Pew Research Center Sebut 92 Persen Warga RI Belum Pernah ke Luar Negeri
Hasil survei terbaru yang dirilis oleh Pew Research Center mengungkapkan data mencengkeram mengenai mobilitas internasional warga di sejumlah negara berkem
Hasil survei terbaru yang dirilis oleh Pew Research Center mengungkapkan data mencengkeram mengenai mobilitas internasional warga di sejumlah negara berkembang. Studi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar populasi di beberapa negara, termasuk Indonesia dan India, belum pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sepanjang hidup mereka. Temuan ini menggambarkan kesenjangan signifikan dalam akses perjalanan global yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan keimigrasian.
1. Rilis Survei Pew Research Center Mengguncang Publik
Pew Research Center, lembaga riset independen yang berbasis di Washington, D.C., baru-baru ini merilis laporan mengenai pola mobilitas penduduk dunia. Survei tersebut dilakukan terhadap ribuan responden di berbagai negara dengan fokus pada pengalaman bepergian ke luar negeri. Dalam konteks global, data ini menarik perhatian karena menunjukkan realitas bahwa perjalanan internasional masih menjadi privilese yang tidak merata. Indonesia tercatat memiliki 92 persen warga yang belum pernah keluar negeri, sementara India mencatat angka yang lebih tinggi lagi, yakni 95 persen. Angka-angka tersebut menempatkan kedua negara tersebut dalam daftar negara dengan tingkat mobilitas internasional terendah.
- September 2022: Pew Research Center mulai mengumpulkan data dari berbagai negara untuk melihat persentase warga yang pernah melakukan perjalanan internasional.
- Analisis Data: Hasil olah data menunjukkan bahwa mayoritas warga di negara-negara berkembang memiliki akses sangat terbatas untuk bepergian ke luar negeri.
- Publikasi Hasil: Laporan akhir dirilis dan langsung menjadi sorotan karena memperlihatkan kesenjangan besar antara negara maju dan berkembang dalam hal mobilitas penduduk.
- Respons Regional: Berbagai pihak di Asia Selatan dan Asia Tenggara merespons temuan ini dengan seruan untuk meningkatkan daya beli dan akses transportasi internasional bagi kelas menengah.
2. Indonesia dan India Mendominasi Daftar Terbawah
Dalam laporan tersebut, India dan Indonesia menjadi dua negara dengan proporsi warga yang belum pernah ke luar negeri terbesar. Sebanyak 95 persen warga India mengaku belum pernah menginjakkan kaki di negara lain, membuatnya berada di posisi teratas dalam kategori ini. Tidak jauh berbeda, Indonesia menempati posisi berikutnya dengan 92 persen warganya yang sama sekali tidak memiliki pengalaman bepergian ke luar negeri. Kondisi ini mencerminkan berbagai tantangan struktural yang dihadapi oleh kedua negara dengan populasi besar tersebut.
Selain kedua negara tersebut, survei serupa dan laporan terkait dari lembaga internasional lainnya menyebutkan bahwa fenomena serupa juga terjadi di beberapa negara berkembang lainnya di Asia dan Afrika. Meskipun laporan Pew Research Center menyoroti India dan Indonesia sebagai contoh paling signifikan, tren ini sebenarnya mencerminkan gambaran lebih besar di mana penduduk di negara dengan ekonomi berkembang masih menjadikan perjalanan domestik sebagai pilihan utama dibandingkan harus mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan internasional.
3. Faktor Ekonomi dan Administrasi Jadi Penghambat Utama
Berbagai pakar menganalisis bahwa faktor utama rendahnya mobilitas warga Indonesia dan India adalah kondisi ekonomi. Biaya perjalanan internasional, termasuk tiket pesawat, akomodasi, dan konsumsi di negara lain, masih terlalu memberatkan bagi sebagian besar keluarga. Di Indonesia, misalnya, Upah Minimum Regional (UMR) yang beragam dan daya beli yang relatif rendah membuat perjalanan ke luar negeri menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh segmen menengah atas.
Selain faktor finansial, kebijakan keimigrasian dan kekuatan paspor juga berperan penting. Indeks paspor Indonesia yang masih menempati posisi menengah membuat warganya memerlukan visa untuk memasuki banyak negara destinasi wisata dan bisnis utama. Proses pengurusan visa yang membutuhkan biaya tambahan dan dokumen yang rumit sering kali menjadi hambatan psikologis dan administratif bagi calon perjalanan pertama. Sementara itu, infrastruktur bandara dan konektivitas penerbangan yang masih terkonsentrasi di wilayah tertentu juga membatasi akses bagi masyarakat di daerah pinggiran.
4. Implikasi Sosial dan Upaya Peningkatan Akses Global
Rendahnya angka perjalanan luar negeri bukan sekadar masalah statistik, tetapi memiliki implikasi sosial dan ekonomi yang lebih luas. Keterbatasan mobilitas internasional dapat mempengaruhi pertukaran budaya, akses terhadap pendidikan global, dan peluang bisnis lintas batas. Banyak pengamat pariwisata menyebut bahwa kebiasaan bepergian ke luar negeri erat kaitannya dengan pembukaan wawasan serta peningkatan daya saing sumber daya manusia di era globalisasi.
Menyikapi kondisi ini, berbagai pihak mulai mendorong upaya untuk meningkatkan akses perjalanan internasional. Di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan program e-paspor untuk mempermudah proses administrasi calon pelancong. Selain itu, maraknya penyedia jasa perjalanan online dengan skema cicilan atau paket hemat menjadi salah satu upaya menurunkan hambatan biaya. Namun demikian, perubahan fundamental dalam hal daya beli dan kebijakan visa diperlukan agar angka 92 persen warga Indonesia yang belum pernah ke luar negeri dapat berkurang secara signifikan di masa mendatang.
Survei Pew Research Center menjadi cermin bahwa meski dunia semakin terhubung melalui teknologi digital, mobilitas fisik antarbangsa masih menjadi tantangan besar bagi miliaran orang di negara berkembang.
[SOCIAL_TWEET]: Survei Pew Research Center: 92% warga Indonesia & 95% warga India belum pernah ke luar negeri. Apa penyebabnya? Baca selengkapnya. ✈️🇮🇩
Comments (0)