JAKARTA — Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, menyampaikan pesan penting kepada jajaran Nahdlatul Ulama (NU) jelang digelarnya Muktamar ke-34. Menurutnya, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak sepatutnya menghabiskan seluruh energi dan perhatian hanya untuk perebutan kursi kepemimpinan.
Said menegaskan bahwa Muktamar semestinya menjadi panggung perumusan gagasan dan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi umat, bukan sekadar arena kompetisi politik internal. Pernyataan ini disampaikannya di tengah ramainya dinamika kaderisasi dan lobi-lobi menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU periode baru.
Pesan kepada Kaum Nahdliyin
Dalam pandangannya, Said Abdullah — yang juga dikenal dekat dengan kalangan ormas Islam — mengingatkan bahwa warisan intelektual dan sosial NU jauh lebih besar daripada sekadar persoalan siapa yang memimpin. Ia berharap para ulama, cendekiawan, dan tokoh muda NU dapat mengarahkan diskusi pada isu-isu strategis seperti penguatan ekonomi umat, pendidikan pesantren, serta peran NU dalam menjaga kebhinekaan bangsa.
"Muktamar sebaiknya tidak habis energinya hanya untuk perebutan kepemimpinan. Arahkan pada persoalan-persoalan besar umat dan bangsa," ujar Said Abdullah.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kredibilitas NU sebagai ormas berbasis ahlussunnah wal jama'ah akan diuji dari kemampuannya menghasilkan kebijakan yang berdampak bagi rakyat kecil, bukan dari besarnya dukungan terhadap kandidat tertentu.
Kronologi Dinamika Menuju Muktamar
Proses menuju puncak acara ini berjalan dengan sejumlah momen penting yang menarik perhatian publik:
- Pembukaan Muktamar — Ribuan wakil wilayah, ulama, dan pengurus tingkat daerah berkumpul untuk membahas arah gerakan NU lima tahun ke depan.
- Debat Konsep — Paparan-paparan konseptual tentang khittah, ekonomi pesantren, dan digitalisasi dakwah menjadi bahan perdebatan sengit di forum sidang.
- Lobi Kepemimpinan — Di balik layar, koalisi-koalisi kewilayahan mulai menggiring dukungan terhadap calon ketua umum, memicu kekhawatiran agenda substantif tergeser.
- Masukan Tokoh Eksternal — Said Abdullah menyuarakan pengingat tersebut, didukung sejumlah tokoh lintas agama dan akademisi yang berharap Muktamar tetap fokus pada substansi.
- Konferensi Pers — Panitia penyelenggara menegaskan komitmennya menjaga kelancaran proses demokrasi internal tanpa meninggalkan agenda pembahasan maklumat kebijakan.
Konteks Politik dan Sosial
Menarik dicatat bahwa suara Said Abdullah datang dari partai politik yang secara historis memiliki relasi kompleks dengan partai-partai Islam. Namun, ia menegaskan bahwa pernyataannya bukan intervensi politik, melainkan bentuk kepedulian warga negara terhadap stabilitas sosial-keagamaan.
Sejumlah pengamat menilai pesan ini relevan mengingat NU memiliki basis anggota puluhan juta orang dan jaringan pesantren di seluruh nusantara. Keputusan-keputusan yang lahir dari Muktamar tidak hanya menyangkut internal ormas, tetapi juga berpengaruh pada arah politik nasional, termasuk sikap terkait isu-isu kontemporer seperti perlindungan lingkungan, moderasi beragama, dan kesejahteraan sosial.
Harapan ke Depan
Ditutup forum pertemuannya, Said berharap seluruh elemen NU dapat kembali pada spirit pendiriannya: membangun negara melalui pendidikan, dakwah, dan amal sosial. Ia yakin apabila energi kolektif difokuskan pada pemberdayaan umat, NU akan semakin kokoh sebagai kekuatan moral bangsa — terlepas dari siapa yang akhirnya menduduki kursi ketua umum.
"Kepemimpinan itu amanah, bukan tujuan. Tujuan utamanya adalah kemajuan umat dan bangsa," tandasnya.
[SOCIAL_TWEET]: Petinggi PDIP ingatkan NU jangan habiskan energi Muktamar hanya demi perebutan kursi. Fokus pada persoalan umat! #NU #PDIP #Muktamar [SOCIAL_TG]: 📢 SAID ABDULLAH: ENERGI MUKTAMAR NU TAK BOLEH HABIS DEMI KURSI — Tokoh PDIP mendorong fokus Muktamar pada persoalan umat, bukan lobi politik. Detail di artikel.
Comments (0)