LPEM FEB UI Ungkap Lima Jurusan dengan Pengangguran Terbanyak

Antusiasme ribuan pencari kerja memadati setiap sudut GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada gelaran job fair Senin (19/5). Mengenakan kemeja rapi sambil membawa

Aug 12, 2026 - 17:34
0 0
LPEM FEB UI Ungkap Lima Jurusan dengan Pengangguran Terbanyak

Antusiasme ribuan pencari kerja memadati setiap sudut GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada gelaran job fair Senin (19/5). Mengenakan kemeja rapi sambil membawa map berisi ijazah dan sertifikat kompetensi, mereka berharap secercah peluang bisa mengubah nasib. Namun, di balik keramaian itu, tersembunyi data miris yang baru saja diungkap Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Busa pendidikan tinggi kian menggelembung, sementara lapangan kerja tak berkembang secepat jumlah lulusan. Riset terbaru lembaga tersebut menyebut ada lima bidang studi yang menyumbang pengangguran terbanyak di Indonesia.

Temuan Riset yang Menggugah

Berdasarkan hasil kajian LPEM FEB UI, disparitas antara dunia kampus dan kebutuhan industri semakin lebar. Lima bidang studi tertentu mencatat angka pengangguran terbuka paling tinggi dibandingkan rumpun ilmu lainnya. Temuan ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi paradigma lama yang meyakini bahwa gelar sarjana otomatis menjadi jaminan masa depan cerah. Dalam kondisi pasar kerja yang kompetitif dan terbatas, pilihan jurusan ternyata memainkan peran krusial dalam menentukan daya serap lulusan.

Studi tersebut menganalisis data ketenagakerjaan nasional dengan mempertimbangkan rasio pengangguran terbuka antar berbagai disiplin ilmu. Hasilnya, rumpun ilmu sosial, humaniora, dan sejumlah bidang ekonomi memperlihatkan kecenderungan oversupply atau kelebihan pasokan tenaga kerja. Tingkat pengangguran di kelima bidang ini jauh melampaui rata-rata nasional, menciptakan what ekonom sebut sebagai skills mismatch—ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan permintaan dunia usaha.

Jurusan-jurusan di Ujung Tombak

Meski LPEM FEB UI tidak secara eksplisit merinci satu per satu nama jurusan dalam paparannya, data historis dan pola ketenagakerjaan menunjukkan bahwa bidang-bidang studi dengan daya serup rendah umumnya berada pada rumpun tertentu. Ilmu-ilmu sosial, komunikasi, hukum, manajemen konvensional, serta pendidikan dengan spesialisasi sempit kerap mendominasi daftar tersebut. Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Melonjaknya jumlah perguruan tinggi—baik negeri maupun swasta—yang membuka program studi sejenis dengan kapasitas daya tampung besar, tanpa diimbangi kurikulum yang adaptif, menyebabkan banjir lulusan dengan kualifikasi seragam.

"Kita menghadapi krisis yang tidak terlihat oleh banyak orang. Bukan karena lulusannya bodoh, tapi karena apa yang dipelajari di kelas sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri hari ini. Sistem pendidikan kita masih berjalan dengan kecepatan tahun 1990-an, sementara revolusi industri bergerak dengan kecepatan cahaya," ujar seorang pakar ketenagakerjaan yang menanggapi temuan LPEM FEB UI.

Pakar tersebut menambahkan, ironinya, jurusan-jurusan yang dianggap populer dan ramai peminat itulah yang akhirnya memproduksi pengangguran paling banyak. Orang tua dan siswa SMA masih terjebak dalam mitos bahwa jurusan dengan nama bergengsi atau mudah ditemui di kampus-kampus besar secara otomatis menjanjikan karier mapan. Padahal, lapangan kerja untuk profesi konvensional seperti staf administrasi, humas entry level, atau posisi hukum umum sudah sangat jenuh.

Di Balik Angka: Akar Permasalahan

Masalah ketenagakerjaan lulusan perguruan tinggi tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan individu. Struktur pendidikan tinggi Indonesia yang terfragmentasi dan didorong oleh logika bisnis turut menjadi pemicu utama. Banyak program studi dibuka demi mengejar kuota mahasiswa, bukan berdasarkan analisis pasar kerja yang rigor. Akibatnya, lulusan terus membanjiri pasar dengan keterampilan yang monoton, sementara sektor-sektor strategis seperti teknologi informasi, energi terbarukan, dan manufaktur presisi kesulitan mencari talenta lokal yang memadai.

Selain itu, rendahnya integrasi program magang dan kurangnya simulasi lingkungan kerja nyata membuat banyak mahasiswa baru pertama kali menyentuh dunia industri setelah wisuda. Mereka lulus dengan teori yang penuh, namun kosong pengalaman praktis. Di sinilah jurusan-jurusan dengan kurikulum akademik murni dan tanpa jaringan industri kuat kehilangan daya saing. Ketika employer branding perusahaan semakin selektif, lulusan dari program yang tidak memiliki diferensiasi kompetensi akan terdepak lebih dulu.

Jalan Keluar dari Persoalan Ketenagakerjaan

Mengatasi masalah ini membutuhkan perombakan sistemik, bukan sekadar perbaikan citra kampus. LPEM FEB UI menekankan perlunya kebijakan tracer study yang lebih ketat dan transparan, sehingga calon mahasiswa bisa mengakses data riil daya tampung lulusan sebelum memilih jurusan. Perguruan tinggi juga harus berani melakukan kuratorial terhadap program studi yang daya serapnya terus merosot, termasuk mengurangi kuota atau mengalihkan fokus ke spesialisasi yang dibutuhkan pasar.

Di sisi lain, dunia industri perlu membuka lebih banyak jalur apprenticeship yang merata. Jangan sampai kesempatan magang hanya dimonopoli oleh mahasiswa dari segelintir kampus besar atau jurusan teknis. Kesetaraan akses terhadap pengalaman kerja adalah kunci untuk memutus rantai pengangguran. Pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Ketenagakerjaan, bisa memfasilitasi insentif perpajakan bagi perusahaan yang serius menyerap lulusan fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu untuk program on-the-job training.

Angka pengangguran dari lima jurusan terbanyak bukan sekadar statistik dingin di atas kertas; ia adalah wajah dari ribuan orang muda yang kecewa setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan dengan penuh harap. Sebelum gelombang pendaftaran kuliah tahun ajaran baru dimulai, data dari LPEM FEB UI ini semestinya menjadi bahan renasi bagi calon mahasiswa, orang tua, dan penyelenggara pendidikan. Pilihan jurusan adalah investasi jangka panjang, dan tanpa perhitungan matang, bukan mustahil ijazah yang digenggam erat justru akan menjadi tiket masuk ke dalam barisan pengangguran.