Perumnas Bangun Hunian Vertikal Samesta Alonia di Tengah Backlog Perumahan Tinggi

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) per 2023, backlog perumahan nasional masih berada di kisaran 12,7 juta unit, dengan konsentrasi terbesar di kawasan perkotaan, t...

Aug 10, 2026 - 07:53
0 0
Perumnas Bangun Hunian Vertikal Samesta Alonia di Tengah Backlog Perumahan Tinggi

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) per 2023, backlog perumahan nasional masih berada di kisaran 12,7 juta unit, dengan konsentrasi terbesar di kawasan perkotaan, termasuk Jabodetabek. Merespons kondisi tersebut, Perum Perumnas resmi memulai pembangunan hunian vertikal subsidi Samesta Alonia di Jakarta. Proyek ini dirancang untuk memperluas akses hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sekaligus menandai pergeseran strategi penyediaan perumahan dari pola horizontal ke vertikal di tengah keterbatasan lahan ibu kota.

Langkah Perumnas tersebut sejalan dengan agenda pemerintah melalui program 3 juta rumah per tahun, yang menjadikan sektor perumahan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi. Data Kementerian PUPR menunjukkan realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2024 menembus sekitar 166.000 unit, sementara target 2025 dinaikkan menjadi lebih dari 350.000 unit. FLPP merupakan skema dukungan dana pemerintah kepada perbankan agar dapat menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi dengan bunga tetap 5 persen dan uang muka mulai 1 persen.

Detail Proyek dan Sasaran Penghuni

Samesta Alonia merupakan hunian vertikal bersubsidi yang menyasar segmen MBR perkotaan. Berdasarkan ketentuan Kementerian PUPR, batas penghasilan penerima KPR Sejahtera untuk hunian susun adalah maksimal Rp7 juta per bulan, lebih tinggi dibanding rumah tapak yang dibatasi Rp4 juta. Kebijakan ini mencerminkan penyesuaian terhadap struktur upah di kota besar, mengingat upah minimum provinsi DKI Jakarta 2025 berada di level Rp5,39 juta.

Dari sisi lokasi, hunian vertikal di Jakarta memiliki keunggulan kedekatan dengan pusat kegiatan ekonomi dan simpul transportasi publik. Bagi MBR, biaya transportasi merupakan komponen pengeluaran terbesar kedua setelah pangan, sehingga hunian yang dekat tempat kerja secara langsung memperbaiki rasio pengeluaran rumah tangga dan meningkatkan daya beli riil.

Di Satu Sisi: Efisiensi Lahan dan Efek Pengganda Ekonomi

Di satu sisi, model hunian vertikal dipandang sebagai jawaban paling rasional atas kelangkaan lahan. Harga tanah di Jakarta yang terus mengalami kenaikan membuat rumah tapak bersubsidi nyaris mustahil dibangun di dalam kota. Dengan membangun ke atas, kebutuhan lahan per unit dapat ditekan hingga 60-70 persen dibanding rumah tapak, sehingga harga jual tetap terjangkau sesuai batasan harga rumah subsidi yang ditetapkan pemerintah.

Dari perspektif makroekonomi, sektor perumahan memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar karena terhubung dengan lebih dari 170 subsektor industri turunan, mulai dari semen, baja, keramik, hingga jasa konstruksi. Data BPS mencatat sektor konstruksi tumbuh di kisaran 7 persen year-on-year pada 2024, dan peningkatan aktivitas pembangunan perumahan berpotensi memperkuat tren tersebut sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.

"Hunian vertikal bersubsidi berpotensi menjadi instrumen efektif untuk menekan backlog perumahan perkotaan, sepanjang tata kelola pemeliharaan dan keberlanjutan pembiayaannya dirancang secara matang sejak awal," demikian pandangan yang berkembang di kalangan ekonom properti.

Di Sisi Lain: Risiko Pemeliharaan dan Daya Serap Pasar

Di sisi lain, pengalaman sejumlah proyek rumah susun di berbagai kota menunjukkan tantangan yang tidak sederhana. Biaya pemeliharaan bangunan vertikal, meliputi lift, instalasi listrik, dan pengelolaan air bersih, memerlukan iuran rutin yang dapat membebani penghuni MBR. Jika tata kelola tidak berjalan baik, kualitas bangunan berisiko mengalami penurunan dalam lima hingga sepuluh tahun pertama, yang pada gilirannya menekan nilai aset penghuni.

Tantangan lain datang dari sisi permintaan. Preferensi sebagian masyarakat Indonesia masih condong ke rumah tapak, sehingga daya serap hunian vertikal perlu dikawal melalui edukasi pasar. Dari sisi pembiayaan, ketergantungan pada dana FLPP membuat kelancaran proyek sensitif terhadap kapasitas fiskal. Apabila likuiditas perbankan mengetat atau alokasi anggaran subsidi terlambat dicairkan, penyaluran KPR subsidi berpotensi tersendat dan menghambat serapan unit.

Proyeksi ke Depan

Dengan BI Rate per awal 2025 berada di level 5,75 persen, ruang bagi penurunan suku bunga KPR komersial relatif terbatas, sehingga skema subsidi tetap menjadi tulang punggung pembiayaan hunian MBR. Fundamental permintaan perumahan yang ditopang bonus demografi dan urbanisasi, dengan laju pertumbuhan penduduk perkotaan sekitar 2 persen per tahun, memberikan prospek jangka panjang yang solid bagi segmen ini.

Namun, keberhasilan Samesta Alonia pada akhirnya akan diukur dari dua hal: kecepatan penyelesaian konstruksi dan tingkat huni pascaserah terima. Bagi pelaku industri properti, proyek ini menjadi indikator awal apakah model hunian vertikal bersubsidi dapat direplikasi ke kota-kota besar lain, atau justru memerlukan penyesuaian desain kebijakan yang lebih mendalam. Sentimen pasar terhadap sektor konstruksi dan properti diperkirakan tetap berhati-hati, menunggu bukti eksekusi di lapangan sebelum memasukkan proyeksi permintaan baru ke dalam valuasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User