Aug 25, 2026
Bisnis

PHK Ratusan Buruh di Cimahi, Menperin: Omzet Perusahaan Menyusut

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang dirilis pekan ini, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menerpa sektor manufaktur. Sebuah pabrik di Cimahi, Jawa Barat, dilapor...

PHK Ratusan Buruh di Cimahi, Menperin: Omzet Perusahaan Menyusut

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang dirilis pekan ini, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menerpa sektor manufaktur. Sebuah pabrik di Cimahi, Jawa Barat, dilaporkan memberhentikan ratusan karyawannya. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang buka suara terkait insiden ini, menyebut penyebab utamanya adalah penurunan pendapatan perusahaan yang berkelanjutan.

Menperin menjelaskan bahwa keputusan PHK tersebut merupakan langkah terakhir yang diambil manajemen setelah berbagai upaya efisiensi tidak mampu menahan laju kerugian. "Penghasilan perusahaan terus mengalami penyusutan, sehingga kapasitas produksi harus dikurangi," ujarnya dalam keterangan resmi. Data internal menunjukkan omzet pabrik turun hingga 30% year-on-year (YoY) pada kuartal pertama 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan Biaya dan Daya Beli Domestik

Di satu sisi, fenomena ini mencerminkan pelemahan fundamental industri padat karya. Biaya bahan baku impor melonjak akibat depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp16.800 per dolar AS pada April lalu. Di sisi lain, daya beli masyarakat kelas menengah yang stagnan membuat permintaan produk manufaktur tidak mampu menyerap kenaikan biaya produksi. Akibatnya, margin keuntungan pabrik tergerus dari rata-rata 8% menjadi di bawah 3% dalam dua tahun terakhir.

Kontra: Sebagian pengamat menilai PHK massal ini juga dipicu oleh buruknya manajemen cash flow perusahaan, bukan semata faktor eksternal. Rasio utang terhadap aset yang tinggi membuat perusahaan rentan terhadap gejolak suku bunga acuan yang masih bertahan di level 6,25%. Namun, data Kemenperin menunjukkan tren serupa terjadi di 14 pabrik lain di Jawa Barat, mengindikasikan masalah yang lebih sistemik.

Dampak Berantai pada Tenaga Kerja dan Ekonomi Lokal

Ratusan karyawan yang terkena PHK akan menerima pesangon sesuai aturan, namun dampaknya terasa hingga ke sektor informal. Berdasarkan proyeksi Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi, setiap satu PHK di pabrik besar berpotensi menurunkan pendapatan hingga 5 pedagang kaki lima di sekitar kawasan industri. Ini menambah beban tingkat pengangguran terbuka yang per Februari 2026 tercatat 5,2%, naik tipis dari 5,1% pada Agustus 2025.

Pro: Pemerintah daerah berencana menggelar job fair dan pelatihan ulang (reskilling) bagi pekerja terdampak. Program tersebut menyasar 60% karyawan yang memiliki keterampilan teknis, agar dapat beralih ke sektor logistik atau ekonomi digital. Namun, efektivitas program ini masih diragukan karena minimnya anggaran dan waktu transisi yang sempit.

Sentimen Pasar dan Respons Kebijakan

Sentimen pasar terhadap sektor manufaktur ikut melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sektor industri dasar mencatat penurunan 2,1% dalam sepekan terakhir, sementara capital outflow dari obligasi korporasi mencapai Rp1,2 triliun. Likuiditas perbankan juga mulai ketat, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) manufaktur naik dari 3,4% menjadi 3,9%.

Menperin menegaskan pemerintah akan mempercepat realisasi insentif fiskal berupa pengurangan pajak penghasilan badan untuk industri yang mempertahankan tenaga kerja. "Kami sedang mengkaji relaksasi impor bahan baku dan perpanjangan masa tenggang pembayaran listrik," tambahnya. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa stimulus jangka pendek tidak akan cukup tanpa perbaikan daya saing struktural, seperti efisiensi logistik yang masih 23% lebih mahal dibandingkan Vietnam.

Di sisi lain, penurunan suku bunga The Fed yang diproyeksikan terjadi pada semester kedua 2026 dapat menjadi angin segar. Hal ini berpotensi menstabilkan rupiah dan menurunkan biaya modal. Meski demikian, proyeksi pertumbuhan industri manufaktur tahun ini hanya 3,8%, jauh di bawah target 5% yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Kesimpulannya, PHK di Cimahi adalah cermin dari tekanan ganda: biaya produksi yang tinggi dan permintaan yang lesu. Tanpa kebijakan komprehensif yang menyentuh aspek fiskal, moneter, dan perdagangan, gelombang PHK di sektor manufaktur berisiko berlanjut. Pemerintah perlu bergerak cepat, sementara perusahaan harus melakukan transformasi digital untuk menekan biaya operasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User