Peternak Rakyat Terhimpit Biaya Pakan, Desak Pemerintah Turun Tangan
Industri perunggasan nasional tengah dihadapkan pada tekanan ganda yang menggerus daya hidup peternak rakyat. Di satu sisi, biaya produksi terus menanjak tanpa kendali, sementara di sisi lain harga ju...
Industri perunggasan nasional tengah dihadapkan pada tekanan ganda yang menggerus daya hidup peternak rakyat. Di satu sisi, biaya produksi terus menanjak tanpa kendali, sementara di sisi lain harga jual ayam di tingkat peternak masih jauh dari stabil. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha kecil menengah di sektor peternakan ayam mandiri menjerit dan mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret.
Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Kusnan, mengungkapkan bahwa beban terberat saat ini bersumber dari mahalnya pakan ternak dan bibit ayam umur sehari atau day old chick (DOC). Menurutnya, kedua komponen tersebut mengambil porsi paling besar dalam struktur biaya produksi, sehingga setiap kenaikan langsung memukul margin keuntungan peternak. "Kami tidak bisa lagi menahan beban ini sendiri," ujarnya dalam sebuah pernyataan yang merepresentasikan keresahan ribuan peternak di berbagai daerah.
Tekanan Biaya Produksi yang Mencekik
Komponen pakan ternak menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total ongkos produksi ayam broiler. Kenaikan harga bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedelai di pasar global telah merambat ke harga pakan jadi di dalam negeri. Sejak awal tahun, harga pakan tercatat melonjak signifikan, bahkan di beberapa wilayah harganya menembus Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram, padahal tahun sebelumnya masih berada di kisaran Rp 7.000. Lonjakan ini dipicu oleh gangguan rantai pasok, tingginya harga bahan baku impor, serta minimnya ketersediaan jagung lokal berkualitas yang menjadi pakan alternatif.
Selain pakan, harga DOC juga tidak kalah memberatkan. Kusnan menyebut bahwa harga DOC saat ini masih tinggi dan cenderung tidak sejalan dengan daya beli peternak kecil. Padahal, DOC adalah titik awal dari siklus produksi; jika harga bibit sudah mahal, peternak akan kesulitan memperoleh keuntungan meskipun harga jual ayam hidup sedang baik. Banyak peternak yang terpaksa mengurangi volume produksi atau bahkan berhenti beroperasi untuk sementara waktu.
Harga Jual Ayam yang Belum Pasti
Di tengah ongkos produksi yang membengkak, harga ayam hidup di tingkat peternak justru bergerak liar. Fluktuasi harga yang tajam membuat perencanaan usaha menjadi sulit. Kusnan menjelaskan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, harga ayam di kandang bisa anjlok hingga di bawah Rp 16.000 per kilogram—jauh dari titik impas yang dibutuhkan peternak. Kondisi ini diperburuk oleh lemahnya daya serap pasar, terutama saat permintaan dari rumah tangga dan industri pengolahan menurun.
Ketidakstabilan harga ini sering kali disebabkan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di pasar. Ketika produksi melimpah sementara konsumsi tidak bertumbuh, harga langsung tertekan. Sebaliknya, ketika stok menyusut, harga bisa melonjak dalam waktu singkat. Namun, lonjakan harga di tingkat konsumen tidak selalu dinikmati peternak karena rantai distribusi yang panjang dan maraknya permainan spekulan.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Tekanan multidimensional ini tidak hanya berdampak pada neraca keuangan peternak, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional. Banyak peternak kecil yang terpaksa merugi, menjual aset produktif, atau beralih ke usaha lain. Akibatnya, kapasitas produksi nasional terancam menyusut, yang pada gilirannya bisa memicu lonjakan harga ayam di masa mendatang karena pasokan berkurang.
Di sisi tenaga kerja, sektor peternakan rakyat menyerap jutaan pekerja, mulai dari peternak, buruh kandang, hingga pedagang kecil. Jika usaha ini terus terhimpit, gelombang pemutusan hubungan kerja dan penurunan pendapatan rumah tangga di pedesaan tidak bisa dihindari. Padahal, sektor ini selama ini menjadi penyangga ekonomi lokal di banyak daerah.
Desakan kepada Pemerintah
Menghadapi situasi pelik ini, Permindo melalui Kusnan mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain: pengendalian harga jagung dan kedelai sebagai bahan baku pakan melalui operasi pasar dan penugasan Bulog, pengaturan harga acuan DOC agar tidak membebani peternak kecil, serta stabilisasi harga ayam hidup di tingkat peternak melalui kebijakan tataniaga yang lebih adil.
"Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat. Bukan hanya janji, tetapi aksi nyata," tegas Kusnan. Ia juga mendorong agar pemerintah memperkuat cadangan pakan nasional dan mempercepat distribusi jagung lokal ke sentra peternakan. Selain itu, diperlukan pengawasan ketat terhadap praktik kartel di industri pakan dan perunggasan yang kerap kali mendistorsi harga.
Di tengah tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah, tentu tidak mudah untuk memenuhi semua tuntutan secara langsung. Namun, setidaknya ada sejumlah opsi kebijakan yang dapat ditempuh, seperti relaksasi tarif impor bahan baku pakan tertentu, subsidi ongkos angkut untuk distribusi pakan ke daerah terpencil, hingga pemberian kredit usaha dengan bunga rendah bagi peternak yang terdampak.
Para peternak berharap agar momentum Ramadhan dan Idulfitri dapat dimanfaatkan untuk memulihkan daya beli dan menyerap kelebihan pasokan. Mereka juga meminta agar pemerintah menjamin stabilitas harga di tingkat produsen sehingga tidak kembali terpuruk setelah periode permintaan tinggi usai. Tanpa intervensi yang tepat, jurang kerugian akan semakin dalam dan mimpi peternak rakyat untuk mandiri akan semakin jauh dari kenyataan.
Comments (0)