tiga Mantan Perdana Menteri Thailand
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan tiga mantan Perdana Menteri Thailand di Gedung Danantara, Jakarta, pada Kamis (9/7). Pertemuan yang berlangsung secara tertutup tersebut menjad...
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan tiga mantan Perdana Menteri Thailand di Gedung Danantara, Jakarta, pada Kamis (9/7). Pertemuan yang berlangsung secara tertutup tersebut menjadi ajang tukar pikiran mengenai penguatan hubungan bilateral, khususnya di bidang ekonomi, investasi, dan stabilitas kawasan.
Ketiga tokoh politik senior Thailand yang hadir adalah Thaksin Shinawatra, Yingluck Shinawatra, dan Abhisit Vejjajiva. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan perspektif berharga dari pengalaman memimpin Thailand dalam periode yang berbeda, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih erat antara kedua negara serumpun ASEAN.
Memperkuat Konektivitas Perdagangan dan Investasi
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan Indonesia-Thailand pada tahun 2025 mencapai USD 23,7 miliar, meningkat 8,2% secara year-on-year dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam dialog tersebut, Presiden Prabowo menekankan komitmen untuk terus mendorong peningkatan angka tersebut melalui diversifikasi produk unggulan dan pengurangan hambatan nontarif. "Kita ingin agar hubungan dagang tidak hanya bertumpu pada komoditas tradisional, tetapi juga merambah produk manufaktur dan teknologi tinggi," ujar Prabowo di sela pertemuan.
Di sisi lain, Thaksin Shinawatra menyoroti potensi besar Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik (EV) di Asia Tenggara. Ia menilai kerja sama dengan Thailand, yang merupakan basis produksi otomotif terbesar di kawasan, dapat menciptakan rantai pasok regional yang lebih tangguh. "Kami siap berbagi pengalaman dalam membangun ekosistem industri yang telah matang, sambil belajar dari kemajuan Indonesia di sektor energi terbarukan," ungkapnya.
Peluang Strategis di Sektor Energi dan Pangan
Diskusi juga menyentuh isu ketahanan energi dan pangan yang menjadi perhatian global. Yingluck Shinawatra, yang semasa menjabat fokus pada program bantuan pangan nasional, mengapresiasi kebijakan Indonesia dalam menjaga stabilitas harga pangan melalui Badan Pangan Nasional. Ia menyarankan agar Indonesia dan Thailand dapat membentuk aliansi produsen beras untuk mengamankan stok di kawasan ASEAN, mengingat kedua negara merupakan lumbung padi utama.
Presiden Prabowo menanggapi positif gagasan tersebut, seraya menambahkan bahwa Indonesia tengah mempercepat investasi pada bioenergi berbasis sawit sebagai alternatif bahan bakar. Thailand disebut memiliki pengalaman dalam pengembangan ethanol dan biodiesel, sehingga pertukaran teknologi menjadi sangat relevan. Kedua pihak sepakat untuk menginisiasi studi bersama mengenai proyek energi hijau lintas batas.
Stabilitas Regional dan Peran Indonesia-Thailand
Abhisit Vejjajiva, yang dikenal dengan pendekatan diplomatiknya, menyampaikan pandangan mengenai dinamika geopolitik di Asia Tenggara. Menurutnya, Indonesia dan Thailand memiliki peran krusial sebagai penyeimbang di tengah rivalitas negara adidaya. "Stabilitas ASEAN hanya bisa terjaga apabila negara-negara anggotanya mampu membangun ketahanan internal yang kuat. Indonesia, dengan populasi mudanya, adalah penggerak utama," tegas Abhisit.
Prabowo sejalan dengan pemikiran tersebut dan menegaskan kembali prinsip politik luar negeri bebas aktif yang diusung Indonesia. Ia juga mengundang para mantan PM untuk turut serta dalam forum-forum ekonomi yang digelar Indonesia, termasuk acara tahunan Danantara Indonesia Summit, guna mempromosikan iklim investasi yang kondusif dan ramah bisnis.
Respons Pasar dan Prospek Bilateral
Pertemuan tersebut disambut positif oleh kalangan pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan Jumat (10/7) tercatat menguat 0,8%, sejalan dengan optimisme akan masuknya mitra strategis dari Thailand. Sektor perbankan dan otomotif menjadi kontributor utama penguatan indeks, merefleksikan ekspektasi investor terhadap aliran modal asing yang lebih deras.
Di sisi lain, beberapa analis mengingatkan bahwa kerja sama ini perlu dibarengi dengan kepastian regulasi dan kemudahan perizinan di lapangan. Tanpa reformasi birokrasi yang berkelanjutan, potensi investasi dari Thailand berisiko terhambat oleh birokrasi yang panjang. Meski demikian, sentimen optimis tetap mendominasi, terutama setelah Bank Indonesia melaporkan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap pasar obligasi Indonesia dalam dua kuartal terakhir.
Secara fundamental, pertemuan Presiden Prabowo dengan tiga mantan Perdana Menteri Thailand menegaskan arah baru diplomasi ekonomi Indonesia yang semakin pragmatis dan berorientasi hasil. Dengan memanfaatkan pengalaman para pemimpin senior, Indonesia diharapkan dapat mempercepat transformasi ekonominya di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Comments (0)